Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz.
INVESTORJATIM.COM – Perekonomian global masih dibayangi sejumlah tantangan pada 2026. Harga energi yang tinggi, suku bunga global yang masih ketat, hingga perlambatan ekonomi dunia menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.
Meski demikian, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan. Stabilitas makroekonomi, aliran investasi, serta berkembangnya sejumlah sektor strategis menjadi penopang perekonomian nasional.
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, mengatakan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi sekitar 3 persen pada akhir 2026.
Perlambatan tersebut salah satunya dipengaruhi kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik yang kemudian menimbulkan tekanan inflasi dan membuat kondisi keuangan global semakin ketat.
“Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi 3,0 persen pada akhir 2026 sebelum kembali membaik pada 2027,” ujar Irman dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Harga minyak yang sempat melonjak juga diperkirakan mulai menurun secara bertahap seiring dengan penyesuaian pasokan global.
Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh
Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia diperkirakan masih mampu mencatat pertumbuhan sekitar 5,2 persen pada 2026.
Irman mengatakan pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh investasi, belanja pemerintah, konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik, serta kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk menjaga momentum perekonomian.
Investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) juga masih menunjukkan tren positif. Sejumlah sektor menjadi magnet investasi, terutama hilirisasi, industri logam dasar, serta pengembangan pusat data atau data center.
“Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global,” kata Irman.
Menurut dia, investasi masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Di sisi lain, hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah dan panjang.
Risiko Eksternal Masih Membayangi
Meski prospek ekonomi Indonesia dinilai positif, sejumlah risiko eksternal tetap perlu diantisipasi.
Salah satunya adalah potensi peningkatan defisit transaksi berjalan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia.
Volatilitas pasar keuangan global juga menjadi perhatian. Perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju berpotensi memengaruhi arus modal ke Indonesia sekaligus pergerakan nilai tukar rupiah.
Karena itu, pendalaman pasar keuangan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
BI Perkuat Pasar Valuta Asing
Bank Indonesia terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan, khususnya untuk memperdalam pasar valuta asing (valas) domestik.
Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengatakan pasar valas yang dalam, likuid, dan berdaya tahan semakin dibutuhkan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Bank Indonesia telah menerapkan sejumlah kebijakan, antara lain pengembangan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valas, serta implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).
Kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik.
Selain memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar valas, memperbaiki transparansi transaksi, dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
“Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” ujar Yansen.
Ia menambahkan, penyempurnaan kebijakan pasar valas diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta menciptakan pasar keuangan yang lebih inklusif dan mampu menghadapi dinamika global.
Dengan kondisi tersebut, prospek ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai masih relatif positif. Stabilitas makroekonomi, investasi, serta penguatan pasar keuangan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan sekaligus meningkatkan daya saing di tengah perubahan lanskap ekonomi global. (onny)
INVESTORJATIM.COM – PT PAL Indonesia memastikan perbaikan KMP Mahkota Nusantara rampung sesuai target sehingga kapal…
INVESTORJATIM.COM – Investor dinilai perlu melihat lebih dari sekadar pergerakan harga saham sebelum menentukan keputusan…
INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mencatatkan kinerja positif sepanjang Agustus 2026 dengan arus…
INVESTORJATIM.COM – Memasuki satu dekade perjalanan di industri energi bersih, SUN mulai mengubah arah bisnis.…
INVESTORJATIM.COM - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mendorong perluasan pemanfaatan gas bumi di…
INVESTORJATIM.COM – Menikmati suasana pegunungan tak selalu harus dilakukan dengan berwisata. Aktivitas olahraga ringan juga…