
INVESTORJATIM.COM – Hyundai JUMP School Indonesia kembali melanjutkan program pendampingan pendidikan bagi siswa sekolah dengan melibatkan mahasiswa dari tiga perguruan tinggi. Memasuki tahun ketiga, program yang diinisiasi PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) ini memperluas jangkauannya ke Surabaya melalui kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
ITS bergabung dengan Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang telah lebih dulu terlibat dalam program tersebut. Perluasan ini sekaligus menjadi langkah pertama Hyundai JUMP School Indonesia di Surabaya, setelah sebelumnya berjalan di Jakarta dan Bandung.
Pada pelaksanaan Batch 3, sebanyak 100 mahasiswa akan menjadi relawan pendamping bagi siswa di 20 pusat pembelajaran dan sekolah di tiga kota tersebut. Rinciannya, 40 mahasiswa berasal dari UI, 30 mahasiswa dari ITB, dan 30 mahasiswa dari ITS.
Para mahasiswa akan mendampingi siswa dalam kegiatan belajar sekaligus memberikan dukungan emosional. Mereka juga mendapat kesempatan mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kepedulian sosial melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
President Director PT Hyundai Motors Indonesia Kenny Lee mengatakan, program ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di lingkungan kampus, tetapi juga dapat berbagi pengetahuan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Melalui Hyundai JUMP School, kami ingin memberdayakan generasi muda untuk terus belajar, berbagi, dan menginspirasi generasi berikutnya,” kata Kenny dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10/2026).
Menurut dia, perluasan program ke Surabaya merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi jangka panjang dengan perguruan tinggi dan komunitas lokal.
Hyundai JUMP School Indonesia pertama kali diluncurkan pada September 2024 melalui kerja sama dengan UI. Program Batch 1 berlangsung hingga Juni 2025. Pada Batch 2 yang dimulai Oktober 2025, jangkauannya diperluas dengan melibatkan ITB sehingga kegiatan pendampingan juga berlangsung di Bandung.
Memasuki Batch 3, program ini kembali bertambah luas dengan keikutsertaan ITS. Dengan tambahan 100 mahasiswa pada tahun ini, jumlah mahasiswa yang telah terlibat dalam tiga batch mencapai 250 orang.
Secara kumulatif, Hyundai JUMP School Indonesia juga diperkirakan telah memberikan manfaat kepada sekitar 1.400 siswa melalui kegiatan belajar dan pendampingan sejak pertama kali dilaksanakan pada 2024.
Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UI Dadan Erwandi mengatakan, program tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan di luar ruang kelas sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Menurut Dadan, pengalaman menjadi relawan dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan sosial.
“Pengalaman seperti ini penting untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kesiapan untuk berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Direktur Kemahasiswaan ITB Muhamad Insanu. Ia menilai, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pendampingan memberi ruang bagi mereka untuk belajar berkomunikasi, mengembangkan empati, serta memahami kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITS Nurul Widiastuti menyambut baik keterlibatan kampusnya dalam program tersebut.
Ia berharap mahasiswa ITS dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menerapkan ilmu yang dimiliki sekaligus memperoleh pengalaman dalam kegiatan sosial.
“Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa kami untuk menerapkan pengetahuan di luar lingkungan universitas, sekaligus mengembangkan empati dan kemampuan kepemimpinan,” kata Nurul.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa relawan tidak bekerja sendiri. Mereka akan mendapat bimbingan dari mentor profesional dengan beragam latar belakang, termasuk karyawan Hyundai. Pendampingan ini diharapkan membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik, profesional, dan personal.
Hyundai JUMP School sendiri pertama kali diperkenalkan di Korea Selatan pada 2013. Program tersebut kemudian berkembang ke sejumlah negara, termasuk Vietnam dan Indonesia, dengan menghubungkan siswa sekolah, mahasiswa relawan, dan mentor profesional dalam satu ekosistem pembelajaran.
Melalui pola tersebut, program ini tidak hanya memberikan pendampingan kepada siswa, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa dan mentor untuk berbagi pengalaman serta mengembangkan kemampuan diri. (onny)














Komentar