Gas Buang Disulap Jadi “Emas Hijau”, PLN NP Pamer Teknologi Tangkap Karbon Pertama di RI

Mesin Carbon Capture and Storage (CCS) berbasis alga pertama di Indonesia yang terdapat di PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Muara Karang. 

INVESTORJATIM.COM – Di tengah tekanan global untuk memangkas emisi karbon, PT PLN Nusantara Power (PLN NP) justru melangkah lebih agresif. Tak sekadar wacana transisi energi, perusahaan ini mulai “menjinakkan” gas buang pembangkit menjadi sumber nilai ekonomi baru. Berlokasi di PLTGU Muara Karang, PLN NP resmi mengoperasikan teknologi Carbon Capture berbasis mikroalga—yang diklaim sebagai yang pertama di sektor ketenagalistrikan Indonesia.

Proyek ini menggunakan teknologi FBR (fotobioreaktor) mikroalga dan telah beroperasi sejak akhir Maret 2026. Inovasi ini menjadi tonggak baru dalam upaya dekarbonisasi, sekaligus membuka peluang pemanfaatan emisi menjadi produk bernilai tambah.

Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero), Hartanto Wibowo, menegaskan bahwa emisi karbon harus dikelola melalui pendekatan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).

“Melalui terobosan PLN Nusantara Power yang mengujicobakan penangkapan karbon berbasis alga, jika berhasil, ini membuka peluang besar bagi Indonesia dalam menurunkan emisi karbon. PLTGU Muara Karang juga menjadi inisiator awal pengembangan green hydrogen,” ujarnya dalam keterangan resmi Sabtu (18/4/2026).

Baca Juga:  PLN NP Lepas 150 Tukik dan 1 Penyu Sisik di Pantai Pancer Door, Komitmen Lanjutkan Aksi Lingkungan Berkelanjutan

Secara teknis, teknologi ini menggunakan fotobioreaktor berkapasitas 3.000 liter. Berdasarkan riset awal, efisiensi proses di dalam reaktor mencapai 70–90%, dengan rata-rata tingkat penangkapan CO2 sekitar 75%.

Anggota Dewan Energi Nasional, Sripeni Inten Cahyani, menilai inovasi ini menempatkan Muara Karang sebagai pusat inovasi energi.

“UP Muara Karang menjadi center of leading innovation energy karena telah melahirkan green hydrogen serta CCS berbasis alga. Konsep Green CCS ini memanfaatkan sumber daya yang sudah ada,” jelasnya.

Menariknya, hasil tangkapan karbon tidak berhenti sebagai limbah. Biomassa alga yang dihasilkan justru memiliki nilai ekonomi, karena dapat diolah menjadi pupuk alami hingga pakan perikanan. Skema ini menciptakan ekosistem ekonomi sirkular, di mana pengurangan emisi berjalan seiring dengan penciptaan nilai tambah.

Direktur Utama PLN NP, Ruly Firmansyah, menegaskan bahwa proyek di Muara Karang akan menjadi model replikasi di pembangkit lain.

“PLTGU Blok 3 Muara Karang menghasilkan emisi CO2 sebesar 4–6% dari total flue gas. Dengan teknologi ini, laju penangkapan mencapai 70 hingga 90%. Setiap bulan juga dihasilkan biomassa alga yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan perikanan maupun pupuk alami,” ujarnya dalam kegiatan site visit di Jakarta.

Baca Juga:  PLN Nusantara Power Targetkan Semua Karyawan Jadi Relawan Tahun Ini

Melalui kunjungan yang melibatkan DEN dan manajemen PLN, perusahaan juga membuka ruang evaluasi, termasuk potensi penguatan offtaker biomassa serta monetisasi karbon melalui skema kredit karbon.

Ke depan, langkah ini diharapkan mempercepat transformasi PLN NP menjadi perusahaan energi hijau yang kompetitif secara global. Dengan kapasitas terpasang mencapai 2.105 MW, PLTGU Muara Karang tak hanya menjadi tulang punggung pasokan listrik Jakarta—termasuk kawasan strategis seperti Istana Presiden, DPR/MPR, hingga MRT—tetapi kini juga diposisikan sebagai laboratorium hidup teknologi rendah karbon.

“Pembangkit listrik tidak lagi sekadar penyedia energi, tetapi bagian dari solusi lingkungan. Kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan sektor swasta akan terus diperkuat untuk mengembangkan teknologi berkelanjutan,” tutup Ruly. (Onny)

Komentar