RUPST 2026 Restui Agenda Ekspansi, MBMA Bidik Lonjakan Produksi Nikel dan Perkuat Hilirisasi Baterai

Jajaran direksi PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

INVESTORJATIM.COM – Di tengah tekanan harga nikel global yang masih membayangi industri pertambangan, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) tetap menunjukkan ketahanan bisnisnya. Emiten bahan baku baterai tersebut mengantongi persetujuan pemegang saham untuk melanjutkan agenda ekspansi dan penguatan hilirisasi dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026.

Dalam RUPST yang digelar hari ini, pemegang saham menyetujui Laporan Tahunan Perseroan tahun buku 2025, mengesahkan laporan keuangan konsolidasian yang berakhir pada 31 Desember 2025, serta sejumlah keputusan strategis yang menjadi fondasi pertumbuhan MBMA pada tahun-tahun mendatang.

Sepanjang 2025, MBMA membukukan pendapatan sekitar US$1,435 miliar dengan EBITDA mencapai US$219 juta. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan volume produksi nikel, kontribusi yang semakin besar dari segmen hilir, serta penerapan disiplin biaya yang konsisten di seluruh rantai nilai bisnis Perseroan.

Salah satu motor utama pertumbuhan berasal dari tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Pada 2025, SCM menghasilkan 7 juta wet metric tonnes (wmt) bijih saprolit dan 14,7 juta wmt bijih limonit. Sementara itu, unit hilir mencatat produksi Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 73.871 ton, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sebanyak 19.998 ton, dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) mencapai 25.994 ton.

Baca Juga:  RUPST MDKA Setujui Dividen Rp300 Miliar, Rombak Direksi dan Kantongi Restu Tambah Modal

Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk, Teddy Nuryanto Oetomo, mengatakan hasil RUPST mencerminkan dukungan pemegang saham terhadap fase pertumbuhan berikutnya yang berfokus pada peningkatan skala produksi, integrasi bisnis, dan penguatan eksekusi operasional.

“MBMA berhasil mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah tekanan harga nikel global, didukung oleh peningkatan volume produksi dan peningkatan margin di operasi hilir. Kami akan terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang Perseroan,” ujar Teddy dalam keterangannya.

Memasuki 2026, MBMA menargetkan peningkatan produksi di seluruh lini usaha. Produksi bijih saprolit ditargetkan mencapai 8 juta hingga 10 juta wmt, sedangkan bijih limonit diproyeksikan berada pada kisaran 20 juta hingga 25 juta wmt.

Di sektor hilir, Perseroan membidik produksi NPI sebesar 70.000–80.000 ton dan HGNM sebesar 44.000–48.000 ton. Target tersebut sejalan dengan strategi Perseroan memperkuat posisi dalam rantai pasok bahan baku kendaraan listrik yang terus berkembang.

Untuk mendukung agenda tersebut, MBMA juga mempercepat sejumlah proyek strategis. Perseroan telah mulai mengoperasikan Feed Preparation Plant (FPP) yang mengalirkan slurry limonit melalui jaringan pipa dari tambang SCM menuju fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) milik PT ESG New Energy Material.

Baca Juga:  Merdeka Copper Gold Tegaskan Komitmen ESG Lewat Transparansi dan Kinerja Nyata

Selain itu, proyek HPAL SLNC dengan kapasitas terpasang 90.000 ton nikel per tahun terus berjalan sesuai jadwal. Perseroan menargetkan proses commissioning lini pertama dapat dimulai pada semester II/2026.

Dari sisi tata kelola, pemegang saham menyetujui pengangkatan James Nicholas dan Ashutosh Srivastava Fausimm sebagai Direktur Perseroan efektif sejak ditutupnya RUPST. James Nicholas akan mengemban peran sebagai Chief Financial Officer (CFO), sementara Ashutosh Srivastava Fausimm bertanggung jawab pada aspek operasional perusahaan.

Pada saat yang sama, pemegang saham juga menyetujui pengunduran diri Anthony Kartono Tan dari jabatannya sebagai Direktur. Perseroan menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan dedikasinya selama masa pengabdian di MBMA.

Menurut Teddy, penguatan jajaran direksi diharapkan mampu memperkokoh fokus Perseroan terhadap disiplin keuangan, peningkatan kinerja operasional, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

“Penguatan susunan Direksi diharapkan dapat mendukung fokus MBMA pada disiplin keuangan, eksekusi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang seiring pengembangan posisi Perseroan dalam rantai nilai bahan baku baterai,” katanya.

Baca Juga:  OJK: 21 Emiten Bakal Buyback Tanpa RUPS, Siapkan Anggaran Rp 14,97 Triliun

Adapun susunan Direksi dan Dewan Komisaris MBMA pasca-RUPST 2026 adalah Presiden Komisaris Winato Kartono, Komisaris Michael W.P. Soeryadjaya, Komisaris Independen Prof. Dr. Didi Achjari, Presiden Direktur Teddy Nuryanto Oetomo, serta Direktur Titien Supeno, James Nicholas, dan Ashutosh Srivastava Fausimm.

Selain agenda tersebut, Perseroan juga menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil penerbitan Obligasi Berkelanjutan I dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahun 2025 sesuai ketentuan pasar modal.

Ke depan, MBMA menegaskan akan terus mengedepankan efisiensi operasional, disiplin alokasi modal, serta pengembangan portofolio bahan baku baterai yang terintegrasi. Langkah ini sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global melalui hilirisasi mineral dan pengembangan industri bernilai tambah tinggi. (Onny)

Komentar