Categories: HeadlineIndeks

CNG Merah Putih Jadi Pengganti LPG 3 Kg, Harga Tetap Disubsidi Pemerintah

INVESTORJATIM.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mematangkan langkah strategis untuk menguji coba penggunaan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) kemasan tabung 3 kilogram. Program yang diberi nama ‘Tabung Merah Putih’ ini diproyeksikan menjadi alternatif andalan guna menggantikan posisi Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg bersubsidi di masyarakat.

Program konversi ini direncanakan memasuki fase uji coba perdana pada Juli 2026. Guna memastikan tidak adanya gejolak ekonomi di tingkat konsumen, pemerintah menetapkan harga jual CNG 3 kg ini akan disamakan persis dengan harga eceran LPG bersubsidi saat ini.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pemerintah akan tetap mengawal program ini dengan skema subsidi penuh untuk pemakaian rumah tangga. Kebijakan tersebut selaras dengan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa pemenuhan hajat hidup dan bantuan energi bagi masyarakat yang membutuhkan harus selalu menjadi prioritas utama negara.

“CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah. Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri,” kata Bahlil saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Pangkas Ketergantungan Impor, Hemat Devisa Ratusan Triliun
Meski statusnya tetap disubsidi oleh pemerintah, peralihan dari komposisi bahan bakar LPG ke CNG diprediksi mampu menekan pengeluaran belanja subsidi negara secara signifikan. Bahlil menjabarkan bahwa efisiensi tinggi ini bersumber dari optimalisasi rantai pasok dalam negeri.

Hingga saat ini, pemenuhan kebutuhan LPG nasional masih sangat bergantung pada pasar luar negeri, di mana sekitar 75 hingga 80 persen pasokannya harus dipenuhi melalui jalur impor. Sebaliknya, pasokan gas untuk CNG sepenuhnya melimpah di dalam negeri. Melalui konversi massal ini, pemerintah mengalkulasi potensi penghematan devisa negara yang sangat fantastis, yakni berkisar antara Rp130 triliun hingga Rp137 triliun.

Uji Teknis Teknologi Tabung Komposit Tipe 4 yang Lebih Ringan
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa pihaknya kini sedang menyiapkan sekitar 15 unit prototipe tabung CNG Merah Putih. Seluruh unit tersebut akan langsung menjalani serangkaian pengujian komprehensif di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) mulai bulan Juli ini.

“Jadi Juli ini sedang dibuat prototipe untuk diuji. Jadi diuji itu belasan lah, mungkin sekitar 15. Ya, setara LPG bersubsidi,” terang Laode.

Rangkaian pengujian ketat tersebut bakal difokuskan penuh pada aspek standar keamanan tertinggi, mencakup uji ketahanan tekanan tabung serta keandalan katup (valve) yang terintegrasi langsung dengan komponen tabung yang sementara ini diimpor dari China.

Berbeda total dengan tabung LPG konvensional yang mengandalkan material logam berat, proyek ‘Tabung Merah Putih’ mengadopsi teknologi mutakhir tabung tipe 4 berbahan dasar material komposit. Teknologi ini membuat bobot tabung jauh lebih ringan sehingga dinilai sangat praktis dan memudahkan pergerakan, terutama bagi kalangan ibu rumah tangga.

“Tipe 1 semua logam, tipe 2 sudah mulai ada campuran yang meringankan sampai dengan tipe 3 tapi masih berat (bobotnya). Karena itu kita harus membuat yang lebih ringan agar emak-emak nanti nggak merasa, ‘oh ini kok penggantinya berat’,” imbuh Laode.

Pulau Jawa Jadi Prioritas Tahap Awal
Langkah progresif ini berpotensi menempatkan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang berhasil menerapkan penggunaan tabung CNG komposit tipe 4 ukuran 3 kilogram untuk pemakaian domestik atau rumah tangga.

Laode memaparkan bahwa implementasi operasional di lapangan akan digulirkan secara bertahap. Daerah perkotaan di Pulau Jawa yang telah mapan secara infrastruktur jaringan pipa gas bumi akan menjadi wilayah prioritas utama.

“Kita prioritaskan dulu yang dari pipa. Biar harganya lebih ekonomis. Makanya uji cobanya Pak Menteri sudah sampaikan di kota-kota besar di Pulau Jawa dulu. Yang memang jalur gas dari pipanya lebih banyak,” jelasnya menambahkan.

Terkait asal-usul komponen prototipe, pemerintah menegaskan tidak akan bergantung terus-menerus pada pasokan luar negeri. Pemerintah membuka lebar pintu investasi bagi produsen asal China untuk membangun pabrik manufaktur tabung komposit di Indonesia seiring dengan melonjaknya volume permintaan pasar di masa depan.

“Ada peluang untuk itu (investasi), kalau jumlahnya masif kan kita punya bargaining untuk minta mereka bangun di sini,” kunci Laode. (JIO)

REDAKSI

Recent Posts

Lima Siswi SMA Al Hikmah Surabaya Raih Gold Medal WSEEC 2026 Berkat Inovasi Briket Kelapa

INVESTORJATIM.COM – Lima siswi SMA Swasta Al Hikmah Surabaya berhasil meraih prestasi internasional dalam ajang…

1 jam ago

Merdeka Berkomunikasi, Beradab di Ruang Digital

Penulis : I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos, M.I.Kom Kemeriahan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik…

3 jam ago

PLN NP Gaspol Kembangkan Hidrogen, HRS Muara Tawar Siap Jadi Penopang Energi Bersih RI

INVESTORJATIM.COM – Indonesia mulai serius membangun ekosistem hidrogen sebagai salah satu sumber energi bersih masa…

21 jam ago

Peduli Korban Gempa Flores, Telkomsel Hadirkan Paket Darurat Rp1

INVESTORJATIM.COM - Telkomsel menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah gempa yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara…

1 hari ago

Gempa NTT Ganggu Pelabuhan Maumere, Pelindo Percepat Pemulihan

INVESTORJATIM.COM — PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memastikan sejumlah pelabuhan di Nusa Tenggara Timur…

1 hari ago

Khofifah Gratiskan Trans Jatim pada 17 Agustus, Ini Wilayah yang Berlaku

INVESTORJATIM.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan kado kemerdekaan bagi masyarakat dengan menggratiskan layanan Trans…

1 hari ago