Inflasi 2025 Ditopang Lonjakan Harga Pangan dan Jasa

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini.

JAKARTA, INVESTORJATIM – Tekanan inflasi sepanjang 2025 terutama bersumber dari kenaikan harga pangan dan jasa, seiring menguatnya konsumsi rumah tangga dan meningkatnya biaya hidup. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional secara tahunan mencapai 2,92%, dengan inflasi bulanan pada Desember 2025 sebesar 0,64%.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, komoditas makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar inflasi dengan laju 4,58%. Kenaikan harga di kelompok ini dipengaruhi oleh faktor pasokan, fluktuasi harga bahan pangan strategis, serta meningkatnya permintaan masyarakat di berbagai daerah.

Tekanan inflasi juga datang dari kelompok jasa. Penyediaan makanan dan minuman atau restoran mencatat inflasi 1,46%, mencerminkan kenaikan biaya bahan baku dan operasional yang diteruskan ke harga jual. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak 13,33%, menjadi salah satu pendorong kuat inflasi dari sisi jasa.

Dari sisi biaya hunian dan energi, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 1,62%. Kenaikan ini berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan energi dan biaya pemeliharaan rumah tangga. Kelompok kesehatan juga mencatat inflasi 1,83%, seiring naiknya tarif layanan dan harga produk kesehatan.

Baca Juga:  Menkeu Yakin Ekonomi Nasional Bisa Tumbuh 6 Persen pada 2026

Aktivitas mobilitas masyarakat turut mendorong kenaikan harga di kelompok transportasi yang mengalami inflasi 1,23%. Selain itu, tekanan inflasi juga muncul pada kelompok pendidikan sebesar 1,22% serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,17%, mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi dan sosial.

Meski demikian, inflasi nasional tertahan oleh deflasi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,28%. Penurunan harga di sektor ini dipicu oleh efisiensi teknologi dan persaingan layanan digital.

BPS juga mencatat perbedaan sumber tekanan inflasi antarwilayah. Secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Aceh sebesar 6,71%, sedangkan inflasi terendah tercatat di Sulawesi Utara sebesar 1,23%. Di tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli yang mencapai 10,84%, mencerminkan kuatnya tekanan harga di daerah dengan tantangan pasokan dan distribusi.

“Secara umum inflasi 2025 masih berada dalam rentang terkendali. Namun, dominasi tekanan dari sektor pangan dan jasa menunjukkan perlunya penguatan pengendalian harga, terutama di daerah dengan inflasi tinggi, guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat,” tutup Pudji. (Onny)

Baca Juga:  Turis Asing Tembus 1,09 Juta pada Maret 2026, Wisnus Melejit saat Momentum Libur

Komentar