Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri, IBC Bangun Ekosistem Baterai Berbasis Nikel

Direktur Utama IBC Aditya F. Arief.

INVESTORJATIM.COM – Kekayaan mineral Indonesia, khususnya nikel, tengah diarahkan untuk menjadi fondasi industri strategis nasional. Bukan sekadar diekspor sebagai komoditas, nikel didorong masuk lebih jauh ke rantai industri baterai untuk menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat kedaulatan teknologi dan energi Indonesia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen PT IBC (Indonesia Battery Corporation) dalam membangun ekosistem industri baterai terintegrasi, mulai dari material, sel baterai, sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), hingga daur ulang.

Direktur Utama IBC Aditya F. Arief mengatakan, mandat utama perusahaan adalah membangun industri baterai yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu hingga hilir.

“Mandat utama IBC sangat jelas, yaitu menjadi industri baterai yang mengintegrasikan hulu sampai hilir dari value chain baterai. Kami masih tetap berada di jalur tersebut,” ujar Aditya dalam Sosialisasi MediaMIND 2026 yang digelar secara daring, Senin (14/9/2026).

Menurut dia, pembangunan ekosistem baterai merupakan bagian penting dari strategi hilirisasi mineral. Dengan mengolah nikel dan mineral lainnya menjadi material serta produk baterai di dalam negeri, Indonesia berpeluang mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan hanya menjual bahan baku.

Dari Nikel Menuju Industri Baterai

Dalam rantai industri baterai, IBC bergerak dari sektor midstream hingga recycling. Perusahaan mengembangkan sejumlah proyek strategis bersama mitra global, termasuk CATL, untuk memperkuat rantai pasok baterai nasional.

Di sektor battery materials, IBC bersama CATL mengembangkan fasilitas pengolahan material baterai di Halmahera dengan kapasitas sekitar 30.000 ton. Proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$600 juta dan menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat hilirisasi nikel di Indonesia.

Baca Juga:  Laba MDKA Meledak! Merdeka Copper Gold Raup Untung US$120 Juta, Harga Emas dan Nikel Jadi Mesin Penggerak

Sementara di sektor hilir, IBC juga mengembangkan fasilitas produksi sel baterai bersama CATL. Fasilitas tersebut mulai beroperasi pada Juli 2026 dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) dan direncanakan meningkat menjadi sekitar 15 GWh. Total investasi pengembangan fasilitas tersebut diperkirakan mencapai US$1,2 miliar.

Bagi Aditya, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar memiliki cadangan mineral yang besar, tetapi bagaimana kekayaan tersebut dapat diubah menjadi kekuatan industri nasional.

“Kalau kita punya industri baterai yang sovereign, yang maju, yang berdaulat, kita punya kesempatan mendapatkan dampak ekonomi yang lebih besar dari komoditas-komoditas kita, tidak hanya nikel,” katanya.

Pabrik Karawang Jadi Mata Rantai Penting

Penguatan ekosistem tersebut juga dilakukan melalui fasilitas produksi baterai di Karawang yang dikembangkan bersama CATL. Pabrik ini memproduksi baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) serta BESS.

“Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk BESS,” ujar Aditya.

Fasilitas Karawang mengintegrasikan proses produksi sel hingga packing dalam satu kawasan. Material baterai masuk untuk diolah menjadi sel, sebelum kemudian diproses lebih lanjut menjadi produk baterai.

Pengembangan industri tersebut juga dibarengi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Sebanyak 600 pekerja Indonesia telah dikirim ke China untuk mendapatkan pelatihan pengoperasian fasilitas produksi baterai.

Menurut Aditya, penguasaan teknologi menjadi kunci agar Indonesia tidak berhenti sebagai basis produksi, tetapi mampu menguasai kompetensi di sepanjang rantai industri baterai.

Menjaga Masa Depan Nikel

Baca Juga:  RUPST 2026 Restui Agenda Ekspansi, MBMA Bidik Lonjakan Produksi Nikel dan Perkuat Hilirisasi Baterai

Perkembangan teknologi baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP) memang menjadi tantangan bagi industri baterai berbasis nikel. Namun, IBC melihat peluang teknologi nikel, khususnya Nickel Manganese Cobalt (NMC), masih terbuka.

NMC memiliki keunggulan pada kepadatan energi sehingga berpotensi menghasilkan baterai dengan kapasitas lebih besar pada ukuran dan bobot yang sama.

“Secara inheren, harga baterai yang tidak menggunakan nikel memang lebih rendah karena harga mineralnya lebih murah. Tetapi kalau kita ingin menjalankan story nikel, maka kita harus membuatnya lebih kompetitif melalui inovasi,” kata Aditya.

Pengembangan teknologi seperti peningkatan voltage dan single crystal NMC dinilai dapat meningkatkan performa sekaligus menjaga daya saing baterai berbasis nikel.

Selain NMC, IBC melihat peluang teknologi sodium-ion untuk aplikasi BESS serta solid-state battery yang masih berpotensi menggunakan material berbasis nikel.

“Masih ada peluang bahwa mineral Indonesia tetap bisa mewarnai teknologi baterai masa depan,” ujarnya.

Dari Pemasok Mineral Menjadi Pengembang Teknologi

Aditya menekankan bahwa agenda hilirisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan pabrik. Indonesia perlu naik kelas menjadi negara yang ikut mengembangkan teknologi baterai.

Menurut dia, negara seperti China dan Jepang telah menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga riset dalam mengembangkan teknologi baterai generasi baru.

“Kalau kita ingin mineral-mineral kita benar-benar digunakan dalam industri baterai masa depan, maka kita harus terjun langsung dalam pengembangannya,” katanya.

Dengan demikian, kekayaan mineral dari bumi Indonesia tidak hanya menjadi sumber pendapatan jangka pendek, tetapi menjadi modal untuk membangun industri dan teknologi nasional.

Baca Juga:  Hilirisasi Mineral Perlu Naik Kelas, Nilai Tambah Harus Tinggal di Dalam Negeri

Industri Baterai Harus Berkelanjutan

Kedaulatan industri baterai juga tidak dapat dipisahkan dari aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG).

“ESG untuk baterai adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, barangnya berpotensi tidak laku,” kata Aditya.

Menurut dia, jejak karbon produk baterai harus dihitung secara menyeluruh melalui pendekatan lifecycle assessment, mulai dari pertambangan, pengolahan material, produksi baterai hingga proses recycling.

IBC juga menyiapkan penggunaan energi yang lebih bersih untuk mendukung produksi baterai rendah karbon. Salah satunya melalui rencana pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 18 megawatt yang ditargetkan beroperasi pada 2027.

Untuk penyediaan energi, IBC memilih berkolaborasi dengan pengelola kawasan industri, termasuk dalam mendukung pengembangan kawasan yang mengarah pada konsep eco-industrial park.

Pengembangan fasilitas recycling juga menjadi bagian penting untuk membangun ekonomi sirkular sekaligus mengurangi jejak karbon industri baterai.

Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri

Pada akhirnya, hilirisasi nikel dan pembangunan industri baterai bukan semata soal membangun pabrik. Agenda tersebut menjadi upaya mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan industri, teknologi, sumber daya manusia, dan ekonomi nasional.

Indonesia memiliki sumber daya mineral yang menjadi modal awal. Namun, nilai strategisnya baru akan semakin besar jika mineral tersebut diolah, teknologinya dikuasai, industrinya dibangun dan manfaat ekonominya kembali ke dalam negeri.

“Industri baterai yang berdaulat akan memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih besar dari kekayaan mineral yang kita miliki,” pungkasnya. (onny)

Komentar