
INVESTORJATIM.COM – Gedung Cak Durasim, Surabaya, kembali menjadi panggung bagi regenerasi seni teater tradisi. Pada Sabtu (11/7/2026), UPT Taman Budaya Jawa Timur menggelar pertunjukan teater bertajuk SAMALEAK yang dibawakan Teater Wilwatikta (STKW Surabaya).
Pementasan ini merupakan pertunjukan kedua dalam rangkaian Program Manajemen Talenta Teater Tradisi yang digagas Kementerian Kebudayaan melalui UPT Taman Budaya Jawa Timur. Seluruh pemain yang tampil merupakan hasil seleksi, kurasi, serta pendampingan intensif melalui workshop dan masterclass bersama para kurator.
Disutradarai Mustaghfirin Nazhmi, SAMALEAK mengangkat kisah kehidupan di balik warung malam. Pertunjukan tersebut mengeksplorasi dinamika manusia yang hidup berdampingan, ketika tawa, luka, harapan, dan kehilangan hadir secara bersamaan di tengah kerasnya realitas kehidupan.
Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Harjono, mengatakan program tersebut merupakan upaya Kementerian Kebudayaan untuk menemukan sekaligus membina bibit-bibit seniman teater tradisi terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Program diawali dengan open call yang dibuka bagi kelompok teater dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Seluruh karya yang masuk kemudian diseleksi secara daring oleh tim kurator yang telah ditunjuk.
“Dari proses seleksi tersebut terpilih 72 peserta yang mengikuti workshop. Setelah itu mereka kembali menjalani proses kurasi hingga terpilih enam kelompok terbaik untuk mengikuti tahap berikutnya,” ujar Deddy.
Menurutnya, setiap kelompok terdiri atas enam orang yang mencakup sutradara, aktor, penata musik, hingga penata artistik. Keenam kelompok kemudian mengikuti masterclass selama empat hari bersama para kurator untuk memperdalam konsep pertunjukan.
“Tujuan program ini adalah mencari bibit-bibit seniman teater yang benar-benar berkualitas. Mereka tidak hanya diberi pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk tampil di panggung profesional,” katanya.
Deddy menjelaskan enam kelompok yang lolos tidak diperingkatkan sebagai juara. Seluruhnya memperoleh kesempatan mementaskan karya di Gedung Cak Durasim sekaligus didaftarkan dalam basis data Kementerian Kebudayaan sebagai talenta teater potensial dari Jawa Timur.
“Data mereka akan masuk ke Kementerian Kebudayaan sehingga ketika ada program nasional, pemerintah sudah memiliki database seniman teater potensial dari Jawa Timur,” ujarnya.

Ia menilai kualitas seniman teater Jawa Timur sangat kompetitif dan memiliki semangat berkarya yang tinggi.
“Teman-teman seniman Jawa Timur luar biasa. Mereka benar-benar total dalam membuat konsep pertunjukan. Tantangan kami sekarang adalah bagaimana membuat teater tradisi kembali diminati, terutama oleh generasi Z,” katanya.
Untuk menjaga kualitas karya, peserta dibimbing oleh tiga kurator, yakni praktisi teater Luhur Prasetyo, akademisi STKW Deni, serta musisi Joko Porong. Setelah mengikuti masterclass, setiap kelompok juga mendapat pendampingan langsung di sanggar masing-masing sebelum akhirnya tampil di hadapan publik.
Enam kelompok yang lolos berasal dari Banyuwangi, Teater Wilwatikta Surabaya, Sanggar Seni Ujung Sidoarjo, Sedet Serpet Bojonegoro, Teater Sendratari Surabaya, dan Pomba Jombang.
Pementasan keenam kelompok dijadwalkan berlangsung bertahap hingga September 2026. Jadwal sengaja dibuat terpisah agar setiap pertunjukan dapat menjangkau lebih banyak penonton.
“Harapan kami, masyarakat semakin mengenal kekayaan teater tradisi Jawa Timur. Program ini bukan hanya memberikan panggung bagi seniman, tetapi juga menjadi upaya menjaga keberlanjutan seni budaya melalui regenerasi,” kata Deddy Harjono.
Sementara itu, Kurator Program Manajemen Talenta Teater Tradisi, Luhur Prasetyo, mengatakan program yang digagas Kementerian Kebudayaan dan dilaksanakan UPT Taman Budaya Jawa Timur menjadi langkah penting untuk melahirkan generasi baru seniman teater.
Menurutnya, proses seleksi dilakukan secara ketat, tidak hanya melihat kualitas pertunjukan, tetapi juga kesiapan administrasi dan manajemen kelompok.
“Program ini terbuka untuk kelompok teater umum maupun kampus. Kami memilih kelompok yang disiplin dan siap berkembang,” kata Luhur.
Ia menjelaskan, selama proses pembinaan peserta didorong menggali kekayaan budaya daerah sebagai identitas karya. Menurutnya, teater Jawa Timur memiliki potensi besar karena setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda.
“Surabaya punya ludruk, Jombang punya besutan, daerah lain juga memiliki kekayaan budaya masing-masing. Itu yang kami dorong menjadi kekuatan dalam menciptakan karya baru,” ujarnya.
Luhur berharap teater Jawa Timur tidak hanya dikenal dengan pendekatan teater modern, tetapi juga mampu menghadirkan pertunjukan yang berakar pada budaya lokal sehingga memiliki ciri khas dan menjadi identitas teater Jawa Timur. (Onny)














Komentar