
INVESTORJATIM.COM — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu bertransformasi menjadi daya tarik global sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif daerah. Ajang budaya tahunan tersebut dinilai tidak hanya memperkuat identitas budaya Banyuwangi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi berbagai sektor usaha.
Khofifah bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Indonesia Zita Anjani secara resmi membuka BEC 2026 di Jalan Veteran, Taman Blambangan, Banyuwangi. Ribuan masyarakat serta wisatawan domestik dan mancanegara memadati lokasi untuk menyaksikan karnaval budaya yang telah memasuki penyelenggaraan ke-14 tersebut.
Menurut Khofifah, BEC berhasil mengangkat kekayaan budaya lokal menjadi atraksi berkelas internasional melalui perpaduan tradisi, inovasi, dan kreativitas masyarakat Banyuwangi.
“Kita bisa melihat semangat from local to global begitu kental disajikan dalam kekuatan budaya, kekuatan inovasi, dan kreativitas masyarakat Banyuwangi yang dikemas lewat Banyuwangi Ethno Carnival,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu, 19/7/2026
Khofifah mengatakan penyelenggaraan BEC juga menjadi contoh implementasi kolaborasi pentahelix, yakni sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, budayawan, serta pelaku industri kreatif. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi modal penting dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya secara berkelanjutan.
“Tentu kami berharap ini menjadi penguat sinergi pentahelix di Banyuwangi, Jawa Timur, hingga tingkat nasional,” katanya.
Mengusung tema “Perang Bayu: The Great War of Blambangan”, BEC 2026 mengangkat salah satu peristiwa penting dalam sejarah Kerajaan Blambangan. Melalui parade kostum, seni pertunjukan, musik, dan koreografi, sejarah Perang Bayu dikemas secara kreatif agar lebih mudah dipahami generasi muda.
Khofifah menilai sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, melainkan sumber nilai yang membentuk identitas masyarakat. Karena itu, pelestarian budaya perlu dilakukan melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ia menambahkan setiap kostum yang ditampilkan merupakan hasil riset, kreativitas, dan keterampilan para desainer serta seniman lokal. Menurutnya, karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat diolah menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai edukasi, estetika, sosial, sekaligus ekonomi.
“Warisan sejarah dan budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diolah menjadi karya yang bernilai ekonomi. Inilah kekuatan ekonomi kreatif yang harus terus dikembangkan,” ujarnya.
Khofifah menilai konsistensi penyelenggaraan BEC telah memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah. Selain menguntungkan pelaku seni, kegiatan tersebut juga mendorong peningkatan aktivitas UMKM, sektor kuliner, perhotelan, transportasi, jasa perjalanan wisata, fotografer, hingga desainer lokal.
Menurutnya, keberhasilan BEC memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu destinasi budaya unggulan di Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing Jawa Timur dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Saya berharap Banyuwangi Ethno Carnival terus menjadi ruang yang mempererat persaudaraan, meningkatkan apresiasi terhadap sejarah dan budaya, serta memperkuat posisi Banyuwangi dan Jawa Timur sebagai destinasi budaya dan ekonomi kreatif yang membanggakan,” katanya.
Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Indonesia Zita Anjani memberikan apresiasi atas konsistensi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mengembangkan BEC. Menurutnya, penyelenggaraan BEC telah menjadi acuan bagi daerah lain dalam menggelar festival budaya berskala nasional maupun internasional.
“Ini merupakan contoh dan arah kompas ketika kita ingin menyelenggarakan event karnaval. Banyuwangi adalah kiblatnya. Saya mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan Banyuwangi Ethno Carnival 2026,” ujar Zita.(Onny)








Komentar