
SURABAYA, INVESTORJATIM.COM – Tak semua perjumpaan lintas bangsa lahir dari forum resmi atau aula megah. Di COMMTECH Camp Insight 2026 yang digelar di lingkungan Sekolah Nation Star Academy (NSA) Kamis (29/1/2026), dialog budaya justru dimulai dari sebuah benda sederhana yang lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia: papan telenan. Dari media inilah, nilai-nilai Nusantara diperkenalkan—hangat, membumi, dan mudah disentuh—kepada puluhan mahasiswa dan akademisi dari berbagai penjuru dunia.
COMMTECH Camp Insight 2026 yang berlangsung di Sekolah Nation Star Academy (NSA) ini diikuti sekitar 40 partisipan internasional yang terdiri dari mahasiswa S1, S2, dan S3 dari 21 universitas. Dua di antaranya merupakan profesor asal Malaysia. Para peserta datang dari beragam negara, mulai dari Malaysia, Filipina, Thailand, China, hingga Rusia sebagai peserta dengan jarak terjauh. Program ini merupakan agenda tahunan hasil kerja sama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan Nation Star Academy (NSA) yang telah terjalin sejak 2015.
Kepala Sekolah SMP Nation Star Academy, Inggriette Liany W. S.T., M.M., menjelaskan bahwa COMMTECH Camp Insight bukan sekadar program akademik, melainkan ruang pembelajaran lintas disiplin yang berakar pada nilai keberlanjutan.
“COMMTECH Camp Insight ini memang kegiatan tahunan, tetapi setiap tahun kami menghadirkan pembeda. Jika tahun-tahun sebelumnya mahasiswa dan dosen kami ajak belajar tari tradisional, tahun ini kami mengangkat batik sebagai medium pembelajaran budaya. Fokus utama kami tetap pada SDGs (Sustainable Development Goals) dan konsep Sustainable Development School,” ujar Inggriette.

Ia menambahkan, pendekatan budaya sengaja dipadukan dengan aktivitas akademik berbasis teknologi yang dipelajari para peserta di ITS, sehingga tercipta keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan pelestarian nilai budaya.
Pada edisi 2026 ini, batik kawung dipilih sebagai motif utama. Motif klasik ini bukan sekadar ornamen visual, melainkan sarat filosofi. Batik kawung merupakan motif khas Jawa yang sejak era Kerajaan Mataram Kuno identik dengan lingkungan keraton Yogyakarta dan Solo. Dahulu, motif ini hanya dikenakan oleh bangsawan dan raja sebagai simbol kehormatan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri.
Ciri utama batik kawung berupa bulatan simetris yang terinspirasi dari buah kolang-kaling. Pola empat bulatan yang tersusun rapi melambangkan empat arah mata angin, merepresentasikan keteraturan, keseimbangan hidup, kesucian, serta ketulusan. Nilai-nilai inilah yang ingin diperkenalkan kepada para peserta internasional—bahwa budaya Indonesia menyimpan filosofi hidup yang dalam dan relevan hingga hari ini.
Menariknya, proses membatik tidak dilakukan di atas kain, melainkan pada papan telenan. Media ini dipilih agar peserta dapat membawa pulang hasil karya mereka sebagai suvenir personal.
“Kami ingin budaya itu terasa dekat. Karena itu batiknya tidak di kain, tetapi di telenan. Hasilnya bisa dibawa pulang, menjadi kenangan sekaligus pengingat akan nilai budaya yang mereka pelajari di Indonesia,” jelas Inggriette.
Pendampingan selama kegiatan yang berlangsung di kampus Nation Star Academy (NSA) dilakukan langsung oleh siswa-siswi SMP NSA, menciptakan interaksi setara antara pelajar lokal dan tamu internasional. Pertukaran ini menjadi pengalaman belajar dua arah yang kaya makna.
Penyambutan peserta semakin semarak dengan penampilan Tari Jejer Jaran Dawuk, tarian khas Banyuwangi yang berasal dari tradisi Gandrung. Tarian ini melambangkan rasa syukur atas panen melimpah dan berfungsi sebagai tari penyambutan tamu. Gerakannya yang tegas namun anggun mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi yang ramah, kuat, dan berakar pada tradisi. Para peserta tampak larut dalam suasana, menyadari bahwa budaya Indonesia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman yang dirasakan.
Komitmen NSA dalam merawat keberagaman budaya juga tercermin melalui penampilan siswa-siswinya yang multikultural. Alunan lembut alat musik Guzheng, atraksi Wushu yang dinamis, hingga pengenalan gamelan, angklung, dan kulintang menjadi rangkaian pembelajaran budaya Nusantara yang memperkaya perspektif para tamu.
Melalui COMMTECH Camp Insight 2026 yang digelar di Sekolah Nation Star Academy, NSA menegaskan perannya sebagai ruang belajar lintas budaya yang konsisten mempertemukan pendidikan, teknologi, dan tradisi. Sebuah ikhtiar untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia—bukan dengan jarak dan formalitas, melainkan melalui sentuhan sederhana yang sarat makna. (Onny)









Komentar