Laba MBMA Melonjak 13 Kali pada Kuartal I/2026, Ditopang Lonjakan Produksi Bijih Nikel

Pendapatan MBMA naik 24% menjadi US$455,1 juta, sementara proyek hilirisasi HPAL bersiap memasuki tahap produksi.

INVESTORJATIM.COM – PT Merdeka Battery Materials Tbk mencatatkan awal tahun yang impresif. Emiten berkode MBMA itu membukukan lonjakan laba dan peningkatan pendapatan pada kuartal I/2026, seiring meningkatnya produksi dan penjualan bijih nikel serta membaiknya margin bisnis pengolahan nikel.

Sepanjang Januari-Maret 2026, MBMA membukukan pendapatan sebesar US$455,1 juta atau meningkat 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$366,1 juta. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan bijih nikel, harga jual yang lebih baik, serta menguatnya margin produk Nickel Pig Iron (NPI).

Kinerja operasional yang membaik turut mengerek profitabilitas perseroan. EBITDA melonjak 361% secara tahunan menjadi US$143 juta dari US$31 juta. Sementara itu, laba bersih konsolidasian meningkat tajam menjadi US$82 juta, dibandingkan hanya US$6 juta pada kuartal I/2025.

Di sisi lain, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) mencapai US$29,9 juta, berbalik dari posisi rugi bersih US$3,5 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Laba MDKA Meledak! Merdeka Copper Gold Raup Untung US$120 Juta, Harga Emas dan Nikel Jadi Mesin Penggerak

Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo, mengatakan pencapaian tersebut didorong oleh meningkatnya volume produksi bijih nikel, perbaikan harga jual, serta penguatan margin NPI.

“MBMA mencatat awal tahun yang kuat pada 2026, didukung oleh peningkatan volume bijih nikel, harga jual yang lebih baik, dan penguatan margin NPI. Fokus kami tetap pada efisiensi operasional, disiplin dalam alokasi modal, serta pengembangan proyek hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan perseroan,” ujarnya.

Dari sisi operasional, volume bijih nikel yang ditambang melonjak 143% menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt). Produksi limonit dan saprolit meningkat signifikan untuk memenuhi kebutuhan pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) maupun fasilitas peleburan (smelter) milik perseroan.

Penjualan limonit tercatat mencapai 4,8 juta wmt atau naik 126% secara tahunan, sedangkan pengiriman saprolit meningkat 42% menjadi 1,9 juta wmt. Margin tunai kedua produk tersebut tetap terjaga masing-masing sebesar US$10,1 per wmt untuk limonit dan US$4,0 per wmt untuk saprolit.

Pada segmen pengolahan, fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) mengolah 2,2 juta wmt saprolit dan menghasilkan hampir 20.000 ton nikel dalam bentuk NPI, termasuk Low-Grade Nickel Matte (LGNM). Produksi dan penjualan NPI meningkat 23% setelah rampungnya pemeliharaan fasilitas pada tahun lalu.

Baca Juga:  OJK Pacu Reformasi Pasar Modal, Respons Masukan MSCI dan Perkuat Transparansi

Sementara itu, produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) naik 9% menjadi 10.361 ton. Adapun produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari fasilitas HPAL PT ESG New Energy Material mencapai 5.194 ton berkat meningkatnya efisiensi pasokan bijih setelah beroperasinya Feed Preparation Plant dan jalur pipa slurry.

MBMA juga terus mempercepat pengembangan proyek hilirisasi melalui PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Hingga akhir kuartal I/2026, progres pembangunan pabrik HPAL telah mencapai 95%, sedangkan Feed Preparation Plant mencapai 94%.

Perseroan menyebut proyek HPAL SLNC telah menyelesaikan proses commissioning pada akhir kuartal II/2026 dan kini menunggu penerbitan Izin Usaha Industri (IUI). Produksi komersial ditargetkan meningkat secara bertahap pada semester II/2026.

Dari sisi keuangan, MBMA mempertahankan likuiditas yang kuat. Per 31 Maret 2026, kas dan setara kas mencapai US$350 juta dengan total utang sebesar US$1,06 miliar. Rasio utang bersih terhadap EBITDA berada di level 2,1 kali, jauh di bawah batas maksimum yang dipersyaratkan sebesar 5 kali.

Untuk sepanjang 2026, perseroan menargetkan penjualan saprolit sebesar 8 juta-10 juta wmt dan limonit sebesar 20 juta-25 juta wmt. Selain itu, produksi NPI ditargetkan mencapai 70.000-80.000 ton nikel, HGNM sebanyak 44.000-48.000 ton, serta produksi MHP sebesar 27.000-30.000 ton.

Baca Juga:  Cadangan Nikel MBMA Melonjak 48%, Perkuat Pasokan Hilirisasi Baterai

Manajemen optimistis momentum pertumbuhan akan berlanjut hingga akhir tahun, didukung peningkatan pasokan bijih dari tambang sendiri, penguatan margin, serta mulai beroperasinya proyek-proyek hilirisasi yang diharapkan memperkuat posisi MBMA dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik. (Onny)

Komentar