TPS–TTL Gandeng ALFI Jatim, Benahi Kepadatan Pelabuhan hingga Pangkas Dwelling Time

dari kiri ke kanan Didik Kurniawan, Senior Manager Operasi Terminal TPS, Hardono (Balai Karantina, Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur), Navy Zawariq (Kepala Humas Bea Cukai Tanjung Perak), Pierre Rochel (GM TTL) dan Husni, Waketum ALFI Jatim.jpg 8,93MB 5000x2813px

INVESTORJATIM.COM – Upaya memperkuat efisiensi logistik nasional terus dilakukan pelaku industri kepelabuhanan. Di tengah meningkatnya arus barang dan tuntutan layanan yang semakin cepat, kolaborasi antarpemangku kepentingan dinilai menjadi kunci menjaga kelancaran operasional sekaligus meningkatkan daya saing pelabuhan nasional.

Langkah itu dilakukan PT Terminal Petikemas Surabaya bersama PT Terminal Teluk Lamong dan Subholding Pelindo Terminal Petikemas melalui forum Coffee Morning bersama DPW ALFI/ILFA Jawa Timur di Arcadia Hotel Surabaya, Rabu (20/5).

Forum tersebut menjadi wadah untuk menyerap voice of customer sekaligus memperkuat komunikasi dan sinergi lintas sektor demi menciptakan sistem operasional kepelabuhanan yang lebih terintegrasi, efisien, dan adaptif terhadap dinamika industri logistik.

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, mengatakan peningkatan kualitas layanan terminal petikemas tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurutnya, keterlibatan seluruh ekosistem logistik menjadi faktor penting untuk mempercepat tercapainya target pelayanan dan efisiensi operasional.

Baca Juga:  Pelindo Terminal Petikemas Siap Layani Bongkar Muat Peti Kemas Selama Lebaran 2025

“Pelabuhan merupakan ekosistem yang melibatkan banyak pihak. Karena itu, peningkatan layanan membutuhkan kolaborasi dan komunikasi yang kuat antara operator, pengguna jasa, pelaku logistik, perusahaan pelayaran, serta stakeholder terkait lainnya,” ujar Erikadalam keterangan resmi Kamis (21/5/2026).

Kepadatan Terminal Jadi Sorotan

Dalam diskusi tersebut, isu kepadatan aktivitas terminal dan tingginya masa penumpukan kontainer menjadi perhatian utama. Seiring meningkatnya volume arus barang, tantangan operasional dinilai tidak hanya berkaitan dengan kapasitas infrastruktur, tetapi juga efektivitas sistem pelayanan dan kedisiplinan proses operasional.

Erika menuturkan tantangan kepadatan terminal turut dipengaruhi kecepatan administrasi, sinkronisasi data, hingga koordinasi antarlembaga dalam rantai logistik.

“Kondisi ini menuntut pola operasional yang lebih responsif serta penguatan koordinasi lintas entitas dan instansi,” katanya.

Selain itu, transformasi budaya kerja di lingkungan pelabuhan juga dinilai penting agar ekosistem logistik lebih adaptif terhadap perubahan dan berorientasi pada service excellence.

Fokus pada Digitalisasi Layanan

Dalam forum tersebut, para pelaku usaha yang tergabung dalam ALFI Jatim juga menyampaikan sejumlah masukan strategis terkait kondisi lapangan. Beberapa poin yang menjadi perhatian bersama antara lain standardisasi layanan bongkar muat, optimalisasi lapangan penumpukan, hingga penguatan sistem digital untuk memangkas birokrasi dan dwelling time.

Baca Juga:  Produktivitas Moncer, TPS Sabet Penghargaan Bergengsi Anugerah BUMN 2026

Melalui sinergi tersebut, Pelindo dan ALFI Jatim optimistis transformasi operasional pelabuhan dapat berjalan lebih kompetitif, efisien, dan berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, pengelola terminal akan terus melakukan evaluasi proses operasional, memperkuat koordinasi layanan, mengoptimalkan fasilitas pelabuhan, serta meningkatkan pemanfaatan sistem digital guna mendukung layanan yang lebih cepat dan transparan.

Di sisi lain, DPW ALFI/ILFA Jawa Timur bersama para pengguna jasa menyatakan komitmennya untuk mendukung kelancaran operasional melalui peningkatan kepatuhan terhadap prosedur layanan, percepatan administrasi, hingga penguatan koordinasi dengan operator terminal dan instansi terkait. (Onny)

Komentar