Mohammad Marnawi (kiri) bersama anggota kelompok tani Bandangdajah Bangkalan.
INVESTORJATIM.COM – Tanah di Desa Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, bukanlah tanah yang mudah ditanami. Lahan perbukitan yang kering dan musim kemarau yang bisa berlangsung hingga delapan bulan membuat pertanian menjadi tantangan bagi warga setempat.
Kondisi itu pula yang membuat Mohammad Marnawi sempat menjadi bahan olok-olok warga ketika mulai menanami lahan gersang dengan tanaman hortikultura.
Banyak yang meragukan tanaman bisa tumbuh di tanah tersebut. Namun, Marnawi memilih mencoba.
Perlahan, lahan yang sebelumnya tandus mulai berubah. Timun, gambas, semangka, cabai, tomat hingga terong tumbuh di atasnya.
Kini, lahan itu menjadi salah satu lahan percontohan Eco Edufarming Bandangdajah dengan luas 5000 meter persegi yang dikelola Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera. Marnawi merupakan Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera.
“Awalnya memang banyak yang bilang, lahan seperti ini mau ditanami apa. Tapi kami coba terus,” kata Marnawi.
Bagi Marnawi dan kelompoknya, hasil dari lahan tersebut bukan sekadar soal tanaman yang berhasil tumbuh. Pertanian mulai menjadi sumber penghasilan yang bisa diandalkan, meski hasilnya tetap bergantung pada cuaca dan harga pasar.
Dalam satu periode tanam sekitar enam bulan, pendapatan kelompok bisa mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta ketika sebagian besar tanaman berhasil dipanen. Namun, saat terjadi gagal panen, hasilnya bisa turun menjadi sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta.
Karena itu, mereka tidak menanam semua komoditas secara bersamaan. Pola tanam dibuat bertahap agar ada tanaman yang bisa dipanen setiap bulan. Timun dan gambas, misalnya, dapat mulai dipanen sekitar satu bulan setelah tanam. Semangka membutuhkan waktu sekitar dua bulan, sementara cabai sekitar 75–90 hari. Tomat dan terong memiliki masa produksi yang lebih panjang.
Cara bertani seperti itu lahir dari proses yang cukup panjang. Sebelum berbicara soal hortikultura, warga Bandangdajah lebih dulu berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih mendasar: air.
Berawal dari Air Bersih
Kisah Eco Edufarming tidak bisa dilepaskan dari Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) Sumber Barokah. Kelompok ini dibentuk untuk menjawab keterbatasan akses air bersih di Desa Bandangdajah, serta wilayah Tanjung Bumi dan Telaga Biru yang masih berada di Kecamatan Tanjung Bumi.
HIPPAM Sumber Barokah menjadi bagian dari Program Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) sejak 2007. Melalui program tersebut, PHE WMO memberikan dukungan berupa pompa air untuk membantu memenuhi kebutuhan warga.
Seiring waktu, manfaatnya berkembang. Air tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung berbagai kegiatan ekonomi warga, mulai dari pengolahan makanan hingga usaha air minum isi ulang.
HIPPAM yang awalnya berfokus pada pemenuhan kebutuhan air bersih kemudian berkembang menjadi pintu masuk bagi kegiatan ekonomi masyarakat. Dari sinilah muncul pertanyaan berikutnya: jika air tersedia, untuk apa lagi sumber daya tersebut bisa dimanfaatkan?
Pertanyaan itu semakin relevan karena Bandangdajah ternyata memiliki cadangan air tanah yang cukup besar.
Pada 2019, PHE WMO bersama Universitas Gadjah Mada melakukan kajian cadangan air tanah dengan metode geolistrik. Hasil kajian menunjukkan Bandangdajah berada dalam kawasan Cekungan Air Tanah Ketapang dengan total cadangan sekitar 51 juta meter kubik per tahun.
Kebutuhan air untuk rumah tangga disebut sekitar 87.295 meter kubik per tahun, atau kurang dari 1 persen dari cadangan tersebut. Potensi itu kemudian membuka peluang pemanfaatan air secara lebih luas, termasuk untuk pertanian.
Namun, memanfaatkan air untuk pertanian di Bandangdajah bukan perkara sederhana. Tanahnya kering, musim hujan terbatas, sementara sebagian besar warga belum memiliki pengetahuan dan teknologi pertanian yang memadai.
Di sisi lain, kebutuhan sayur dan buah warga masih banyak dipasok dari wilayah lain di Pulau Jawa. Kondisi itu membuat harga komoditas yang masuk ke Madura bisa lebih tinggi, sementara daya simpannya relatif pendek.
Melihat berbagai persoalan tersebut, PHE WMO kemudian mengembangkan Eco Edufarming sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat. Pertanian dipilih bukan hanya untuk menghasilkan pangan, tetapi juga sebagai cara menghidupkan kembali lahan yang selama ini sulit dimanfaatkan.
Menghidupkan Lahan Kering
Tantangan pertama tentu saja tanah. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak sekadar mengandalkan pupuk dan air, tetapi berusaha memperbaiki kondisi lahan secara bertahap.
Eco Edufarming menerapkan konsep pertanian regeneratif. Sederhananya, tanah dijaga agar tetap tertutup, gangguan terhadap tanah dikurangi, tanaman dibuat beragam, dan unsur dari peternakan dimanfaatkan kembali untuk pertanian.
Kotoran ternak diolah menjadi kompos dan pupuk organik cair. Sisa tanaman dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah organik dan sabut kelapa juga diolah agar tidak terbuang percuma.
Dengan cara tersebut, pertanian dan peternakan tidak berjalan sendiri-sendiri. Limbah dari satu kegiatan menjadi bahan bagi kegiatan lainnya.
Penggunaan air pun dibuat lebih hemat. Kelompok tani memanfaatkan irigasi tetes, panel surya untuk membantu pompa air, penampungan air hujan, hingga teknologi pemanenan air dari atmosfer. Di beberapa bagian, mereka juga mencoba sistem hidroponik dan menggunakan sensor untuk memantau kondisi tanah.
Bagi Marnawi, berbagai teknologi itu bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah membuat lahan kering tetap bisa menghasilkan tanpa menghabiskan sumber daya yang ada.
Perubahan tersebut kemudian menarik perhatian warga dari desa lain. Mereka datang untuk melihat langsung cara pengolahan lahan dan belajar membuat pupuk organik.
Beberapa pengetahuan yang diperoleh di Bandangdajah bahkan mulai diterapkan di tempat lain. Salah satunya oleh mantan anggota kelompok yang kemudian pindah ke Desa Kubang, Kecamatan Geger, Bangkalan. Setelah belajar di Bandangdajah, ia mencoba menanam timun dan melanjutkannya dengan komoditas lain.
Dari Satu Lahan ke Lahan Lain
Bag Marnawi, ketika orang lain mulai mencoba cara yang sama, di situlah keberhasilan program terasa lebih nyata.
Eco Edufarming tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga ruang belajar. Petani dari desa lain datang untuk melihat praktik pertanian secara langsung. Mahasiswa, termasuk dari Universitas Trunojoyo Madura, juga pernah datang untuk belajar tentang pertanian dan pengolahan pupuk organik cair.
Program ini juga mendorong kelompok perempuan mengolah hasil pertanian menjadi produk pangan, seperti bumbu pecel Madura dan kacang kribo.
Dari satu persoalan, perlahan muncul rangkaian kegiatan lain. Air yang semula dicari untuk memenuhi kebutuhan dasar kemudian mendukung kegiatan ekonomi. Lahan yang semula dianggap sulit ditanami mulai menghasilkan sayuran dan buah. Limbah ternak yang sebelumnya menjadi masalah diolah menjadi pupuk.
Marnawi sendiri kini tidak lagi berpikir untuk meninggalkan desa demi mencari penghasilan. Ia justru ingin pengetahuan yang diperolehnya bisa diterapkan lebih luas, termasuk di kampung asalnya, Tambak Bocok, Bangkalan.
Untuk saat ini, ia masih memilih fokus mengembangkan lahan di Bandangdajah.
Dari lahan yang dulu menjadi bahan olok-olok, kini tumbuh berbagai tanaman hortikultura. Bagi Marnawi, perubahan itu menjadi bukti bahwa lahan kering bukan berarti tidak bisa menghasilkan.
Yang dibutuhkan, katanya, adalah kemauan untuk mencoba, pengetahuan untuk mengelola, dan kesabaran untuk menunggu hasilnya. (onny)
INVESTORJATIM.COM – Pohon-pohon cemara yang kini menghijau di kawasan pesisir Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten…
INVESTORJATIM.COM – Dulu, Pantai Pasir Putih Tlangoh bukan tempat yang ingin didatangi orang. Sampah berserakan…
INVESTORJATIM.COM – Ada sesuatu yang tidak terlihat ketika selembar batik gentongan Tanjung Bumi dibentangkan. Di…
INVESTORJATIM.COM – Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) buatan PT PAL Indonesia, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991,…
INVESTORJATIM.COM — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur tengah mempersiapkan pelaksanaan Konferensi PWI Jatim XVI…
INVESTORJATIM.COM – RUPS Luar Biasa PT Indosat Tbk (IDX: ISAT) resmi memperpanjang masa jabatan President…