Sungai Maron, Wujud Energi Berkeadilan yang Menghidupkan Lingkungan dan Ekonomi Warga

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah (kiri) bersama Tulus Laksono Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup bersama, saat menyusuri Sungai Maron. (foto/PLN NP)

INVESTORJATIM.COM – Bagi masyarakat di sekitar Sungai Maron, Pacitan, Jawa Timur, sungai bukan sekadar aliran air jernih yang diapit pepohonan rindang dan tebing karst. Sungai ini menjadi sumber penghidupan, tempat warga mencari nafkah, sekaligus potensi wisata yang perlu dijaga agar manfaatnya bisa dirasakan hingga generasi mendatang.

Namun, menjaga sungai bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri. Diperlukan keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak agar potensi alam tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian warga tanpa mengorbankan lingkungan.

Semangat inilah yang mendorong PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mendampingi masyarakat Sungai Maron sejak 2023. Melalui program Dari Energi untuk Sungai, perusahaan berupaya menghubungkan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta sejalan dengan tema Energi Berkeadilan: Memperluas Akses dan Manfaat bagi Masyarakat. Energi berkeadilan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan listrik, tetapi juga tentang bagaimana keberadaan perusahaan energi dapat membuka peluang, memperkuat kemampuan masyarakat, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan sekitarnya.

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan, sejak awal pendampingan di Sungai Maron, perusahaan tidak ingin sekadar membangun fasilitas, lalu meninggalkan masyarakat untuk mengelolanya sendiri.

“Ketika PLN Nusantara Power memulai pengembangan Sungai Maron pada 2023, kami tidak ingin hadir hanya dengan membangun fasilitas kemudian meninggalkannya. Kami ingin membangun sesuatu yang lebih fundamental, yaitu kapasitas masyarakat untuk dapat mengelola potensi yang mereka miliki sendiri,” ujar Ruly.

Dari wisata sungai menuju ekonomi masyarakat

Perjalanan Sungai Maron menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses yang berkelanjutan. Pada tahap awal, pendampingan difokuskan pada penguatan kelembagaan dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), peningkatan keselamatan wisata, serta pengembangan usaha masyarakat.

Salah satu upayanya adalah memberikan pelatihan kepada 93 joki perahu yang menjadi bagian penting dalam aktivitas wisata sungai. Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dilakukan agar perputaran ekonomi dari kunjungan wisata dapat memberikan manfaat lebih luas bagi warga setempat.

Baca Juga:  PLTS Terapung Cirata Raih Apresiasi Menteri IPK, Dorong Swasembada Energi

Seiring berjalannya waktu, pendampingan berkembang ke pengelolaan sampah, konservasi lingkungan, dan pemanfaatan energi bersih.

Pada 2025, melalui program SUMANTRI BERSERI atau Sungai Maron Lestari, Bersih, dan Berdikari, PLN NP mendukung penyediaan 10 unit perahu listrik CAKRA Electric Boat, stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) berbasis tenaga surya, sistem peringatan dini banjir atau Early Warning System (EWS), serta fasilitas pengolahan sampah berbasis prinsip 3R melalui TPS3R.

Perusahaan juga mendukung konservasi sempadan sungai dan pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), yakni material sisa pembakaran batu bara dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), untuk mendukung pembangunan fasilitas di kawasan wisata.

Material tersebut dimanfaatkan, antara lain, untuk pembuatan paving dan gapura. Pemerintah Kabupaten Pacitan juga mencatat dukungan berupa gerabah terakota berbahan FABA, rambu zonasi kecepatan perahu, hingga fasilitas penjaga keselamatan atau life guard.

Berbagai fasilitas itu menjadi bagian dari upaya membangun kawasan wisata yang lebih aman dan tertata. Pada saat yang sama, pemanfaatan material sisa pembakaran tersebut menunjukkan bagaimana sumber daya yang sebelumnya dipandang sebagai limbah dapat digunakan kembali untuk mendukung kebutuhan masyarakat, sesuai dengan pengelolaan yang memenuhi ketentuan lingkungan.

Mengolah limbah, menjaga sungai, membuka peluang

Memasuki 2026, program SUMANTRI BERANI atau Sungai Maron Lestari, Berdaya, dan Adaptif semakin menekankan keberlanjutan lingkungan sekaligus penguatan ekonomi warga.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah limbah kelapa. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini berpotensi menumpuk dan mengganggu kebersihan lingkungan. Melalui pendampingan yang dilakukan, limbah kelapa mulai diolah menjadi cocofiber, cocopeat, dan coirlog yang memiliki nilai guna.

Sebanyak 1.136 kilogram limbah kelapa diolah setiap bulan. Sementara itu, pemanfaatan coirlog, yaitu gulungan serat kelapa yang dapat digunakan untuk membantu pengendalian erosi dan abrasi, memberikan manfaat bagi 116 rumah tangga.

Bagi masyarakat, pengolahan limbah seperti ini membuka peluang agar bahan yang sebelumnya tidak bernilai dapat menjadi produk yang bermanfaat. Sementara bagi lingkungan, pemanfaatannya dapat membantu mengurangi timbunan limbah dan mendukung perlindungan kawasan sungai.

Baca Juga:  Limbah Buah Naga Jadi Berkah, Program PLN NP Raih Penghargaan ENSIA 2026

“Ini adalah contoh shared value. Ketika lingkungan menjadi lebih baik, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Ketika ekonomi masyarakat tumbuh, kepedulian terhadap lingkungan semakin kuat. Dan ketika masyarakat semakin berdaya, kawasan menjadi semakin berkelanjutan,” kata Ruly.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa manfaat program energi dapat hadir melalui berbagai bentuk. Bukan hanya lewat infrastruktur, melainkan juga melalui pengetahuan, keterampilan, kesempatan usaha, dan kemampuan masyarakat untuk mengelola potensi daerahnya.

Menjaga alam agar manfaatnya tidak berhenti

Komitmen terhadap lingkungan turut diwujudkan melalui kegiatan konservasi yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-31 PLN Nusantara Power. Dalam kegiatan Dari Energi untuk Sungai, PLN NP bersama para pemangku kepentingan melakukan penanaman 310 pohon, pemasangan 3.100 meter tali sabut kelapa, penanaman 10.000 tanaman akar wangi, serta pelepasliaran 3.100 benih ikan sidat.

Kegiatan tersebut dilengkapi dengan aksi bersih sungai dan edukasi lingkungan. Berbagai upaya ini ditujukan untuk menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya merawat sungai dari hulu hingga hilir.

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mengapresiasi pendampingan PLN NP yang telah berjalan sejak 2023. Menurutnya, perkembangan Sungai Maron memperlihatkan bahwa pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Terima kasih kepada PLN Nusantara Power yang sudah mendampingi masyarakat Maron sejak 2023. Saya menjadi saksi bagaimana pendampingan ini memberikan dampak yang baik bagi masyarakat. Sungai Maron memberikan berkah, sehingga wajib bagi kita untuk menjaga kelestariannya,” ujar Indrata.

Ia menilai pengembangan Sungai Maron bahkan mulai menarik perhatian daerah lain yang ingin mempelajari konsep serupa, termasuk dari Yogyakarta. Meski demikian, menurutnya, keberhasilan pengembangan wisata tidak cukup diukur dari banyaknya fasilitas atau meningkatnya kunjungan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Yang paling penting, bagaimana pengembangan wisata ini memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” katanya.

Indrata mengingatkan bahwa kelestarian sungai tidak dapat dipisahkan dari kondisi kawasan hulu. Vegetasi dan pepohonan berperan penting dalam menjaga ketersediaan air sehingga upaya konservasi harus dilakukan secara menyeluruh.

Baca Juga:  Dari Retrofit ke Green Hydrogen, PLN Nusantara Power Perluas Sinergi Panas Bumi dengan Geo Dipa

Pandangan serupa disampaikan Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH/BPLH Tulus Laksono. Ia menekankan pentingnya pemantauan kualitas air secara berkala, terutama karena Sungai Maron digunakan untuk aktivitas wisata air.

“Sungai Maron ini memiliki potensi yang luar biasa. Karena dimanfaatkan untuk aktivitas wisata air, kualitas airnya perlu dipantau secara berkala. Ini penting agar kita mengetahui kondisi sungai dan dapat segera melakukan langkah peningkatan apabila diperlukan,” ujar Tulus.

Menurut dia, menjaga kualitas air juga berarti melindungi kawasan hulu. Penanaman pohon bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan ketersediaan air dan menjaga keberlangsungan kehidupan di sepanjang sungai.

Tulus berharap pengembangan Sungai Maron dapat terus berjalan ketika pendampingan perusahaan berakhir. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu melanjutkan dan mengembangkan program secara mandiri.

Menuju kemandirian masyarakat

Harapan tersebut menjadi bagian penting dari tahap pengembangan Sungai Maron berikutnya. PLN NP mulai mendorong masyarakat untuk mengambil peran lebih besar, mulai dari kelompok Pokdarwis, pelaku UMKM, pengelola sampah, joki perahu, kelompok perempuan, hingga anak-anak melalui program Generasi Hijau Sungai Maron.

Keterlibatan berbagai kelompok ini penting agar tanggung jawab menjaga lingkungan dan mengembangkan ekonomi tidak hanya bertumpu pada satu pihak. Masyarakat juga diharapkan memiliki ruang lebih besar untuk menentukan arah pengelolaan kawasan sesuai dengan kebutuhan dan potensi setempat.

PLN NP bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan, KLH/BPLH, dan kelompok masyarakat akan melanjutkan kolaborasi yang telah dibangun. Pada 2027, program Sungai Maron diarahkan menuju tahap kemandirian, dengan harapan warga semakin mampu mengelola kawasan wisata, kegiatan ekonomi, dan konservasi secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, pengalaman Sungai Maron menunjukkan bahwa energi berkeadilan dapat dimaknai lebih luas daripada penyediaan energi itu sendiri. Kehadiran perusahaan energi juga dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan, mengembangkan usaha, menjaga lingkungan, dan memperkuat kemandirian ekonomi.

Sungai Maron mungkin dikenal karena airnya yang jernih dan pemandangannya yang memikat. Namun, keberhasilan menjaga kawasan ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat untuk terus merawatnya. Sebab, ketika lingkungan tetap lestari dan masyarakat memperoleh manfaat yang adil, energi pembangunan tidak hanya menggerakkan aktivitas hari ini, tetapi juga menjaga kehidupan untuk masa depan. (onny)

 

Komentar