SUN Energy Dorong Dekarbonisasi Industri Lewat Standar Industri Hijau

SUN Energy memperkuat perannya dalam menghadirkan solusi terintegrasi untuk mendorong percepatan penerapan Standar Industri Hijau (SIH) dan memperkuat daya saing industri nasional.

JAKARTA, INVESTORJATIM – Dekarbonisasi menjadi agenda penting bagi sektor manufaktur nasional di tengah meningkatnya tekanan regulasi, tuntutan pasar global, dan transformasi rantai pasok. Industri Indonesia kini dituntut tidak hanya tumbuh, tetapi juga beroperasi secara efisien, rendah emisi, dan berdaya saing global.

SUN Energy memperkuat perannya dalam mendorong percepatan penerapan Standar Industri Hijau (SIH) melalui solusi energi bersih dan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi energi sektor industri yang saat ini menyumbang lebih dari 40 persen konsumsi listrik nasional serta berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong SIH sebagai instrumen transformasi industri. Hingga kini, lebih dari 150 perusahaan telah memperoleh sertifikasi SIH. Standar ini juga menjadi penting di tengah tekanan global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), tuntutan transparansi jejak karbon, serta persyaratan ESG dari investor.

Ketua Tim Dekarbonisasi Industri Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Sri Gadis Pari Bekti, menyatakan dekarbonisasi sektor industri merupakan kunci pencapaian target emisi nol bersih. Pemerintah mendorong pembentukan ekosistem industri hijau yang didukung energi rendah karbon dan kebijakan terintegrasi.

Baca Juga:  PGN dan Universitas Udayana Kolaborasi Cari Terobosan dan Solusi Energi Hijau

Dalam implementasi SIH, pemanfaatan energi terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi langkah paling konkret. Data Kementerian ESDM menunjukkan kapasitas terpasang PLTS Atap nasional telah mencapai 495 MW per Juni 2025.

Jefferson Kuesar – CEO SUN Energy

Hingga 2025, SUN Energy telah mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS dengan kapasitas terpasang di atas 240 MW di berbagai sektor industri. Proyek tersebut berkontribusi menurunkan emisi karbon secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi biaya energi.

CEO SUN Energy E. Jefferson Kuesar mengatakan dekarbonisasi kini menjadi kebutuhan strategis industri. “Kami menghadirkan solusi terintegrasi, mulai dari energi surya, penyimpanan energi, hingga elektrifikasi kendaraan operasional, agar industri tetap kompetitif,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).

Melalui anak usahanya, SUN Mobility, SUN Energy juga mendorong elektrifikasi armada industri dengan potensi penghematan biaya bahan bakar hingga 85 persen dibandingkan armada diesel.

Salah satu implementasi dilakukan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang mengoperasikan PLTS lebih dari 71 MW di sejumlah fasilitas produksinya dan telah memperoleh sertifikasi SIH.

Baca Juga:  PLN Nusantara Power Perkuat Bauran Energi Bersih lewat PLTS Terapung dan Proyek Hijau

Ke depan, integrasi energi bersih dan penerapan Standar Industri Hijau diyakini akan memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mendukung target Net Zero Emissions 2060. (Onny)

Komentar