Tarif Trump 32%, Ketua Kadin Jatim: Peluang Emas yang Tersembunyi

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto. Foto: Kadin Jatim

SURABAYA, Investor Jatim – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya menetapkan pengenaan tarif impor barang dari Indonesia sebesar 32%. Angka pengenaan tarif impor untuk Indonesia ini tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan yang diumumkan Trump pada awal April 2025 lalu.

Sejauh ini, kebijakan tarif impor sebesar 32% yang diterapkan pemerintahan Donald Trump bagi produk impor Indonesia telah menciptakan pukulan keras bagi industri manufaktur nasional. Maklum, ketergantungan ekspor Indonesia terhadap pasar Amerika sangat besar, semisal ekspor pakaian 61,4% atau 33,8% ekspor alas kaki.

“Jawa Timur, sebagai pusat industri manufaktur terbesar kedua di Indonesia, berada di garis depan dampak kebijakan Trump ini. Ribuan pabrik tekstil di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, semisal klaster sepatu di Mojokerto, serta industri furnitur di Pasuruan dan Malang, kini menghadapi ancaman kehilangan pasar dan daya saing. Jika tak ditangani dengan cepat, potensi pemutusan hubungan kerja bisa meluas, mengancam jutaan pekerja dan merembet ke sektor UMKM serta perbankan daerah,” ungkap Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, di Surabaya, Selasa (8/7/2025).

Namun, di tengah pukulan keras tersebut, Adik melihat sesuatu yang tak biasa. “Ada peluang emas yang tersembunyi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Adik menyebut situasi yang mendera industri manufaktur sekarang sebagai paradoks strategis. Di satu sisi, tarif Trump tersebut mengancam industri ekspor utama Indonesia seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur, sektor yang selama ini menjadi andalan ekonomi, terutama bagi Jawa Timur. Namun di sisi lain, tarif tersebut justru menempatkan Indonesia dalam posisi kompetitif yang lebih baik dibandingkan negara pesaing.

Sekalipun sama-sama harus menghadapi ancaman dari kebijakan tarif Trump, namun Indonesia memiliki keunggulan tarif dibandingkan negara-negara rival langsungnya. Sebut misalnya Vietnam, Bangladesh, Thailand, dan Kamboja yang dikenai tarif yang lebih tinggi, masing-masing 46%, 37%, 36%, dan 49%.

“Itu artinya, produk Indonesia kini lebih murah secara relatif di mata pembeli Amerika. Selisih tarif sebesar 14% dibanding Vietnam dan 5% dibanding Bangladesh menjadi keuntungan strategis yang sangat signifikan,” kata Adik.

Kondisi ini, sambung Adik, membuka peluang pasar baru senilai miliaran dolar. Perusahaan Amerika yang rasional akan memilih pemasok dengan tarif lebih rendah, dan Indonesia secara tiba-tiba menjadi pilihan utama.

“Ini adalah jendela peluang yang langka, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perdagangan kawasan,” tandas Adik.

Adik melihat bahwa Jawa Timur sangat siap untuk memanfaatkan momentum ini. Dengan klaster industri yang telah matang, infrastruktur pelabuhan internasional seperti Tanjung Perak dan Gresik yang mendukung distribusi global, serta kapasitas produksi yang besar, provinsi ini hanya membutuhkan percepatan eksekusi kebijakan. Selain itu, struktur biaya di Jawa Timur masih lebih efisien dibandingkan Malaysia dan Korea Selatan, dua pesaing non-Asia Tenggara yang juga mengincar ceruk pasar Amerika.

“Jika peluang ini dimaksimalkan, ekspor Jawa Timur bisa meningkat signifikan. Potensi tambahan nilai ekspor diperkirakan mencapai US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar dari pergeseran pasar Vietnam, US$ 800 juta hingga US$ 1,2 miliar dari Bangladesh, dan US$ 500-800 juta dari Thailand. Dalam skenario optimis, Indonesia bisa naik dari eksportir tekstil terbesar kelima menjadi ketiga di pasar Amerika Serikat, dan Jawa Timur akan menjadi motor utama perubahan itu,” tambah Adik.

Meski demikian, Adik mengingatkan bahwa ancaman tetap ada. Malaysia, yang hanya dikenai tarif 24%, bisa menjadi pesaing kuat di sektor elektronik. Situasi ini menuntut respons cepat dan presisi tinggi. Keterlambatan dalam mengambil langkah bisa membuat momentum ini lepas dan dimanfaatkan oleh negara lain yang lebih siap.

“Kadin Jawa Timur menekankan tiga kunci utama untuk mengubah ancaman menjadi peluang: kecepatan pelaksanaan kebijakan industri, peningkatan kualitas dan efisiensi produk, serta kemampuan dalam membaca dan menangkap momentum pergeseran pasar global,” katanya.

Adik kembali menegaskan, tarif Trump memang memukul keras industri manufaktur Asia, tapi bagi Indonesia, terutama Jawa Timur, ini bisa menjadi titik balik. Tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mereposisi diri sebagai kekuatan industri baru di Asia. Jika dikelola dengan strategi yang tajam dan eksekusi yang cepat, Jawa Timur bukan hanya akan selamat dari badai tarif global ini, tapi juga bisa keluar sebagai pemenang.

“Ini bukan semata tentang bertahan hidup, tapi tentang mengambil alih peluang yang tidak datang dua kali. Jawa Timur bisa jadi episentrum baru ekspor Asia, jika kita berani bertindak cepat dan tepat,” pungkasnya. Amrozi Amenan

REDAKSI

Recent Posts

Pemanfaatan Jargas PGN di Sidoarjo Tinggi, 478 Rumah di Deltasari Sudah Terhubung

INVESTORJATIM.COM – Pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di Perumahan Deltasari Indah, Sidoarjo, Jawa Timur, menunjukkan…

5 jam ago

Terapkan Prinsip MBS, Petani Tebu Bondowoso Didorong Tingkatkan Rendemen

INVESTORJATIM.COM – Petani tebu didorong meningkatkan kualitas bahan baku melalui penerapan prinsip MBS (Manis, Bersih,…

7 jam ago

Studi UI Ungkap Peran Kredit Digital Kredivo, 54 Persen Penyaluran untuk Kebutuhan Produktif

INVESTORJATIM.COM – Perkembangan kredit digital di Indonesia dalam satu dekade terakhir tidak hanya berkaitan dengan…

10 jam ago

Kepala OJK Jawa Timur Yunita Linda Sari Meninggal Dunia di Surabaya

INVESTORJATIM.COM – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur Yunita Linda Sari meninggal dunia…

1 hari ago

Laba BRI Tembus Rp31,2 Triliun hingga Juni 2026, Kredit UMKM Capai Rp1.235 Triliun

INVESTORJATIM.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat kinerja positif hingga akhir…

1 hari ago

Generali Indonesia Galang Donasi Rp1,7 Miliar dari Ajang Lari, Dukung Pendidikan 1.000 Anak

INVESTORJATIM.COM – Ribuan pelari tidak hanya berlari untuk menjaga kebugaran dalam ajang Generali Lion Heart…

2 hari ago