
INVESTORJATIM.COM — Dinamika geopolitik global mulai dari perang tarif hingga konflik jalur pelayaran internasional dinilai menjadi alarm keras bagi ketahanan rantai pasok industri nasional, termasuk sektor farmasi berbasis bahan alamguru besar. Di tengah ironi melimpahnya ekspor bahan mentah herbal namun tingginya impor ekstrak bernilai tambah, Guru Besar Bidang Ilmu Fitofarmasetika Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. apt. Idha Kusumawati SSi MSi, menghadirkan solusi melalui inovasi riset berbasis hilirisasi.
Dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besar di Kampus MERR-C, Prof. Idha menegaskan pentingnya transformasi industri herbal nasional dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi produsen bahan baku berstandar industri.
“Indonesia memiliki gudang bahan alam yang luar biasa, tetapi kunci pengolahannya masih dipegang negara lain karena kita terus mengekspor bahan mentah lalu membeli kembali dalam bentuk ekstrak dengan harga berkali lipat,” ujarnya seperti dalam keterangannya pada rilis, Rabu, 13/5/2026.
Menurutnya, pasar obat asli Indonesia diperkirakan mencapai Rp350 triliun. Namun, potensi tersebut baru tergarap sekitar Rp2 triliun akibat persoalan standardisasi bahan baku dan keterbatasan teknologi pengolahan.
Prof. Idha mengungkapkan, hingga kini dirinya telah menghasilkan tujuh paten di bidang fitofarmasetika. Salah satu produk inovasinya, Keswari, telah berhasil masuk pasar komersial, sementara produk lainnya seperti No Pain masih dalam tahap penjajakan dengan mitra industri.
Ia menilai tantangan utama pengembangan herbal nasional bukan terletak pada ketersediaan tanaman obat, melainkan pada kemampuan menghasilkan bahan baku yang konsisten dan memenuhi spesifikasi industri farmasi.
“Tanaman adalah makhluk hidup yang dipengaruhi lingkungan. Perbedaan lokasi tanam, cuaca, hingga metode pascapanen bisa membuat kandungan senyawa aktif berubah hingga 50%. Tanpa standardisasi dari hulu, industri tidak akan tertarik menggunakan bahan baku lokal,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Idha mendorong penerapan Good Agricultural and Collection Practices (GACP) secara ketat di tingkat petani serta penggunaan teknologi chemical fingerprinting guna memastikan konsistensi kualitas.
Menurutnya, kualitas produk herbal sejatinya ditentukan sejak proses budidaya dan panen, bukan hanya di tahap produksi pabrik.
“Kita harus memastikan kualitas produk tetap sama, baik dipanen di Jawa maupun luar Jawa, sehingga standar industri dapat terpenuhi,” ujarnya.
Di sisi hilir, Prof. Idha juga mengembangkan teknologi Novel Drug Delivery Systems (NDDS) guna meningkatkan efektivitas ekstrak herbal di dalam tubuh. Teknologi tersebut memungkinkan zat aktif herbal dikemas dalam kapsul berskala nano agar lebih tepat mencapai target sel.
“Banyak riset herbal berhenti karena dianggap kurang efektif saat dikonsumsi. Dengan NDDS, efektivitasnya bisa ditingkatkan sehingga kualitas obat herbal dapat sejajar dengan obat modern,” jelasnya.
Selain itu, pendekatan Quality by Design (QbD) diterapkan agar hasil riset laboratorium dapat diimplementasikan dalam skala industri secara lebih stabil dan minim kegagalan produksi.
Saat ini, Prof. Idha telah menjalin kolaborasi dengan tujuh mitra industri farmasi untuk mempercepat proses hilirisasi hasil riset.
Ia pun mengajak generasi peneliti muda untuk tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan memastikan inovasi dapat diterapkan di industri dan memberi dampak ekonomi maupun kesehatan bagi masyarakat.
“Indonesia bukan hanya kaya biodiversitas, tetapi juga kaya tradisi etnomedisin. Hasil riset harus bisa diaplikasikan, dibeli masyarakat, dan berkontribusi nyata bagi kemandirian kesehatan bangsa,” tuturnya. (Onny)







Komentar