Jangan Asal Ikut Euforia, Kenali Dulu Saham IPO Sebelum Berinvestasi

Aktifitas IPO di Bursa Efek Indonesia masih cukup aktif hingga akhir tahun ini.

INVESTORJATIM.COM – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih cukup aktif hingga akhir 2026. Namun, di balik euforia kenaikan harga saham di hari pertama, investor diminta lebih cermat mengenali fundamental perusahaan.

Hingga akhir Agustus 2026, BEI mencatat tujuh perusahaan telah resmi melantai di bursa dengan total penghimpunan dana Rp2,16 triliun. Saat ini masih ada tujuh perusahaan lain yang antre dalam pipeline IPO.

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, mengatakan banyaknya perusahaan yang IPO menunjukkan pasar modal masih menjadi pilihan pendanaan yang menarik. Bagi investor, ini juga menambah alternatif diversifikasi portofolio.

“Tapi IPO tidak seharusnya dipandang hanya sebagai momentum hari pertama perdagangan. IPO adalah titik awal pertumbuhan perusahaan di pasar modal,” ujar Listyorini.

Menurutnya, anggapan bahwa investasi saham IPO selalu untung adalah keliru. Kenaikan harga pada awal perdagangan belum tentu mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Setelah tercatat, harga saham akan bergerak mengikuti mekanisme pasar dan dipengaruhi kinerja perusahaan, kondisi industri, hingga sentimen ekonomi.

Baca Juga:  Cadangan Gua Macan Naik 25%, Merdeka Copper Gold Perkuat Prospek Tambang Tembaga-Emas di Tujuh Bukit

Lantas, apa yang perlu dikenali sebelum membeli saham IPO?

1. Pelajari Prospektus, Jangan Skip

Prospektus adalah sumber informasi utama. Di dalamnya terdapat profil perusahaan, bidang usaha, kondisi keuangan, strategi bisnis, penggunaan dana IPO, hingga risikonya.

Investor juga perlu mencermati alokasi dana hasil IPO, apakah untuk ekspansi, belanja modal, atau membayar utang. Pasca-IPO, penggunaan dana tersebut wajib dipantau melalui Laporan Realisasi Penggunaan Dana (LRPD) sesuai POJK No. 40 Tahun 2025.

2. Pahami Model Bisnisnya

Jangan hanya melihat produknya viral. Pahami bagaimana perusahaan menghasilkan uang, siapa target pasarnya, apa keunggulan kompetitifnya, dan bagaimana strategi pertumbuhannya. Perusahaan dengan model bisnis yang jelas dan berada di industri yang tumbuh, punya peluang lebih besar untuk berkembang.

3. Cermati Valuasi, Bukan Hanya Harga Murah

Harga penawaran Rp100 bukan berarti murah dan Rp5.000 bukan berarti mahal. Investor perlu melihat valuasi melalui rasio seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) dengan membandingkan perusahaan sejenis di sektor yang sama.

Baca Juga:  Akhir Tahun 2025, BEI Optimistis IHSG Akan Tembus 9.000. Ini Skemanya

“Tujuan utama bukan mencari saham dengan harga murah, tapi memastikan harga yang ditawarkan sebanding dengan fundamental dan potensi pertumbuhannya,” tegas Listyorini.

4. Kenali Risikonya

Sebagai perusahaan terbuka baru, kinerja perseroan masih rentan terhadap faktor internal maupun eksternal. Harga saham juga bisa sangat fluktuatif. Karena itu, jangan membuat keputusan hanya berdasarkan lonjakan harga di hari pertama.

Pada akhirnya, IPO bisa menjadi pintu untuk ikut bertumbuh bersama perusahaan sejak awal menjadi perusahaan publik. Namun, keputusan investasi harus berbasis informasi yang memadai, bukan euforia.

“Berinvestasi di saham IPO bukan soal seberapa cepat mengikuti tren, tapi seberapa baik investor memahami perusahaan yang dipilih,” tutup Listyorini. (onny)

 

Komentar