TPS Integrasikan Restorasi Mangrove dengan Pemberdayaan Ekonomi Petani Pesisir

Lewat pembibitan mangrove, TPS perkuat ekonomi hijau petani Surabaya.

SIRABAYA, INVESTORJATIM – Upaya pelestarian lingkungan pesisir kini tidak lagi berdiri sendiri sebagai agenda ekologis, tetapi juga menjadi instrumen penguatan ekonomi masyarakat. Terminal Petikemas Surabaya (TPS), anak usaha Pelindo Terminal Petikemas, mengintegrasikan restorasi mangrove dengan pemberdayaan petani pesisir melalui program keberlanjutan bertajuk Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan.

Melalui kolaborasi dengan Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari, TPS memfasilitasi pembibitan 10.000 mangrove jenis Rhizophora mucronata. Kegiatan ini dirancang sebagai sumber pendapatan alternatif bagi petani pesisir yang selama ini bergantung pada sektor perikanan dengan tingkat ketidakpastian tinggi akibat perubahan cuaca dan degradasi lingkungan.

Pembibitan mangrove dilakukan secara berkelanjutan, mencakup proses pengumpulan propagul, penanaman, perawatan, hingga pengawasan pertumbuhan. Seluruh tahapan tersebut memberikan nilai tambah ekonomi dan membuka lapangan kerja berbasis komunitas lokal.

Salah satu petani mangrove, Moch. Toha, mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam program tersebut membantu menjaga stabilitas pendapatan keluarga. Sebagai nelayan, aktivitas melaut tidak selalu memungkinkan dilakukan setiap hari. Pembibitan mangrove menjadi penopang ekonomi yang relatif lebih konsisten.

Baca Juga:  Terminal Petikemas Surabaya Raih Penghargaan Wajib Pajak Teladan 2024

Ketua Kelompok Kompak Mandiri Lestari, Shodiq Machfudz, menilai kemitraan dengan TPS turut meningkatkan kepercayaan diri dan kapasitas kelompok tani. Menurutnya, keterlibatan langsung dalam program perusahaan memperkuat posisi petani sebagai bagian dari solusi keberlanjutan pesisir, bukan sekadar objek program.

Dari sisi korporasi, TPS memastikan seluruh proses pembibitan dilakukan dengan standar teknis yang terukur dan pendampingan berkelanjutan. Pendekatan ini ditujukan untuk menjaga kualitas bibit sekaligus meningkatkan kompetensi petani agar mampu berperan lebih luas dalam rantai nilai restorasi pesisir.

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menegaskan bahwa indikator keberhasilan program tidak semata dilihat dari jumlah mangrove yang ditanam, melainkan dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan.

“Keberlanjutan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kami ingin program ini mendorong peningkatan pendapatan, keterampilan, dan kemandirian petani pesisir, seiring dengan pemulihan lingkungan,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Selain berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan penyerap karbon biru, mangrove juga memiliki potensi ekonomi jangka panjang jika dikelola secara berkelanjutan. Melalui program ini, petani didorong untuk terlibat dalam ekosistem ekonomi hijau yang kian relevan dengan agenda transisi energi dan adaptasi perubahan iklim.

Baca Juga:  Deteksi Kerusakan Container Secara Otomatis, Terminal Petikemas Surabaya Luncurkan ADDS

TPS menargetkan bibit mangrove siap tanam pada April 2026 untuk mendukung rehabilitasi pesisir Surabaya dan wilayah lain yang membutuhkan. Perusahaan juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor dengan menempatkan petani mangrove sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan program.

“Menanam mangrove berarti menanam masa depan. Bagi TPS, keberlanjutan adalah tentang membangun ekosistem yang sehat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakat pesisir,” tutup Erika. (Onny)

 

Komentar