Head of Marketing SUN, Pradipta (kanan) bersama Wilson, Head of Business Development SUN Mobility usai bertemu wartawan di Surabaya, Selasa (8/9/2026).
INVESTORJATIM.COM – Memasuki satu dekade perjalanan di industri energi bersih, SUN mulai mengubah arah bisnis. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pengembang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kini memperluas layanan menjadi electrification business partner bagi sektor industri.
Perubahan tersebut menjadi strategi SUN menghadapi kebutuhan industri yang semakin kompleks. Pelanggan kini tidak hanya membutuhkan energi surya, tetapi juga solusi untuk menekan biaya operasional, menyimpan energi, mengelektrifikasi kendaraan hingga mengelola emisi karbon.
Head of Marketing SUN, Pradipta, mengatakan pengalaman selama bertahun-tahun di bisnis solar photovoltaic (PV) membuat perusahaan memahami bahwa kebutuhan pelanggan jauh lebih luas dibanding sekadar pemasangan panel surya.
“Selama kurang lebih tujuh tahun kami bermain di bisnis model sebagai solar PV developer. Namun, setelah berdiskusi lebih jauh dengan customer, ternyata kebutuhan mereka lebih besar dari sekadar instalasi solar panel,” ujar Pradipta di Surabaya, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, perubahan model bisnis tersebut juga menjadi bagian dari upaya SUN beradaptasi dengan perubahan regulasi dan tekanan efisiensi yang dihadapi industri.
Dari Solar Panel ke Ekosistem Elektrifikasi
Jika sebelumnya fokus SUN berada pada pengembangan PLTS, kini portofolionya diperluas mencakup battery energy storage system (BESS), fleet electrification, energy management system hingga solusi karbon.
BESS, misalnya, menjadi peluang bagi industri yang membutuhkan sumber listrik cadangan. Di sektor pertambangan, kebutuhan ini cukup besar karena operasional berlangsung selama 24 jam dan sebagian perusahaan masih mengandalkan diesel generator sebagai sumber listrik cadangan.
“Ketika harga bahan bakar berubah-ubah, industri menghadapi ketidakpastian biaya. BESS bisa menjadi salah satu alternatif untuk menggantikan penggunaan diesel generator sebagai sumber backup,” katanya.
Peluang lain datang dari elektrifikasi kendaraan operasional, terutama di sektor pertambangan yang memiliki armada dalam jumlah besar.
SUN tidak hanya menyasar mobil penumpang, tetapi juga kendaraan komersial dan alat berat seperti dump truck, tractor head, wheel loader, excavator hingga forklift.
Wilson, Head of Business Development SUN Mobility, mengatakan elektrifikasi kendaraan dapat dilakukan tanpa membebani pelanggan dengan investasi awal yang besar melalui skema MOVE (Monthly OPEX Vehicle Electrification).
“Kami memberikan solusi elektrifikasi kendaraan tanpa ada upfront cost di depan. Jadi cukup secara OPEX atau pembayaran secara bulanan,” ujarnya.
Model tersebut memungkinkan perusahaan mengubah belanja investasi kendaraan menjadi biaya operasional bulanan.
Efisiensi Jadi Kunci
Bagi SUN, elektrifikasi bukan semata-mata soal mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik.
Sistem tersebut juga memungkinkan perusahaan memantau penggunaan armada melalui teknologi telematics dan energy management. Data seperti konsumsi energi, kecepatan, perilaku pengemudi dan aktivitas kendaraan dapat dipantau secara terintegrasi.
Di sektor pertambangan, misalnya, SUN melihat potensi efisiensi yang besar karena konsumsi bahan bakar kendaraan operasional relatif tinggi.
Berdasarkan perhitungan perusahaan, penghematan biaya operasional kendaraan listrik dapat mencapai sekitar 50%-85%, tergantung jenis kendaraan dan pola penggunaannya.
SUN juga mengembangkan ekosistem yang menggabungkan kendaraan listrik dengan sumber energi terbarukan. Di lokasi tambang, misalnya, rooftop solar dapat dikombinasikan dengan BESS untuk memasok kebutuhan stasiun pengisian kendaraan listrik.
Setiap Industri Butuh Solusi Berbeda
Pradipta menilai pendekatan elektrifikasi tidak bisa diterapkan dengan formula yang sama untuk seluruh industri.
Karakteristik kebutuhan sektor pertambangan tentu berbeda dengan manufaktur, logistik maupun industri makanan.
“Setiap industri mempunyai kebutuhan yang berbeda. Kami melihat posisi SUN seperti penjahit. Kami harus melihat dulu kebutuhan industrinya seperti apa, baru kemudian solusinya dirancang,” katanya.
Di Jawa Timur, misalnya, terdapat peluang pengembangan energi berbasis biomassa karena karakteristik industrinya, termasuk industri gula yang menghasilkan limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Sementara di pertambangan, kebutuhan dapat mencakup PLTS, BESS, kendaraan listrik dan sistem manajemen energi.
SUN juga menyediakan solusi terkait sertifikat karbon bagi perusahaan yang memiliki target pengurangan emisi tetapi memiliki keterbatasan untuk menggunakan energi terbarukan secara langsung.
Seluruh solusi tersebut kemudian dapat diintegrasikan melalui energy management system, sehingga pelanggan dapat memantau produksi PLTS, konsumsi energi, penyimpanan energi dan penggunaan kendaraan listrik dalam satu sistem.
10 Tahun dan Perubahan Arah Bisnis
Perubahan strategi tersebut menjadi penanda penting dalam perjalanan 10 tahun SUN.
Perusahaan tidak lagi hanya menjual atau mengembangkan pembangkit surya, tetapi berupaya mengambil posisi sebagai mitra yang membantu industri mengelola seluruh kebutuhan elektrifikasinya.
Model pembiayaan juga dipertahankan untuk mengurangi hambatan investasi pelanggan. SUN melakukan asesmen, merancang sistem, membangun dan menanggung investasi awal, sementara pelanggan membayar layanan secara berkala.
“Customer tidak perlu mengeluarkan modal di awal. Investasi kami yang tanggung, sementara bagi customer biaya tersebut menjadi biaya operasional yang dibayarkan setiap bulan,” kata Pradipta.
Dengan demikian, satu dekade SUN bukan hanya tentang berapa banyak kapasitas PLTS yang telah dibangun, tetapi tentang perubahan cara perusahaan melihat bisnis energi.
Dari semula menjual solusi energi surya, SUN kini membidik pasar yang lebih besar: membantu industri mengurangi biaya, mengoptimalkan energi dan melakukan elektrifikasi tanpa harus menanggung investasi awal yang besar.
Perusahaan energi bersih SUN mencatatkan kapasitas energi surya terpasang lebih dari 450 megawatt (MW) sepanjang satu dekade kiprahnya di industri energi bersih.
Sejak berdiri pada 2016, SUN telah mengembangkan lebih dari 400 proyek yang mencakup lebih dari 40 sektor industri. Portofolionya tersebar di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, dengan pelanggan dari sektor pertambangan, semen, fast-moving consumer goods (FMCG), logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, hingga farmasi.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan industri terhadap sumber energi yang lebih efisien, rendah karbon, sekaligus andal. (onny)
INVESTORJATIM.COM — Momentum 9.9 Sale dimanfaatkan Crown Prince Hotel Surabaya untuk menghadirkan program kuliner Wonderlunch…
INVESTORJATIM.COM – PT PAL Indonesia memperkuat sinergi dengan TNI dan pemangku kepentingan industri pertahanan untuk…
INVESTORJATIM.COM – Perekonomian global masih dibayangi sejumlah tantangan pada 2026. Harga energi yang tinggi, suku…
INVESTORJATIM.COM – PT PAL Indonesia memastikan perbaikan KMP Mahkota Nusantara rampung sesuai target sehingga kapal…
INVESTORJATIM.COM – Investor dinilai perlu melihat lebih dari sekadar pergerakan harga saham sebelum menentukan keputusan…
INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mencatatkan kinerja positif sepanjang Agustus 2026 dengan arus…