Categories: Indeks

Warisan yang Tak Instan: Kisah Panjang Batik Gentongan Tanjung Bumi Bangkalan

Muhtarib, pengusaha batik gentongan Bangkalan dan istri menunjukkan batik gentongan Bangkalan yang harganya mencapai puluhan juta.

INVESTORJATIM.COM – Ada sesuatu yang tidak terlihat ketika selembar batik gentongan Tanjung Bumi dibentangkan. Di balik motif dan warna yang tampak sederhana, ada waktu berbulan-bulan yang dihabiskan untuk mengerjakannya. Bahkan, untuk kain tertentu, prosesnya bisa mencapai satu tahun.

Lebih dari 80 perempuan terlibat dalam proses tersebut di usaha batik milik Muhtarib (64), seorang pengusaha batik gentongan di Bangkalan, Madura. Para pekerjanya seluruhnya perempuan, dengan usia mulai dari 17 hingga sekitar 50 tahun.

Mereka tidak mengerjakan semuanya dalam satu tempat. Ada yang menggambar motif, memberi malam, melakukan pewarnaan, hingga menyelesaikan proses akhir. Sebagian pekerjaan dilakukan dari rumah masing-masing.

Satu kain berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya sebelum akhirnya menjadi batik siap jual.

“Karyawannya lebih dari 80 orang. Semuanya perempuan,” ujar Muhtarib.

Panjang proses itulah yang membuat batik gentongan berbeda. Perjalanan selembar kain dimulai dari kain putih berukuran sekitar 2,25 meter.

Kain tersebut terlebih dahulu dilukis dengan tangan. Bukan hitungan jam, proses menggambar motif bisa memakan waktu hingga tiga bulan.

Setelah lukisan selesai, kain diberi malam. Selanjutnya kain masuk ke tahap yang menjadi ciri khas batik gentongan Tanjung Bumi: direndam di dalam gentong.

Sebelum kain dimasukkan ke dalam gentong, ada tahapan khusus yang masih dilakukan oleh sebagian perajin. Menurut Muhtarib, proses tersebut diawali dengan menyiapkan tumpeng kecil dan beberapa perlengkapan yang diperlakukan sebagai sesajen. Ritual sederhana itu dilakukan sebagai bentuk tradisi dan doa agar proses pewarnaan di dalam gentong berjalan lancar dan menghasilkan warna yang baik.

Setelah prosesi tersebut, kain yang telah diberi malam mulai dimasukkan ke dalam gentong berisi bahan pewarna. Di tahap inilah kain menjalani proses perendaman yang menjadi ciri khas batik gentongan Tanjung Bumi.

Di dalam gentong itulah kain menjalani proses pewarnaan. Bahan pewarna yang digunakan antara lain mengkudu dan bahan-bahan alami yang pada masa lalu berasal dari tanaman maupun getah.

Proses membatik yang dilakukan karyawan Muhtarib.

Air yang digunakan pun tidak boleh sembarangan. Air harus benar-benar tawar. Air asin maupun payau tidak digunakan.

Namun, di balik proses teknis tersebut, terdapat tradisi dan kepercayaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Para pembatik masih mengenal sejumlah pantangan ketika kain berada dalam proses gentongan. Salah satunya berkaitan dengan kondisi orang yang mengerjakan atau berada di sekitar tempat pembuatan.

Orang yang sedang menstruasi, misalnya, dipercaya tidak diperbolehkan mendekati atau melewati tempat proses gentongan.

Kepercayaan itu masih dijaga hingga sekarang, meski para perajin sendiri tidak selalu bisa menjelaskan secara pasti alasan di baliknya.

Yang mereka tahu, menurut pengalaman yang diwariskan dari orang-orang terdahulu, jika pantangan dilanggar, warna kain bisa berubah atau menjadi kurang cerah.

“Katanya kalau ada yang lewat atau membuat dalam kondisi seperti itu, warna bisa rusak, tidak cerah,” katanya.

Bagi Muhtarib dan para pembatiknya, kepercayaan tersebut menjadi bagian dari tradisi. Gentongan bukan semata-mata cara merendam kain, tetapi identitas yang membedakan batik Tanjung Bumi dari batik daerah lainnya.

Setelah direndam, kain diangkat. Malam yang menempel kemudian dikerik dan kain dicuci hingga bersih.

Tidak semua kain membutuhkan waktu yang sama. Ada yang selesai dalam 40 hari, ada yang sekitar 60 hari atau dua bulan. Namun, untuk kain dengan motif dan proses tertentu, seluruh perjalanan dari awal hingga selesai bisa mencapai satu tahun.

Lamanya proses itu pula yang membuat harga batik gentongan sangat beragam. Ada yang dijual ratusan ribu rupiah, ada pula yang mencapai jutaan rupiah. Untuk kain tertentu, harganya bisa mencapai sekitar Rp8 juta.

Bagi pembeli yang sudah mengenal batik, karakter warna dan motif menjadi salah satu cara membedakan kain gentongan dengan batik biasa.

Sebab, tidak semua kain yang disebut gentongan benar-benar melalui proses gentongan. Perbedaan kualitas dan proses tersebut akhirnya turut menentukan harga.

Pasar batik Muhtarib pun tidak berhenti di Bangkalan. Produk-produknya telah dipasarkan ke Surabaya, Jakarta dan sejumlah daerah lainnya.

Ia juga memiliki agen di Jakarta dan rutin mengikuti pameran. Dari pameran tersebut, batiknya bisa bertemu dengan pembeli dari luar daerah, bahkan pernah dibawa ke pasar Malaysia.

Kawasan sekitar Suramadu juga menjadi salah satu jalur pemasaran. Harga di luar daerah sentra produksi biasanya lebih tinggi karena adanya biaya distribusi dan berbagai komponen lainnya.

Kain yang di Bangkalan bisa dijual sekitar Rp200.000, misalnya, dapat dipasarkan kembali dengan harga Rp350.000 hingga Rp500.000, tergantung motif dan kualitasnya.

Namun perjalanan usaha itu sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda.

Aktivitas masyarakat berhenti. Pameran dibatalkan. Pesanan seragam yang sebelumnya rutin datang setiap tahun ikut menghilang.

Muhtarib bahkan sempat menghentikan produksi selama lebih dari satu tahun.

“Sejak Covid itu libur semua. Orang takut bertemu, jadi aktivitas berhenti,” katanya.

Kini, aktivitas produksi perlahan kembali normal. Permintaan mulai bergerak seiring kembali berlangsungnya berbagai kegiatan masyarakat.

Di tengah perjalanan panjang mempertahankan usaha tersebut, Muhtarib juga mendapat pendampingan dari PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO). Hubungan itu telah berlangsung sejak 2003.

Setelah melalui proses pewarnaan didalam gentong, kain batik kemudian dicuci untuk menghilangkan malam kemudian dijemur.

Dukungan yang diberikan antara lain membuka kesempatan bagi usaha batiknya untuk mengikuti berbagai pameran di Surabaya maupun Jakarta. Bagi pelaku usaha seperti Muhtarib, pameran bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga pintu untuk memperluas jaringan dan memperkenalkan batik gentongan kepada pasar yang lebih luas.

Dari sebuah kain putih, perjalanan panjang itu akhirnya menghasilkan lebih dari sekadar selembar batik.

Ada keterampilan tangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada kepercayaan yang masih dijaga. Ada waktu berbulan-bulan yang tidak bisa dipangkas begitu saja.

Dan ada lebih dari 80 perempuan yang mendapatkan penghasilan dari setiap tahapan prosesnya.

Itulah sebabnya ketika selembar batik gentongan Tanjung Bumi dihargai jutaan bahkan puluhan juta rupiah, yang dibayar bukan hanya kain dan motifnya.

Di dalamnya ada waktu, kesabaran, keterampilan, tradisi, dan kehidupan banyak orang yang ikut menggantungkan harapan pada selembar kain. (onny)

REDAKSI

Recent Posts

Kapal Rumah Sakit PT PAL Selamatkan 11 Warga Papua Nugini di Pasifik

INVESTORJATIM.COM – Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) buatan PT PAL Indonesia, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991,…

12 jam ago

Dari Lahan Gersang, Petani Bandangdajah Bangkit Lewat Pertanian Regeneratif

INVESTORJATIM.COM – Tanah di Desa Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, bukanlah tanah yang mudah…

15 jam ago

DPS Konferensi PWI Jatim XVI Ditetapkan, 362 Anggota Berhak Memilih

INVESTORJATIM.COM — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur tengah mempersiapkan pelaksanaan Konferensi PWI Jatim XVI…

18 jam ago

Diperpanjang, Vikram Sinha Lanjut Pimpin Indosat, Kebut Transformasi Jadi AI TechCo

INVESTORJATIM.COM – RUPS Luar Biasa PT Indosat Tbk (IDX: ISAT) resmi memperpanjang masa jabatan President…

19 jam ago

TPS Gelar Safety Stand Down Cegah Zero Accident

INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar Safety Stand Down di Ruang Toba TPS,…

19 jam ago

Khofifah Beri Keringanan Pajak Kendaraan, Jatim Kejar Potensi Penerimaan Rp272,2 Miliar

INVESTORJATIM.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali memberikan kebijakan pembebasan dan keringanan pajak daerah bagi…

20 jam ago