Optimalkan Potensi PLTA Dalam Negeri, PLN Nusantara Power Andalkan Teknologi AI

PLTA Mendalan di Kabupaten Malang merupakan salah satu PLTA peninggalan masa penjajahan yang dikelola PLN Nusantara Power UP Brantas. UP Brantas mengelola 13 PLTA mencakup 28 unit pembangkit di lima kabupaten di Jawa Timur, Indonesia, dengan total kapasitas terpasang sebesar 291,54 MW. (foto PLN NP).

INVESTORJATIM.COM – Upaya mewujudkan swasembada energi tidak hanya dilakukan dengan membangun pembangkit baru, tetapi juga mengoptimalkan sumber energi yang sudah dimiliki Indonesia. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kinerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Langkah ini dilakukan PT PLN Nusantara Power (PLN NP) melalui penerapan Nusantara Control Center (NuCC) di Unit Pembangkitan (UP) Brantas, Jawa Timur. Teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional, menjaga keandalan pembangkit, serta memaksimalkan pemanfaatan energi air sebagai sumber energi terbarukan dalam negeri.

Upaya tersebut mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan Silver kategori Sustainable Renewable Energy Initiative of the Year dalam ajang Asian Power Awards 2026. Penghargaan itu diserahkan di InterContinental Kuala Lumpur, Malaysia, pada 15 Oktober 2026.

Baca Juga:  PLN Nusantara Power Perkuat Bauran Energi Bersih lewat PLTS Terapung dan Proyek Hijau

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan, optimalisasi aset pembangkit yang sudah tersedia menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“Transisi energi membutuhkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada penambahan kapasitas, tetapi juga pada bagaimana kita memaksimalkan potensi energi bersih yang sudah tersedia. Melalui teknologi digital dan AI, PLN Nusantara Power terus meningkatkan efisiensi, menjaga keandalan pembangkit, serta mengoptimalkan manfaat aset yang kami kelola bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Ruly.

Di Jawa Timur, UP Brantas mengelola 13 PLTA yang terdiri atas 28 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 291,54 megawatt (MW). Sejumlah pembangkit tersebut telah beroperasi selama empat hingga lima dekade.

Usia pembangkit yang tidak lagi muda menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga keandalan peralatan, mengatur jadwal pemeliharaan, dan memastikan ketersediaan suku cadang. Karena itu, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara untuk memperpanjang manfaat aset sekaligus menjaga pasokan listrik.

Melalui NuCC, PLN NP mengintegrasikan pemantauan dan pengoperasian pembangkit dengan analisis data, teknologi Internet of Things (IoT), serta sistem pemeliharaan prediktif. Sistem ini didukung HydroOpt untuk mengoptimalkan pemanfaatan air dan HydroBot yang membantu operator mengenali kondisi pembangkit serta mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat.

Baca Juga:  PLN NP Ganti Nama Ajang Tahunan Nusantara Power Connect Jadi Electricity Connect

Dengan dukungan teknologi tersebut, potensi gangguan dapat diantisipasi lebih awal, waktu henti pembangkit ditekan, dan penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien. Hasilnya, sepanjang 2025, UP Brantas mencatat Equivalent Availability Factor (EAF) sebesar 98,12 persen dan Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) sebesar 0,03 persen. Biaya operasi dan pemeliharaan juga berhasil ditekan sekitar 66 persen.

Capaian itu menunjukkan bahwa penguatan pasokan energi tidak selalu bergantung pada penambahan pembangkit baru. Peningkatan kinerja fasilitas yang sudah ada juga dapat membantu menjaga ketersediaan listrik sekaligus menekan biaya operasional.

Dari sisi produksi, PLTA UP Brantas menghasilkan sekitar 1.480 gigawatt-jam (GWh) energi bersih sepanjang 2025. Produksi tersebut turut berkontribusi pada penghindaran emisi sekitar 1,42 juta ton karbon dioksida (CO₂) per tahun.

Optimalisasi pemanfaatan air, termasuk melalui dukungan teknologi modifikasi cuaca, juga menjadi bagian dari upaya menjaga produksi listrik dari sumber energi terbarukan. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi air dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mendukung kebutuhan energi.

Baca Juga:  PLN NP Gandeng WWF dan Kementerian Hijaukan Hulu Ciliwung

Ke depan, PLN NP berupaya memperluas penerapan teknologi digital ke aset PLTA lainnya di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja pembangkit, memperkuat keandalan pasokan listrik, dan mendorong pemanfaatan sumber energi dalam negeri secara lebih efisien.

Optimalisasi PLTA melalui teknologi menjadi salah satu langkah untuk memperkuat fondasi swasembada energi. Dengan memaksimalkan potensi energi air yang tersedia dan meningkatkan kinerja pembangkit yang telah beroperasi, Indonesia dapat memperkuat pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang lebih berisiko terhadap perubahan harga dan ketersediaan pasokan global. (onny)

Komentar