
INVESTORJATIM.COM — Universitas Airlangga (UNAIR) dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Preliminary Discussion D-8 Youth Dialogue bertema “Navigating Uncertainty, Building Resilience” dalam rangka Keketuaan Indonesia di D-8 periode 2026–2027. Kegiatan yang difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia tersebut berlangsung di Hall Majapahit, Gedung ASEEC Lantai 5, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR,.
Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan pemerintah, akademisi, korps diplomatik negara anggota D-8, hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Dialog tersebut menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan terkait berbagai tantangan global serta memperkuat peran generasi muda dalam membangun ketahanan di sektor-sektor penting.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development (RICD) UNAIR, Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes SpPDKGEH PhD FINASIM, mengatakan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian.
Menurutnya, berbagai tantangan seperti dinamika geopolitik, ketahanan pangan, hingga ketahanan energi memerlukan respons kolektif dari berbagai pihak, termasuk generasi muda sebagai agen perubahan masa depan.
“Ketidakpastian geopolitik, tantangan ketahanan pangan, dan ketahanan energi membutuhkan respons bersama dari berbagai pihak. Generasi muda memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut,” ujarnya dalam sambutan pembukaan, Rabu, 3/6/2026.
Prof Miftah menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam memfasilitasi dialog lintas sektor sekaligus menghasilkan solusi berbasis riset untuk menjawab berbagai persoalan global yang semakin kompleks.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun ketahanan yang berkelanjutan di masa depan.
“UNAIR akan terus mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam menjawab tantangan masa depan,” katanya.
Selain isu ketahanan pangan, Prof Miftah juga menyoroti pentingnya ketahanan energi sebagai salah satu fondasi utama pembangunan nasional dan global. Ia menjelaskan bahwa sektor energi memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas sosial, pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, aktivitas industri, hingga sektor transportasi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menghadirkan inovasi yang mampu mendukung pembangunan berkelanjutan. Berbagai terobosan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), model bisnis hijau, hingga sistem digital yang efisien terus berkembang berkat kontribusi para peneliti muda, insinyur, pelaku startup, dan wirausahawan muda.
Melalui forum D-8 Youth Dialogue ini, UNAIR berharap dapat mendorong lahirnya berbagai gagasan solutif yang tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi negara-negara anggota D-8 dalam menghadapi tantangan global.
Prof Miftah berharap diskusi tersebut mampu memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi internasional, khususnya dalam isu ketahanan pangan dan energi yang saat ini menjadi perhatian dunia.
“Saya berharap diskusi ini dapat melahirkan ide-ide yang berkontribusi pada penguatan peran Indonesia, khususnya dalam isu ketahanan pangan dan ketahanan energi di tingkat global,” pungkasnya. (Onny)














Komentar