Pasar industri saat ini tidak sedang mengalami perlambatan secara menyeluruh, melainkan memasuki fase investasi yang lebih berkualitas
INVESTORJATIM.COM – Pasar properti industri di Greater Jakarta masih memperlihatkan daya tahan pada kuartal II/2026 meskipun laju transaksi melambat. Di tengah iklim investasi yang lebih berhati-hati, pelaku usaha tetap memburu peluang ekspansi, namun dengan pertimbangan yang semakin matang terhadap kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, dan prospek bisnis jangka panjang.
Laporan terbaru Colliers Indonesia mencatat serapan lahan industri mencapai 36,74 hektare pada kuartal II/2026. Angka tersebut mencerminkan bahwa minat investasi belum surut, meski proses pengambilan keputusan berlangsung lebih panjang dibandingkan sebelumnya.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pasar industri saat ini tidak sedang mengalami perlambatan secara menyeluruh, melainkan memasuki fase investasi yang lebih berkualitas.
“Pasar industri Greater Jakarta bukan sedang mengalami perlambatan secara menyeluruh. Sebaliknya, pasar memasuki fase investasi baru, di mana perusahaan semakin mengutamakan kepastian operasional, kesiapan infrastruktur, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang sebelum memutuskan untuk berekspansi. Saat ini, fokus pasar bukan lagi pada besarnya volume transaksi, melainkan pada kualitas keputusan investasinya,” ujarnya.
Menurut Colliers, investor masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang menarik. Namun, perusahaan kini lebih selektif dengan mempertimbangkan kepastian regulasi, efisiensi operasional, serta kesiapan infrastruktur sebelum merealisasikan investasi.
Permintaan lahan industri masih ditopang sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, seperti pusat data (data center), logistik, industri kendaraan listrik beserta rantai pasoknya, elektronik, barang konsumsi cepat saji (FMCG), layanan kesehatan, hingga ekspansi perusahaan yang telah beroperasi.
Sektor-sektor tersebut dinilai tetap sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi nasional, percepatan digitalisasi, kuatnya konsumsi domestik, serta penguatan rantai pasok industri.
Di sisi pasokan, total lahan industri di kawasan Greater Jakarta masih bertahan di kisaran 18.500 hektare pada kuartal II/2026. Tidak adanya kawasan industri baru yang rampung membuat para pengembang memilih mengoptimalkan bank lahan yang telah dimiliki melalui pengembangan bertahap, penyesuaian masterplan, hingga alih fungsi lahan secara selektif.
Colliers menilai perubahan karakter permintaan menuju industri berbasis teknologi menjadikan kesiapan infrastruktur sebagai faktor utama dalam menarik investasi. Kawasan industri yang memiliki pasokan listrik memadai, utilitas andal, konektivitas yang baik, serta kepastian operasional dinilai lebih mampu mempertahankan harga sekaligus menarik investor, terutama dari sektor pusat data dan manufaktur berteknologi tinggi.
Ke depan, Colliers memperkirakan prospek pasar industri Greater Jakarta tetap positif, ditopang besarnya pasar domestik Indonesia, pengembangan infrastruktur digital, serta berlanjutnya program hilirisasi industri. Namun, realisasi investasi diperkirakan akan semakin bergantung pada kepastian regulasi, percepatan perizinan, pembangunan infrastruktur, serta kesiapan utilitas di kawasan industri. (Onny)
INVESTORJATIM.COM – Pembangunan Kapal Pinisi Serbaguna pesanan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan resmi dimulai. PT PAL…
INVESTORJATIM.COM – Sebanyak 25 warga Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, digembleng menjadi pengusaha baru dalam pelatihan…
INVESTORJATIM.COM – Pesanan pembuatan dua kapal selam Scorpene Evolved untuk TNI AL kini memasuki tahap…
INVESTORJATIM.COM — Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong transformasi ekonomi dan…
INVESTORJATIM.COM — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menilai kinerja usaha mikro, kecil, dan…
INVESTORJATIM.COM – PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkuat ketersediaan pupuk bersubsidi di Jawa Timur untuk menghadapi…