
INVESTORJATIM.COM – Di tengah polemik reklamasi Kenjeran yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian masyarakat, sebuah cerita lain coba dihadirkan di atas panggung.
Bukan sekadar soal proyek pembangunan, lingkungan, atau keresahan nelayan, isu tersebut dirangkai menjadi kisah cinta dalam pertunjukan teater “Awal dan Mira”.
Teater garapan Teater Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu dipentaskan di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Sabtu (22/8/2026). Pementasan tersebut menjadi pertunjukan kelima dalam Program Manajemen Talenta Teater Tradisi 2026.
Disutradarai Yoga Yan Wardana, “Awal dan Mira” merupakan saduran dari naskah yang sudah ada. Namun, naskah tersebut kemudian diolah kembali dengan memasukkan isu reklamasi Kenjeran serta budaya lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Surabaya.
“Jadi naskah ini kami sadur kembali dengan isu-isu yang kekinian dan kami dekatkan dengan kebudayaan arek. Isunya sendiri kami mengangkat tentang reklamasi yang ada di Kenjeran,” ujar Yoga.
Menyusuri Kampung Nelayan
Cerita tentang reklamasi tidak begitu saja lahir dari ruang latihan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih dekat dengan persoalan di lapangan, tim mendatangi kampung nelayan di kawasan Kenjeran.
Di sana, mereka mendengar langsung keresahan, tuntutan, sekaligus harapan para nelayan terkait rencana reklamasi.
“Kami ke kampung nelayan dan di sana mereka menyampaikan keluh kesah, seperti tuntutan-tuntutan nelayan, harapan-harapan nelayan agar proyek ini jangan sampai terjadi,” kata Yoga.
Bagi Yoga, persoalan reklamasi Kenjeran bukan isu baru. Perdebatan mengenai rencana tersebut telah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum menemukan titik temu.
“Isu reklamasi ini sudah lama sekali, dari zamannya Presiden sebelumnya, Presiden RI yang nomor tujuh, hingga saat ini belum menemukan titik temunya,” ujarnya.
Keresahan tersebut kemudian menjadi bahan untuk membangun konflik dalam cerita.
Namun, membawa isu yang sudah dikenal masyarakat ke atas panggung bukan perkara mudah. Tim tidak ingin pertunjukan hanya menjadi pemindahan persoalan reklamasi dari dunia nyata ke panggung teater.
Karena itu, isu tersebut dikemas melalui konflik antartokoh, unsur romantisme, serta pendekatan artistik agar cerita tetap memiliki daya tarik bagi penonton.
Pertunjukan berdurasi sekitar 75-80 menit itu melibatkan 12 pemain. Dua di antaranya sekaligus memainkan peran sebagai pemusik.
Reklamasi Dibungkus Kisah Cinta
Salah satu elemen penting dalam “Awal dan Mira” adalah sebuah warung.
Dalam naskah aslinya, warung tersebut berada di tengah reruntuhan akibat perang. Yoga kemudian mengubah latarnya menjadi warung yang berada di sekitar kawasan proyek reklamasi.
Dari tempat itulah persoalan reklamasi dipertemukan dengan kisah dua manusia yang kemudian menjalin hubungan.
“Awal dan Mira itu adalah romantisme yang isu ini dibalut dengan romantisme itu sendiri. Jadi reklamasi ini yang kami balut dengan romantisme,” ujar Yoga.

Pendekatan tersebut menjadi cara tim untuk melihat isu reklamasi dari sudut yang berbeda. Konflik mengenai ruang hidup masyarakat tidak hanya menjadi persoalan sosial dan lingkungan, tetapi juga menjadi latar bagi hubungan antar manusia.
Pertunjukan juga diperkuat dengan tata panggung dan teknologi mapping. Namun, keterbatasan perangkat dan sumber daya menjadi salah satu tantangan dalam proses produksi.
Lokalitas Menjadi Kekuatan
Konsep yang mengangkat persoalan lokal menjadi salah satu perhatian dalam Program Manajemen Talenta Teater Tradisi 2026.
Kurator program, Denny Tri Aryanti dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), mengatakan proses kurasi sejak awal diarahkan untuk mencari kelompok yang mampu membawa identitas daerah masing-masing ke atas panggung.
Dari sekitar 15 kelompok yang mengikuti seleksi, jumlahnya disaring menjadi 10 kelompok untuk mengikuti workshop. Setelah itu, kembali dipilih enam kelompok yang mengikuti program lebih lanjut.
“Dari awal kami melakukan kurasi. Ada sekitar 15 kelompok, kemudian kami pilih menjadi 10. Setelah 10 masuk ke workshop, kemudian kami pilih lagi menjadi enam,” ujar Denny.
Keenam kelompok tersebut kemudian mengikuti master class yang mencakup penyutradaraan, artistik, hingga keaktoran.
Menurut Denny, setiap kelompok didorong untuk mengangkat persoalan atau kebudayaan yang menjadi ciri khas daerahnya.
“Yang dibutuhkan oleh Manajemen Talenta Teater tahun 2026 ini adalah bagaimana kelompok-kelompok atau komunitas-komunitas ini membawa ciri khas atau lokalitas daerah masing-masing,” katanya.
Hasilnya, tema yang dibawa setiap kelompok pun beragam. Ada yang mengangkat perubahan iklim, tradisi Sandur, ludruk, hingga persoalan tambang.
Sementara Teater Sendratasik Unesa memilih Kenjeran dan isu reklamasi sebagai pijakan ceritanya.
“Kalau bilang Kenjeran kan pasti, ‘Oh, Surabaya’. Dan kemudian ada kasus reklamasi itu yang kemudian diangkat oleh teman-teman,” ujar Denny.
Dari Konflik Lingkungan Menjadi Pertemuan Dua Insan
Bagi Denny, pilihan tersebut justru menjadi menarik karena tim tidak menghadirkan reklamasi semata-mata sebagai persoalan lingkungan.
“Kami penasaran, apa sesuatu yang berbeda yang akan mereka bawa nanti di atas panggung atas kasus reklamasi ini,” ujarnya.
Jawabannya hadir melalui kisah Awal dan Mira. Persoalan reklamasi menjadi latar yang mempertemukan dua tokoh hingga akhirnya mereka menjalin hubungan asmara.
“Jadi mereka melihat dari sudut pandang bagaimana reklamasi itu kemudian mempertemukan dua insan dengan kasus-kasus itu. Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih,” tutur Denny.
Dengan cara itu, “Awal dan Mira” mencoba melihat Kenjeran dari sisi yang lebih manusiawi. Reklamasi tidak hanya menjadi cerita tentang pembangunan dan lingkungan, tetapi juga tentang masyarakat, ruang hidup, konflik, dan hubungan antar manusia.
Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur Dedy Haryono mengatakan, pementasan tersebut merupakan bagian dari Program Manajemen Talenta Teater Tradisi yang didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kebudayaan.
Menurut Dedy, program tersebut menjadi ruang bagi para seniman untuk mengembangkan karya sekaligus mengenalkan kembali kesenian dan budaya Jawa Timur kepada masyarakat.
“Melalui program tersebut, para seniman juga mendapat kesempatan mengembangkan karya sekaligus memperkenalkan kesenian Jawa Timur kepada masyarakat,” kata Dedy. (onny)








Komentar