
INVESTOR JATIM.COM – Kabar dari MSCI Inc. pada 15 Oktober 2026 sempat membuat pasar bergejolak. Dalam pengumumannya, MSCI membuka konsultasi soal usulan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Isu ini langsung menyedot perhatian investor, di tengah fluktuasi IHSG dalam beberapa hari terakhir.
Menanggapi hal tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa proses konsultasi masih berjalan dan belum ada keputusan final. BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) memastikan reformasi pasar modal terus dilanjutkan.
BEI menyebut perkembangan ini perlu dilihat secara utuh, tidak hanya dari sisi klasifikasi, tapi juga dari dinamika global, kondisi domestik, kualitas pasar, dan kinerja fundamental emiten.
Fokus utama reformasi saat ini adalah penguatan transparansi dan integritas pasar. Beberapa langkah yang sudah dilakukan antara lain publikasi data kepemilikan saham di atas 1%, pengayaan data kepemilikan yang lebih rinci, serta penguatan pengawasan perdagangan.
BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menyempurnakan metodologi High Shareholding Concentration (HSC) dengan memperluas cakupan saham yang di-review, termasuk indikator Price Impact Ratio untuk saham berkapitalisasi di atas Rp5 triliun.
Direktur BEI Iding Pardi mengatakan, pembenahan data dan transparansi menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas pasar.
“Kami terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kualitas data, dan memastikan akses informasi yang lebih baik bagi investor. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menindaklanjuti perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia,” ujar Iding, Minggu (18/10/2026).
Dari sisi likuiditas, BEI menghapus harga minimum saham dan meningkatkan batas minimum free float emiten menjadi 15% secara bertahap. Per 30 September 2026, rata-rata free float emiten mencapai 22,99%, dengan 560 dari 918 perusahaan atau 61% sudah memenuhi ketentuan.
BEI juga membentuk Satgas Monitoring Free Float bersama KSEI dan asosiasi pelaku pasar, serta memfasilitasi pertemuan emiten dengan calon investor melalui roadshow dan public expose.
Untuk penegakan hukum, OJK baru-baru ini mengumumkan denda total Rp2,1 triliun. Rinciannya, Rp1,5 triliun terkait manipulasi pasar pada satu emiten dan Rp600 miliar terkait pelanggaran proses IPO pada dua emiten.
Di sisi makro, ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan. Pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29% year on year, inflasi September 3,28%, dan cadangan devisa akhir September US$146,3 miliar.
Kapitalisasi pasar Indonesia tercatat US$497,96 miliar, jauh di atas Nigeria (US$106,27 miliar) dan Argentina (US$72,94 miliar) yang berstatus Standalone Market. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga lebih tinggi dengan inflasi lebih rendah dibanding kedua negara tersebut.
Fundamental emiten juga masih tumbuh. Pada semester I 2026, laba bersih seluruh emiten naik 16,25% dibanding semester I 2025, sementara LQ45 naik 18,49%. Sebanyak 74% emiten membukukan laba, dengan sektor energi mencatat pertumbuhan laba tertinggi 78,28%.
BEI menilai koreksi IHSG pekan lalu perlu dibedakan dengan kinerja fundamental. Penurunan harga saham tidak selalu mencerminkan penurunan kinerja operasional perusahaan.
Dari sisi kriteria MSCI, Indonesia memenuhi aspek ukuran dan likuiditas pasar serta aksesibilitas di Pilar 1-4, seperti keterbukaan bagi investor asing, kebebasan arus modal, dan efisiensi operasional. Sementara transparansi di Pilar 5 masih menjadi perhatian dan terus diperbaiki.
Dengan kapitalisasi sekitar US$498 miliar dan sembilan saham dalam MSCI Standard Index, Indonesia telah melampaui syarat minimum tiga saham untuk kategori Emerging Market.
Konteks lain, pada 6 Oktober 2026, FTSE Russell tetap mempertahankan Indonesia di kategori Secondary Emerging dan tidak memasukkannya ke dalam Watch List. Hal ini menunjukkan penilaian klasifikasi bisa berbeda antar penyedia indeks.
Bagi investor, BEI mengimbau untuk mencermati informasi secara menyeluruh, memahami risiko, dan mengevaluasi investasi berdasarkan fundamental serta tujuan keuangan masing-masing, sambil menunggu hasil final konsultasi MSCI. (onny)








Komentar