
INVESTORJATIM.COM – Sebanyak 18 perenang dan satu pelatih berhasil menuntaskan misi renang ekstrem melintasi Selat Madura, dari Kamal, Madura menuju Pangkalan Koarmada II Surabaya, Minggu (1/11/2026).
Aksi bertajuk Xtreme Impact 2026 ini bukan sekadar uji ketahanan fisik, melainkan gerakan kemanusiaan untuk menggalang dana Rp1 miliar bagi perempuan nelayan Desa Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah, yang desanya terancam tenggelam akibat banjir rob.
Gerakan ini diinisiasi oleh Koalisi Alumni Kolese Kanisius Jakarta Angkatan 92, didukung Bandar Djakarta Group melalui Benih Baik, serta Koarmada II TNI AL yang mengerahkan Tim Komando Pasukan Katak (Kopaska) untuk pengamanan.
Panglima Koarmada II Laksamana Muda TNI I Gung Putu Alit Jaya mengapresiasi aksi tersebut.
“Keberhasilan menyeberangi Selat Madura membutuhkan dedikasi, persiapan, dan semangat yang luar biasa. Ini bentuk kolaborasi antara komunitas dengan TNI AL,” ujarnya di Dermaga Koarmada II, Minggu (1/11/2026).
Ketua Panitia Xtreme Impact, Richard Robot, mengatakan misi ini disiapkan intensif selama dua bulan sejak digagas Mei 2026.
Penggagas gerakan, Mas Arto, menyebut aksi ini berangkat dari keresahan melihat kondisi pesisir.
“Daripada kita terus mengeluh dan komplain, kami memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kami ingin menjadi suara bagi sebuah desa kecil di pesisir utara Jawa,” katanya.

Salah satu perenang yang menjadi inspirasi adalah Sylvi, penyandang disabilitas akibat meningitis, yang menjadi perenang pertama yang bergabung.
“Saya sangat bangga bisa bergabung dalam kegiatan ini. Meski saya disabilitas, tapi tidak mengurangi semangat saya untuk terlibat dalam penggalangan dana ini,” kata Sylvi
Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk tiga kebutuhan mendesak warga Timbulsloko.
Ketua Komunitas Nelayan Puspita Bahari Jawa Tengah, Masnuah, menjelaskan, desa tersebut kini hanya dihuni 90 KK, turun dari 170 KK pada 2020. Sisanya bedol desa akibat reklamasi Tanjung Emas Semarang dan rob yang makin parah.
“Rumah dan jalan sudah berkali-kali ditinggikan. Kalau berdiri di jalan, ketinggiannya bisa sebatas dada. Mereka yang bertahan ingin tetap tinggal di tanah leluhur,” kata Masnuah.
Tiga penggunaan dana Rp1 miliar hasil rembuk warga adalah:
1. Akses air bersih: Warga hanya mengandalkan satu sumur bor yang debitnya menurun, bahkan untuk buang air harus beli air isi ulang.
2. Rumah aman (Rumah BISA): Tempat singgah saat rob naik tengah malam, agar warga dan anak-anak bisa tidur dan belajar dengan tenang.
3. Rumah produksi Omah Iwak: Untuk mengolah hasil tangkapan perempuan nelayan dan memperkuat koperasi serta akses pasar, hasilnya untuk pendidikan anak nelayan.
Masnuah menambahkan, Puspita Bahari juga mendampingi kasus kekerasan terhadap perempuan pesisir.
Panitia memastikan kolaborasi tidak berhenti di Selat Madura. Agenda lanjutan akan digelar diskusi kemaritiman pendekatan pentahelix dan Operasi Katarak bersama TNI AL pada 13 Desember 2026 dalam rangka Hari Armada.
“Kami percaya negara ini akan kuat apabila kita bisa berkolaborasi dan mencintai negeri ini sepenuh hati,” pungkas Mas Arto. (onny)








Komentar