Ekspor Perdana Urea ke Australia, Pupuk Indonesia Bidik Nilai Kerja Sama Rp7 Triliun

Istimewa

INVESTORJATIM.COM — PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), resmi melakukan ekspor perdana pupuk urea ke Australia dalam skema Government-to-Government (G2G). Pengiriman tersebut menjadi tonggak baru kerja sama strategis Indonesia dan Australia dalam memperkuat ketahanan pangan serta menjaga stabilitas rantai pasok pupuk di kawasan Asia-Pasifik.

Pelepasan ekspor perdana dilakukan di Dermaga BSL Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, ditandai dengan inaugurasi pelepasan kapal pengangkut urea oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Kegiatan itu turut dihadiri Deputy Ambassador Australia untuk Indonesia Gita Kamath, Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Kaltim Gusrizal, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ekspor perdana tersebut menjadi langkah bersejarah bagi transformasi industri pupuk nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok pupuk global.

Menurutnya, volume ekspor tahap awal mencapai 47.250 ton dan merupakan bagian dari komitmen kerja sama ekspor sebesar 250.000 ton. Ke depan, volume ekspor tersebut ditargetkan meningkat hingga 500.000 ton dengan estimasi nilai mencapai Rp7 triliun.

Baca Juga:  HUT Ke-52, Petrokima Gresik Berbagi Berkah Utuk Masyarakat dan Abang Becak

“Ini mencetak sejarah, karena kita akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia. Rencana ekspor ke Australia awalnya 250.000 ton dan akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton dengan nilai kurang lebih Rp7 triliun,” ujar Amran, Kamis lalu, 14/5/2026

Kerja sama ekspor urea tersebut merupakan tindak lanjut komunikasi antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese terkait penguatan kerja sama pangan kedua negara. Pemerintah Australia sebelumnya menyampaikan apresiasi atas persetujuan Indonesia untuk memasok urea ke Negeri Kanguru.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menilai pengiriman urea ke Australia tidak sekadar aktivitas perdagangan, melainkan bagian dari diplomasi pangan Indonesia di tengah dinamika rantai pasok global.

“Pengiriman urea ke Australia hari ini bukan sekadar aktivitas perdagangan, tetapi juga bagian dari diplomasi pangan Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik,” kata Rahmad.

Dia memastikan ekspor dilakukan tanpa mengganggu kebutuhan pupuk domestik. Tahun ini, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri diperkirakan sebesar 6,3 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus produksi sekitar 1,5 juta ton yang dapat dialokasikan untuk pasar ekspor.

Baca Juga:  Produksi Pupuk Petrokimia Gresik 2024 Lampaui Target

Hingga 13 Mei 2026, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,1 juta ton. Produksi harian perusahaan juga disebut tetap berjalan optimal dengan kapasitas mencapai 25.000 ton urea dan 15.000 ton pupuk NPK per hari.

Untuk menjaga kelancaran distribusi, Pupuk Indonesia memanfaatkan Command Center dan sistem i-Pubers guna memantau stok dan penebusan pupuk secara real-time hingga tingkat kios. Digitalisasi tersebut memungkinkan perusahaan melakukan realokasi stok lebih cepat pada wilayah dengan permintaan tinggi.

Optimalisasi distribusi itu turut mendongkrak penyaluran pupuk subsidi yang hingga pertengahan Mei 2026 mencapai 3,5 juta ton atau naik sekitar 36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (Onny)

Komentar