
INVESTORJATIM.COM – Gedung Cak Durasim, Surabaya, kembali menjadi ruang lahirnya karya-karya teater berkualitas. Kali ini, panggung tersebut menghadirkan Tumbang Tambang, pertunjukan teater eksperimental garapan Komunitas Teater Bengkel Seni Ujung Sidoarjo yang mengangkat sisi kemanusiaan para pekerja tambang, sebuah sudut pandang yang selama ini kerap tenggelam di balik isu kerusakan lingkungan.
Pementasan yang digelar Sabtu (25/7/2026) itu merupakan pertunjukan ketiga dalam rangkaian Program Manajemen Talenta Teater Tradisi yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan melalui UPT Taman Budaya Jawa Timur.
Sutradara pertunjukan, Oki Tama, mengatakan isu pertambangan selama ini lebih banyak dilihat dari dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Padahal, para pekerja tambang juga menghadapi pergulatan hidup yang tak kalah berat, mulai dari mempertaruhkan nyawa hingga mengejar kesejahteraan keluarga.
“Kami ingin menghadirkan suara para pekerja tambang, karena mereka juga punya hak untuk menyuarakan apa yang mereka rasakan. Ada dilema antara kerusakan lingkungan, jaminan hidup dan mati, hingga persoalan kesejahteraan,” ujarnya.
Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam tersebut melibatkan 13 pemain yang memerankan dua kelompok, yakni penambang legal dan ilegal. Kedua karakter itu dipertemukan untuk menggambarkan kompleksitas persoalan yang dihadapi para pekerja tambang tanpa menghakimi salah satu pihak.
Menurut Oki, Tumbang Tambang dihadirkan sebagai ruang refleksi agar publik tidak hanya melihat persoalan tambang dari sisi kerusakan alam, tetapi juga menyadari bahwa ada nyawa para pekerja yang dipertaruhkan setiap hari.
“Fokusnya bukan hanya pada kerusakan lingkungan, tetapi juga pada nyawa para pekerja tambang yang setiap hari dipertaruhkan,” katanya.
Mengusung gaya teater eksperimental surealis, pertunjukan ini tidak bergantung pada dialog semata. Para aktor menyampaikan pesan melalui eksplorasi tubuh, jeritan, musik, dan bahasa gerak yang merepresentasikan kehidupan di lorong-lorong bawah tanah. Pendekatan artistik tersebut menghadirkan pengalaman emosional sekaligus mengajak penonton merenungkan sisi kemanusiaan di balik aktivitas pertambangan.

Sementara itu, Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur Dedy Haryono mengatakan pementasan tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan yang panjang. Seluruh peserta harus melalui tahapan open call, workshop, master class, hingga lolos kurasi sebelum mendapatkan kesempatan tampil di Gedung Cak Durasim.
Menurutnya, seniman yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian program akan masuk dalam basis data UPT Taman Budaya Jawa Timur dan diusulkan ke basis data Kementerian Kebudayaan sebagai bagian dari pembinaan talenta seni nasional.
“Seniman yang berhasil melalui seluruh tahapan ini akan masuk ke database Taman Budaya Jawa Timur dan juga kami kirim ke Kementerian Kebudayaan sebagai seniman yang telah mengikuti proses pembinaan secara berjenjang,” ujarnya.
Dedy menegaskan Taman Budaya Jawa Timur memberikan kebebasan kepada setiap kelompok untuk mengeksplorasi konsep artistik, termasuk memanfaatkan ruang di luar gedung pertunjukan. Namun, kebebasan tersebut tetap dibarengi proses kurasi yang ketat.
“Silakan berkreasi sebebas mungkin. Tetapi syaratnya harus lolos tahapan kurasi agar kualitas pertunjukan tetap terjaga,” katanya.
Proses kurasi dilakukan oleh tiga mentor yang berasal dari kalangan akademisi sekaligus praktisi seni, yakni Luhur dari Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, dosen teater STKW Deni, serta dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Joko Winarco yang memperkuat aspek musikal dalam pertunjukan teater.
Tak hanya menilai hasil akhir, tim kurator juga mendatangi langsung sanggar peserta untuk memantau perkembangan latihan dan memberikan masukan terhadap konsep yang disiapkan.
“Perkembangannya sangat pesat. Kurator datang langsung ke sanggar untuk melihat progres latihan dan penyempurnaan konsep sebelum mereka tampil,” ujar Dedy.
Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukkan program ini pun terus meningkat. Pada pementasan ketiga, dengan judul Tumbang Tambang ini kapasitas Gedung Cak Durasim yang mencapai sekitar 500 kursi kembali dipenuhi penonton. Bahkan, Taman Budaya Jawa Timur menyiapkan layar di area pendopo untuk mengakomodasi masyarakat yang tidak kebagian tempat di dalam gedung.
“Kami bersyukur antusias masyarakat sangat tinggi. Namun, faktor keamanan dan kenyamanan penonton tetap menjadi prioritas dalam penyelenggaraan pertunjukan,” tutup Dedy. (Onny)














Komentar