Modernisasi Teknologi Smelter, INALUM Bidik Produksi Aluminium 280.000 Ton

Smelter Inalum Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara Sumatera Utara. (foto/onny)

INVESTORJATIM.COM – Meningkatnya kebutuhan aluminium, baik di dalam negeri maupun pasar global, mendorong PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) terus meningkatkan kemampuan fasilitas produksinya. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memodernisasi teknologi dan memperbarui peralatan di fasilitas smelter Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.

Upaya ini bukan sekadar untuk menambah jumlah produksi. INALUM juga ingin memastikan setiap proses pengolahan aluminium berjalan lebih efisien, terutama dalam penggunaan energi listrik yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar biaya produksi.

Melalui peningkatan teknologi tersebut, INALUM membidik produksi aluminium hingga 280.000 ton. Angka ini meningkat dibandingkan kapasitas sebelumnya yang berada di kisaran 250.000 ton.

Kepala Grup Proyek Smelter INALUM Ismadi VJ (kiri) ((foto/onny)

Kepala Grup Proyek Smelter INALUM Ismadi VJ menjelaskan, peningkatan kapasitas dilakukan secara bertahap. Produksi yang sebelumnya sekitar 250.000 ton kini ditargetkan mencapai 275.000 ton, dengan peluang mencetak rekor hingga 280.000 ton.

Menurut dia, salah satu fokus modernisasi dilakukan pada Potline 2. Peningkatan teknologi di fasilitas ini memungkinkan perusahaan meningkatkan produktivitas sekaligus menghemat penggunaan listrik.

“Teknologi baru ini bisa menghemat penggunaan listrik sampai 6 persen. Karena listrik merupakan salah satu komponen biaya produksi yang cukup signifikan, penghematan tersebut tentu akan membuat biaya produksi menjadi lebih efisien,” ujar Ismadi, Jumat (30/10/2026)

Penghematan energi tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan fasilitas dalam mengolah aluminium. Salah satu indikatornya terlihat dari perbaikan current efficiency, yakni tingkat efektivitas penggunaan arus listrik dalam menghasilkan aluminium.

Ismadi menjelaskan, desain awal potline yang menggunakan teknologi Jepang memiliki tingkat current efficiency sekitar 87 persen. Melalui berbagai perbaikan dan improvisasi, INALUM berhasil meningkatkan angka tersebut menjadi 92 persen.

Setelah dilakukan peningkatan teknologi, current efficiency pada Potline 2 berpotensi mencapai 98 persen. Artinya, semakin banyak arus listrik yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan aluminium sehingga proses produksi menjadi lebih optimal.

Baca Juga:  MIND ID Dorong Publikasi Pertambangan Berbasis Data dan Fakta
Petugas saat kontrol mesin peleburan. (foto/onny)

Peningkatan ini penting karena dalam industri aluminium, efisiensi energi sangat menentukan besarnya biaya produksi. Semakin optimal listrik yang digunakan, semakin besar pula peluang perusahaan menghasilkan aluminium dengan biaya yang lebih kompetitif.

Memperkuat Pasokan Aluminium Dalam Negeri

Bertambahnya kapasitas produksi tentu membuka peluang bagi INALUM untuk memperkuat pasokan aluminium bagi industri nasional.

Selama ini, sekitar 40–50 persen pelaku industri aluminium domestik telah membeli produk dari INALUM. Dengan kemampuan produksi yang semakin besar, perusahaan memiliki ruang untuk meningkatkan kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Dari total produksi yang diproyeksikan mencapai 280.000 ton, sekitar 70–80 persen diharapkan dapat diserap pasar domestik. Sementara sisanya, sekitar 10–20 persen, berpeluang dipasarkan ke luar negeri.

Ismadi mengatakan, penyerapan pasar domestik memang tidak selalu bisa mencapai seluruh kapasitas produksi. Sebab, setiap perusahaan pengguna aluminium memiliki strategi pengadaan bahan baku masing-masing dan tidak selalu bergantung pada satu pemasok.

Karena itu, INALUM akan terlebih dahulu menawarkan produknya kepada konsumen dalam negeri untuk melihat kebutuhan dan kemampuan penyerapan pasar.

Jika seluruh produksi dapat diserap industri nasional, perusahaan tentu akan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. Namun, apabila masih terdapat kelebihan produksi, pasar ekspor menjadi salah satu alternatif penyalurannya.

Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, INALUM mengandalkan pengalaman panjang dalam melayani industri aluminium sejak 1982. Selama hampir 45 tahun, perusahaan telah membangun hubungan bisnis dengan berbagai konsumen, baik melalui kualitas produk, harga yang kompetitif, maupun keandalan pengiriman.

Salah satu keunggulan yang terus dijaga adalah kemampuan mengirimkan produk dalam waktu relatif cepat. INALUM memiliki gudang distribusi di sejumlah wilayah strategis, yakni Medan, Jakarta, dan Surabaya.

Baca Juga:  Hilirisasi Mineral Perlu Naik Kelas, Nilai Tambah Harus Tinggal di Dalam Negeri

Keberadaan gudang tersebut memungkinkan perusahaan menerapkan sistem pengiriman just in time. Dengan sistem ini, konsumen bisa mendapatkan aluminium dalam waktu sekitar satu hingga dua hari setelah pemesanan, bergantung pada lokasi dan ketersediaan barang.

Bagi pelanggan, kecepatan pengiriman seperti ini cukup penting. Mereka tidak perlu menyimpan persediaan bahan baku terlalu banyak di area pabrik karena kebutuhan aluminium dapat dipenuhi sesuai jadwal produksi.

Dengan demikian, biaya penyimpanan persediaan juga bisa ditekan dan modal perusahaan pengguna dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional lainnya.

Mengembangkan Produk Bernilai Tambah

Selain memperkuat pasar domestik, INALUM juga melihat peningkatan kapasitas produksi sebagai peluang untuk memperluas pasar ekspor.

Selama ini, aluminium produksi INALUM telah dipasarkan ke berbagai negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara, Jepang, Korea Selatan, Eropa, hingga Amerika Latin.

Proses peleburan aluminium di smelter Koala Tanjung. (foto/onny)

Aluminium ingot masih menjadi salah satu produk yang banyak diminati. Namun, perusahaan juga mulai memperluas pemasaran produk billet dan alloy yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari strategi INALUM untuk tidak hanya menjual aluminium dalam bentuk bahan baku dasar, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dari setiap ton aluminium yang dihasilkan.

Pasar untuk produk billet dan alloy pun mulai berkembang. Kedua produk tersebut telah memasuki sejumlah negara, termasuk Korea Selatan, Jepang, Spanyol, dan Italia.

Untuk memperluas jangkauan pasar, INALUM aktif mengikuti berbagai forum dan pertemuan bisnis aluminium internasional. Melalui kegiatan tersebut, perusahaan membangun jaringan dengan perusahaan manufaktur maupun perusahaan perdagangan yang memiliki akses ke pasar global.

(kiri ke kanan) Hasil produksi di Smelter, Billet, Ingot dan Alloy. (foto/onny)

Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama baru sekaligus memperkuat posisi produk aluminium Indonesia di pasar internasional.

Baca Juga:  Petrokimia Gresik Perkuat Rantai Pasok Pupuk, Gandeng Freeport dan MIND ID

Efisiensi Bahan Baku dan Energi Jadi Keunggulan

Di tengah persaingan industri aluminium global, peningkatan kapasitas produksi saja tidak cukup. Perusahaan juga harus mampu menjaga biaya produksi agar tetap kompetitif.

Ismadi menjelaskan, terdapat tiga komponen utama yang memengaruhi biaya produksi aluminium, yakni bahan baku, energi listrik, dan biaya operasional lainnya.

Dari sisi bahan baku, alumina menjadi salah satu komponen terbesar. Untuk menghasilkan satu ton aluminium dibutuhkan sekitar dua ton alumina. Biaya alumina sendiri diperkirakan menyumbang sekitar 30–35 persen dari total biaya produksi.

Dalam hal ini, INALUM memiliki keuntungan dari sisi rantai pasok karena didukung fasilitas pengolahan alumina atau alumina refinery di Mempawah, Kalimantan Barat.

Kedekatan sumber pasokan tersebut membantu perusahaan menekan biaya transportasi alumina menuju smelter Kuala Tanjung. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri dibandingkan jika perusahaan harus mendatangkan bahan baku dari negara lain, seperti Australia atau Vietnam.

Keunggulan lainnya berasal dari penggunaan listrik berbasis tenaga air atau PLTA.

Dalam industri aluminium, ketersediaan listrik dengan harga kompetitif menjadi salah satu faktor penting yang menentukan daya saing perusahaan. Pasokan listrik dari PLTA memberikan keuntungan dari sisi biaya sekaligus mendukung pengembangan industri yang lebih berkelanjutan karena memanfaatkan energi terbarukan.

Kombinasi pasokan alumina yang terintegrasi, dukungan listrik dari PLTA, serta modernisasi teknologi smelter menjadi modal bagi INALUM untuk menjaga efisiensi biaya produksi.

Ismadi menyebutkan, berdasarkan pengukuran melalui industry cost curve, posisi biaya produksi INALUM berada pada kuartil pertama. Artinya, perusahaan masuk dalam kelompok 25 persen produsen aluminium dengan biaya produksi terendah di industri global.

Ke depan, peningkatan teknologi Potline 2 diharapkan semakin memperkuat posisi tersebut. Dengan kapasitas produksi yang lebih besar, konsumsi listrik yang lebih hemat, dan produktivitas yang meningkat, INALUM memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan aluminium yang terus berkembang.

Pada akhirnya, modernisasi smelter bukan hanya tentang menghasilkan aluminium dalam jumlah lebih banyak. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan bahan baku bagi industri nasional, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, serta memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok aluminium global. (onny)

Komentar