Dampak Perang AS Guncang Rantai Pasok, Sekar Laut Putar Haluan Ekspor ke Asia–Afrika

Direktur Sekar Laut John C. Gozal (kiri) saat RUPS di Surabaya, Selasa (28/4/2026).

INVESTORJATIM.COM – Gelombang konflik yang melibatkan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah mulai menjalar ke sektor riil global, termasuk industri makanan olahan. Ketegangan geopolitik yang memicu gangguan logistik, lonjakan biaya distribusi, hingga ketidakpastian permintaan di kawasan tersebut, memaksa pelaku usaha memutar strategi. PT Sekar Laut Tbk (SKLT) pun tak luput dari imbasnya dan kini mulai mengalihkan fokus ekspor ke pasar yang dinilai lebih stabil.

Produsen makanan olahan itu menggeser bidikan ekspor ke kawasan Asia dan Afrika menyusul terganggunya pasar Timur Tengah akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Sekretaris Perusahaan Jimmy Herlambang mengatakan tekanan geopolitik berdampak pada distribusi produk perseroan di awal 2026. Meski kontribusi ekspor ke Timur Tengah tidak dominan, gangguan tersebut tetap menekan volume pengiriman.

Perseroan kini aktif menjajaki pasar baru di sejumlah negara Asia seperti China dan Taiwan, serta memperluas penetrasi ke kawasan Afrika. Upaya ini ditempuh melalui partisipasi dalam pameran dagang internasional serta penjajakan langsung dengan calon pembeli.

Baca Juga:  Dari Surabaya Mendunia: Kisah Sub Jersey Ubah “Keisengan” Jadi Brand Sport Apparel Internasional

“Kami mencari pasar yang relatif tidak terdampak konflik, sehingga ekspor tetap bisa tumbuh tahun ini. Penurunan pasar di Timur Tengah juga bisa tertutupi,” ujar Jimmy dalam paparan publik, Selasa (28/4).

Ia menambahkan, kontribusi ekspor selama ini mencapai sekitar 15 persen dari total pendapatan perusahaan. Dengan diversifikasi pasar, perseroan berharap kinerja ekspor tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Di pasar domestik, Sekar Laut memperkuat jaringan distribusi agar produk menjangkau lebih luas wilayah Indonesia. Perseroan juga berencana meningkatkan kapasitas produksi, khususnya untuk produk kerupuk dan sambal yang permintaannya terus meningkat. Peremajaan mesin turut dilakukan guna mendorong efisiensi operasional.

Dengan berbagai strategi tersebut, perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10 persen dan laba bersih naik hingga 20 persen pada 2026.

Adapun kinerja tahun buku 2025 tercatat positif. Pendapatan perseroan tumbuh 16 persen secara tahunan menjadi Rp2,65 triliun, sementara laba bersih meningkat 6 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi distribusi dan inovasi produk.

Namun demikian, perusahaan masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga bahan baku dan keterbatasan pasokan yang berdampak pada peningkatan biaya produksi. Untuk menjaga margin, penyesuaian harga jual pun dilakukan.

Baca Juga:  Perang Timur Tengah Memanas, Properti RI Terancam? Ini Skenario Terburuknya

Direktur John C. Gozal menyampaikan total aset perusahaan meningkat 18 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh kenaikan aset lancar sebesar 10 persen dan lonjakan aset tetap hingga 28 persen.

Dari sisi liabilitas, total kewajiban naik menjadi Rp816 miliar dari Rp607 miliar pada 2024, seiring peningkatan kewajiban jangka panjang hingga 77 persen guna mendukung ekspansi investasi.

“Kami akan terus mengandalkan inovasi produk serta perluasan pasar sebagai strategi utama menjaga pertumbuhan,” ujar John. (Onny)

 

Komentar