Emil Dardak Luncurkan HAJI C-AIRRe 2026, Percepat Transformasi Digital Kesehatan Berbasis AI di Jawa Timur

INVESTORJATIM.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercepat transformasi digital sektor kesehatan melalui peluncuran Ekosistem Teknologi Digital Kesehatan dan Pelayanan Non-Tunai HAJI C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence and Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare) 2026 di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan peluncuran HAJI C-AIRRe menjadi langkah strategis dalam membangun rumah sakit berkelas dunia yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan, riset, pendidikan, inovasi, serta pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robotika.

Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Emil menegaskan bahwa HAJI C-AIRRe bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun ekosistem inovasi kesehatan yang melibatkan rumah sakit, perguruan tinggi, dunia usaha, industri kesehatan, lembaga riset, hingga sektor keuangan.

“HAJI C-AIRRe bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi menjadi langkah nyata membangun ekosistem pelayanan kesehatan, riset, inovasi, dan digitalisasi yang terintegrasi menuju rumah sakit berstandar internasional,” ujar Emil, Rabu, 15/7/2026.

Menurutnya, inisiatif tersebut merupakan bagian dari implementasi Program Jatim Sehat dalam Nawa Bhakti Satya yang diperkuat melalui RPJMD Provinsi Jawa Timur 2025-2029. Program itu ditujukan untuk meningkatkan pemerataan dan kualitas layanan kesehatan, memperpanjang usia harapan hidup, menurunkan prevalensi stunting hingga 12 persen pada 2029, serta mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) 100 persen di seluruh kabupaten dan kota.

Emil menjelaskan, pengembangan HAJI C-AIRRe juga mendukung implementasi berkelanjutan Program Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) yang selama ini didorong Pemprov Jatim. Melalui program tersebut, digitalisasi tidak hanya diterapkan pada tata kelola pemerintahan, tetapi juga pada sistem pelayanan kesehatan dan transaksi non-tunai di rumah sakit milik pemerintah daerah.

Ia menilai transformasi digital telah menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas layanan publik sekaligus menjawab tantangan sektor kesehatan di masa depan.

Dalam pengembangannya, Emil menekankan dua kata kunci utama yang harus menjadi fondasi HAJI C-AIRRe, yakni utilisasi dan ekosistem.

Dari sisi utilisasi, seluruh inovasi yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi benar-benar diterapkan dalam praktik pelayanan sehari-hari. Pemanfaatan AI dan teknologi digital dinilai mampu meningkatkan kualitas diagnosis dokter, mempercepat pelayanan, meningkatkan akurasi, serta memberikan pengalaman layanan yang lebih baik bagi pasien.

“Kata kuncinya adalah utilisasi. Apapun inovasi yang dihasilkan harus dimanfaatkan sehingga memberikan manfaat nyata bagi pasien,” katanya.

Sementara itu, aspek ekosistem menjadi faktor penting agar inovasi dapat berkembang secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara rumah sakit, perguruan tinggi, industri kesehatan, pemerintah, dan dunia usaha.

Menurut Emil, keberhasilan sebuah inovasi tidak diukur dari banyaknya teknologi yang dihasilkan, melainkan besarnya dampak terhadap masyarakat.

Ia berharap pemanfaatan HAJI C-AIRRe dapat diperluas secara bertahap ke seluruh rumah sakit Unit Organisasi Bersifat Khusus (UOBK) milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selain itu, penyusunan roadmap bersama perguruan tinggi juga dinilai penting agar berbagai inovasi dapat distandardisasi dan diterapkan lebih luas di fasilitas kesehatan.

Emil juga mendorong rumah sakit tidak hanya menjadi pusat pelayanan kesehatan, tetapi berkembang sebagai inkubator inovasi teknologi medis nasional guna memperkuat kemandirian Indonesia di bidang kesehatan.

Ia mengapresiasi kolaborasi RSUD Haji Provinsi Jawa Timur dengan Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bank Indonesia, Bank Jatim, serta berbagai mitra strategis lainnya sebagai implementasi model kolaborasi pentahelix.

HAJI C-AIRRe sendiri dibangun di atas dua pilar utama, yakni Financial and Operational Excellence serta Clinical Excellence, yang diharapkan mampu meningkatkan efisiensi tata kelola rumah sakit sekaligus memperkuat mutu pelayanan medis berbasis teknologi digital.

Menutup sambutannya, Emil mengajak seluruh pemangku kepentingan menjaga semangat “From Research to Impact, From AI to Humanity”, sehingga hasil riset dan inovasi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pelayanan kesehatan yang lebih cepat, aman, berkualitas, dan berpusat pada pasien.(Onny)

REDAKSI

Recent Posts

Pemanfaatan Jargas PGN di Sidoarjo Tinggi, 478 Rumah di Deltasari Sudah Terhubung

INVESTORJATIM.COM – Pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di Perumahan Deltasari Indah, Sidoarjo, Jawa Timur, menunjukkan…

18 jam ago

Terapkan Prinsip MBS, Petani Tebu Bondowoso Didorong Tingkatkan Rendemen

INVESTORJATIM.COM – Petani tebu didorong meningkatkan kualitas bahan baku melalui penerapan prinsip MBS (Manis, Bersih,…

20 jam ago

Studi UI Ungkap Peran Kredit Digital Kredivo, 54 Persen Penyaluran untuk Kebutuhan Produktif

INVESTORJATIM.COM – Perkembangan kredit digital di Indonesia dalam satu dekade terakhir tidak hanya berkaitan dengan…

23 jam ago

Kepala OJK Jawa Timur Yunita Linda Sari Meninggal Dunia di Surabaya

INVESTORJATIM.COM – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur Yunita Linda Sari meninggal dunia…

2 hari ago

Laba BRI Tembus Rp31,2 Triliun hingga Juni 2026, Kredit UMKM Capai Rp1.235 Triliun

INVESTORJATIM.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat kinerja positif hingga akhir…

2 hari ago

Generali Indonesia Galang Donasi Rp1,7 Miliar dari Ajang Lari, Dukung Pendidikan 1.000 Anak

INVESTORJATIM.COM – Ribuan pelari tidak hanya berlari untuk menjaga kebugaran dalam ajang Generali Lion Heart…

2 hari ago