INVESTORJATIM.COM — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menilai kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam meningkatkan daya saing dan menembus pasar ekspor.
Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Prof Tommy Kayhatu mengatakan, sekitar 57 juta pelaku UMKM berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sektor tersebut menyumbang sekitar 60,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97% tenaga kerja.
Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih sekitar 15,7%. Menurut Tommy, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan kapasitas sekaligus perubahan mentalitas pelaku usaha.
“Jangan sampai usaha mikro dan kecil hanya menjadi pihak yang terus bergantung pada bantuan. Pelaku UMKM harus memiliki keberanian untuk terus berkembang dan fight menghadapi persaingan,” katanya dalam Rapimprov Kadin Jatim 2026 di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Kamis (24/9/2026).
Tommy menilai dukungan pemerintah dan perbankan tetap diperlukan, tetapi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis, produksi, pemasaran, pembiayaan, hingga membangun jaringan usaha.
Dia juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan UMKM agar pelaku usaha tidak hanya memperoleh bantuan, tetapi memiliki sistem bisnis yang memungkinkan usaha tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang SDM sekaligus Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti mengatakan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas UMKM.
“Utamanya adalah kesenjangan SDM dan kualitas tenaga kerja. Tenaga kerja yang terampil belum sejalan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan, sertifikasi, serta program upskilling dan reskilling perlu diperkuat agar kompetensi tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri.
Dari sisi perdagangan, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perbankan Syariah Zaki Basalamah menyebut ekspor Jawa Timur pada Januari-Juli 2026 turun 5,33%, sementara impor meningkat sekitar 16,56%.
Dia menilai struktur impor perlu diperhatikan karena impor barang modal dan bahan baku dapat mendukung aktivitas produksi, sedangkan impor barang konsumtif memiliki dampak ekonomi yang berbeda.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Pertanian Edi Purwanto menilai kemitraan antara perusahaan besar dan UMKM perlu diperkuat untuk membuka akses pasar dan memperluas keterlibatan UMKM dalam rantai pasok.
Menurut dia, integrasi rantai pasok juga penting untuk memperkuat ketahanan pangan Jawa Timur. Kadin diharapkan dapat menjadi penghubung antara pemerintah, perusahaan besar, UMKM, dan lembaga pembiayaan sehingga penguatan ekonomi kerakyatan tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berlanjut pada peningkatan produktivitas dan daya saing usaha.(Saiful)
INVESTORJATIM.COM – PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkuat ketersediaan pupuk bersubsidi di Jawa Timur untuk menghadapi…
INVESTORJATIM.COM – Potensi bambu yang melimpah di Desa Cimareme, Kabupaten Bandung Barat, kini disulap menjadi…
INVESTORJATIM.COM – Transformasi besar dilakukan PT PLN Nusantara Power (PLN NP). Dari sekadar perusahaan pembangkit…
INVESTORJATIM.COM — Empat mahasiswa Program Studi Teknik Konstruksi Perkapalan (Tekpal) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menorehkan…
INVESTORJATIM.COM - PT Petrokimia Gresik mengembangkan inovasi pemanfaatan produk samping silika sebagai bahan penyaring belerang…
INVESTORJATIM.COM –Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah, yakni 2,27 persen pada 2022. Otoritas Jasa…