
INVESTORJATIM.COM – Di tengah tekanan industri logistik yang kian intensif, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) memilih jalur yang tak biasa: mempercepat kinerja tanpa mengorbankan alam. Sejak 2010, kawasan Pelabuhan Tanjung Perak diam-diam menjelma menjadi benteng hijau berkat konsistensi pelestarian mangrove yang digarap perusahaan.
Lebih dari sekadar penanaman, TPS menjalankan pendekatan jangka panjang yang menyentuh seluruh siklus ekosistem—mulai dari rehabilitasi, pemeliharaan, hingga pengayaan vegetasi. Upaya ini memastikan mangrove tidak hanya tumbuh, tetapi berkembang secara alami dan berkelanjutan di tengah aktivitas pelabuhan yang padat.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Ekosistem mangrove di sekitar terminal kian kokoh, memperkuat garis pantai dari ancaman abrasi sekaligus menjaga kualitas perairan. Kawasan yang dulunya rentan kini bertransformasi menjadi pelindung alami yang menopang keberlangsungan operasional pelabuhan.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar program tanggung jawab sosial, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
“Mangrove adalah aset ekologis krusial yang mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan kelestarian lingkungan pesisir,” ungkapnya dalam keterangan resmi Jumat (10/4/2026).
Tak hanya itu, kawasan mangrove TPS kini juga berkembang menjadi habitat yang kaya bagi berbagai flora dan fauna pesisir. Di balik fungsinya sebagai pelindung alami, mangrove juga memainkan peran penting dalam menjawab tantangan perubahan iklim.
Iya menambahkan, kemampuan mangrove dalam menyerap dan menyimpan karbon menjadikannya sebagai “carbon sink” alami. Peran ini dinilai strategis dalam menekan emisi dari aktivitas logistik, sekaligus memperkuat langkah dekarbonisasi yang tengah digenjot perusahaan.
TPS pun mengintegrasikan solusi berbasis alam ini dengan transformasi energi. Dalam operasionalnya, perusahaan telah memanfaatkan listrik untuk peralatan utama seperti container crane (CC) dan rubber tyred gantry (RTG), guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Langkah tersebut diperkuat dengan pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi tambahan. Sinergi antara pelestarian mangrove dan penggunaan energi bersih ini menjadi fondasi transisi TPS menuju operasional yang lebih efisien dan rendah emisi.
Bagi TPS, mangrove bukan sekadar vegetasi pesisir, melainkan investasi jangka panjang yang menyatukan kepentingan ekologis, sosial, dan bisnis. Di tengah tuntutan industri yang serba cepat, perusahaan menunjukkan bahwa pelabuhan masa depan tak hanya cerdas dan produktif, tetapi juga hijau dan berkelanjutan. (Onny)









Komentar