Categories: Lifestyle

Sandur Bojonegoro Bawa Konflik Tanah Warisan ke Panggung Cak Durasim

Warisan keluarga terancam hilang, Sandur Bojonegoro angkat sisi gelap konflik tanah.

INVESTORJATIM.COM – Tanah warisan bagi sebagian orang bukan sekadar sebidang lahan. Di dalamnya ada sejarah keluarga, identitas, sekaligus harapan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, ketika kebutuhan hidup semakin menghimpit, utang menumpuk, pekerjaan hilang, dan kepentingan pemilik modal mulai masuk, mempertahankan tanah warisan bisa berubah menjadi pertarungan hidup dan mati.

Persoalan itulah yang diangkat Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro melalui lakon Lemah Ninggal Warah di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Sabtu (15/8/2026). Pementasan tersebut menjadi pertunjukan keempat dalam rangkaian Program Manajemen Talenta Teater Tradisi yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan melalui UPT Taman Budaya Jawa Timur.

Lewat panggung Sandur, kisah tentang tanah warisan dikemas menjadi potret kehidupan masyarakat kecil yang berhadapan dengan persoalan ekonomi, konflik rumah tangga, hingga relasi kuasa.

Tokoh utama dalam cerita, Balong, merupakan seorang buruh yang berusaha mati-matian mempertahankan tanah peninggalan ayahnya. Bagi Balong, tanah tersebut bukan hanya aset yang memiliki nilai ekonomi, tetapi bagian dari sejarah keluarganya yang tidak boleh begitu saja berpindah tangan.

Masalah muncul ketika rumah tangganya mulai diguncang persoalan utang-piutang. Cawek, istri Balong, terjerat kebutuhan ekonomi hingga muncul dorongan untuk menggadaikan bahkan menjual sertifikat tanah milik suaminya.

Di tengah situasi tersebut, muncul Wak Tangsil, tokoh desa yang ternyata memiliki kepentingan terhadap tanah Balong.

Salah satu adegan Lemah Ninggal Warah yang di pentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya.

Sutradara Lemah Ninggal Warah Oky Dwi Wicahyo mengatakan konflik dalam pertunjukan tersebut sengaja dikembangkan dari persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Ini potret sosial masyarakat. Bisa jadi pernah terjadi, tetapi bukan kisah nyata,” ujar Oky.

Cerita tersebut terinspirasi dari karya teater almarhum Joko Bibit Santoso dari Plurung Kolobundu. Dari cerita awal mengenai utang-piutang dan penggadaian sertifikat tanah, Oky kemudian memperluas konflik menjadi persoalan perebutan lahan yang berkaitan dengan kepentingan pembangunan.

“Awalnya memang cerita tentang utang-piutang. Tetapi kemudian kami kembangkan, kenapa sampai menjual sertifikat tanah? Ternyata ada kepentingan orang yang ingin menguasai tanah itu untuk proyek pembangunan,” jelasnya.

Konflik Balong tidak berhenti di persoalan tanah. Tekanan ekonomi ikut merembet ke dalam rumah tangga.

Pertengkaran dengan Cawek membuat kehidupan Balong sebagai buruh semakin tidak stabil. Konsentrasi bekerja terganggu hingga akhirnya ia kehilangan pekerjaan.

Kehilangan sumber penghasilan membuat posisi Balong semakin terjepit. Pada saat yang sama, tawaran untuk menjual tanah warisan kembali datang.

Namun, Balong memilih bertahan. Ia tetap mempertahankan tanah tersebut meski kondisi ekonomi keluarganya semakin sulit. Pilihan itu kemudian membawa cerita menuju konflik yang lebih kelam.

Balong akhirnya meninggal setelah tertabrak truk. Namun, Oky sengaja tidak memberikan jawaban tunggal mengenai kematian tokoh tersebut.

Apakah benar kecelakaan atau ada pihak yang sengaja menyingkirkan Balong?

“Ending-nya memang kami buat supaya penonton yang menebak. Saya tidak menggarisbawahi apakah itu sengaja atau tidak. Penonton bisa melihat dari dua sudut pandang,” kata Oky.

Sutradara Lemah Ninggal Warah Oky Dwi Wicahyo.

Bagi Oky, ketidakjelasan tersebut justru menjadi bagian penting dari pertunjukan. Penonton diajak tidak sekadar menyaksikan cerita, tetapi ikut membaca kemungkinan-kemungkinan yang muncul di balik sebuah konflik tanah.

Sebab, persoalan agraria menurut dia tidak pernah berdiri sendiri. Di belakang kepemilikan lahan bisa terdapat persoalan ekonomi, keluarga, kepentingan pembangunan, hingga relasi kuasa.

Lemah Ninggal Warah diperankan oleh 10 pemain dengan empat tokoh utama, yakni Balong, Cawek, Pethak, dan Tangsil.

Meski tetap mempertahankan karakter utama dalam tradisi Sandur, cerita dikembangkan dengan pendekatan yang lebih kontekstual agar dapat berbicara mengenai persoalan masyarakat masa kini.

Sandur sendiri merupakan seni tradisi khas Bojonegoro yang terus dikembangkan Sanggar Sedhet Srepet agar tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

Melalui lakon tersebut, Oky ingin menunjukkan bahwa mempertahankan warisan tidak selalu mudah. Ketika tanah berhadapan dengan kebutuhan makan, utang, kehilangan pekerjaan, konflik keluarga, hingga kepentingan pemilik modal dan kekuasaan, pilihan seseorang bisa menjadi sangat sulit.

Pada titik itulah Lemah Ninggal Warah menemukan relevansinya.

Pertunjukan tersebut bukan semata-mata bercerita tentang siapa yang memiliki tanah. Lebih jauh, Sandur mengajak penonton melihat bagaimana orang kecil bisa dipaksa memilih antara mempertahankan warisan keluarga atau mempertahankan kehidupannya sendiri.

Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur Dedy Haryono mengatakan pementasan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Program Manajemen Talenta Teater Tradisi yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kebudayaan.

“Target kami adalah mengenalkan dan menghidupkan kembali budaya-budaya yang semakin ke sini semakin redup, khususnya seni teater dan kesenian lainnya. Alhamdulillah, sampai sesi keempat ini banyak generasi muda yang mulai mencari tahu dan mengenal kebudayaan yang ada di Jawa Timur,” ujar Dedy, Sabtu (15/8/2026).

Menurut dia, keterlibatan generasi muda menunjukkan bahwa kesenian daerah masih memiliki potensi besar untuk berkembang apabila diberikan ruang dan kesempatan untuk tampil.

Melalui program yang mendapat fasilitasi dari Kementerian Kebudayaan tersebut, para seniman tidak hanya mendapatkan ruang pertunjukan, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan karya sekaligus memperkenalkan kesenian Jawa Timur kepada masyarakat. (onny)

REDAKSI

Recent Posts

FKH UNAIR Dorong Produktivitas Peternak Ayam Petelur Bojonegoro Lewat Inovasi Pakan

INVESTORJATIM.COM – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong peningkatan produktivitas dan kemandirian peternak…

6 jam ago

Khofifah Soroti 4 Pedoman Presiden Prabowo untuk Perkuat Kemandirian Jawa Timur

INVESTORJATIM.COM – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai empat pedoman utama Presiden RI Prabowo…

8 jam ago

TPS Salurkan 10.000 Bibit Mangrove, Fokus Pulihkan Pesisir Surabaya dan Gresik

INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) memperluas program penghijauan pesisir dengan menyalurkan 3.000 bibit…

8 jam ago

MotoGP Mandalika 2026 Targetkan 145.000 Penonton, NTB Pacu Persiapan Sejak Dini

INVESTORJATIM.COM - MotoGP Mandalika 2026 ditargetkan mampu menarik hingga 145.000 penonton dari dalam maupun luar…

13 jam ago

Target Investasi Nasional 2027 Capai Rp2.322 Triliun, Pemerintah Dorong Penciptaan Lapangan Kerja

INVESTORJATIM.COM - Pemerintah menargetkan realisasi investasi nasional pada 2027 mencapai Rp2.322 triliun. Target tersebut meningkat…

15 jam ago

Bank Jatim Dorong BPD Resilien dan Kompetitif Lewat Transformasi Digital

INVESTORJATIM.COM — Bank Pembangunan Daerah (BPD) dinilai memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi dan…

1 hari ago