ITS Dorong Kampus Inklusif, Rektor: Keunggulan PTN Kini Tak Lagi Hanya Soal Akademik

Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD sebagai pembicara dalam agenda Talkshow yang membahas Universitas yang Inklusif dan Antikekerasan di UGM.

INVESTORJATIM.COM – Persaingan perguruan tinggi di era global dinilai telah bergeser. Keunggulan kampus tak lagi hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga kemampuannya membangun lingkungan yang inklusif, aman, dan berpusat pada manusia.

Pandangan tersebut disampaikan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST, MScEng, PhD saat menjadi pembicara dalam diskusi Universitas Inklusif dan Antikekerasan: Aksesibilitas, Kesejahteraan, dan Kesempatan yang Setara pada rangkaian U25 PTN-BH Leaders Forum 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (29/7/2026).

Menurut Bambang, arah pengembangan perguruan tinggi saat ini harus berfokus pada pembangunan human-centered ecosystem atau ekosistem yang menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan.

“Universitas tidak cukup hanya mengakomodasi perbedaan, tetapi juga harus menjadi ruang yang memungkinkan setiap individu berkembang secara optimal,” ujarnya.

Dia menegaskan, bagi perguruan tinggi berbasis teknologi seperti ITS, inovasi tidak boleh berhenti pada penciptaan teknologi mutakhir semata. Hasil riset dan rekayasa harus mampu menjawab persoalan kemanusiaan sekaligus memperluas akses bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga:  ITS Pacu Inovasi Robotaxi, Mobil Listrik Tanpa Pengemudi Mulai Diuji

Untuk mendukung visi tersebut, ITS membangun lima pilar utama, yakni tata kelola, infrastruktur, kampus digital, kesejahteraan, dan inovasi inklusif. Kelima aspek itu dirancang agar nilai inklusivitas menjadi bagian dari budaya kampus.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi teknologi asistif yang dikembangkan sivitas akademika ITS. Beberapa di antaranya Neutrack AI Glove, sarung tangan berbasis kecerdasan buatan untuk membantu navigasi penyandang tunanetra dan pasien Alzheimer, BaaDaaBoo sebagai media edukasi pramenulis, SMILE Hand Therapy untuk terapi fisik berbasis gim, serta MobiAi, kursi roda pintar yang dikendalikan melalui gerakan mata.

“Teknologi harus dikembangkan dengan empati agar tidak ada satu pun yang tertinggal,” kata Bambang.

Selain aksesibilitas, Bambang menilai kesehatan mental menjadi tantangan yang semakin penting di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, layanan kesehatan mental tidak cukup hanya mengandalkan konseling saat masalah muncul, melainkan perlu dibangun melalui sistem yang komprehensif mulai dari skrining dini, pendampingan akademik hingga mekanisme rujukan profesional.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Keberadaan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), didukung kebijakan yang kuat, sistem pelaporan yang kredibel, serta penanganan yang berpihak kepada korban, dinilai menjadi prasyarat terciptanya kampus yang aman dan inklusif.

Baca Juga:  Menteri LH Lirik Inovasi ITS, Solusi Zero Waste hingga Pengelolaan Limbah MBG Dinilai Siap Diadopsi

Bambang menambahkan, meningkatnya jumlah laporan kekerasan seksual tidak selalu mencerminkan kegagalan institusi. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi indikator meningkatnya kepercayaan sivitas akademika terhadap sistem perlindungan yang tersedia.

Melalui forum yang dihadiri para pimpinan PTN-BH tersebut, ITS mendorong agar inklusivitas menjadi agenda bersama perguruan tinggi di Indonesia. Menurutnya, teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan harus berjalan beriringan untuk menciptakan pendidikan tinggi yang inklusif, bebas kekerasan, dan mampu bersaing di tingkat global. (Onny)

Komentar