Ruang Digital Dikuasai Narasi Negatif, Humas Diminta Bangun Ulang Kepercayaan Publik

Praktisi komunikasi profesional Stefanny Imelda (tengah) dalam sesi diskusi pada hari kedua KHI 2025 di Surabaya.

SURABAYA, INVESTORJATIM – Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2025 yang digelar di Hotel Bumi Surabaya resmi ditutup pada Minggu (14/12/2025). Forum ini menegaskan pentingnya komunikasi yang kredibel, beretika, dan berorientasi pada pembangunan kepercayaan publik di tengah dinamika ekosistem digital.

Praktisi komunikasi profesional Stefanny Imelda menilai, tantangan utama komunikasi saat ini tidak hanya terletak pada kecepatan penyampaian pesan, tetapi pada kualitas relasi antara komunikator dan audiens. Menurutnya, komunikasi yang efektif menuntut struktur yang jelas, etika yang kuat, serta empati agar pesan memiliki legitimasi dan daya ikat.

“Komunikasi tidak berhenti pada penyampaian pesan. Kemampuan mendengar dan memahami menjadi kunci agar publik percaya dan mau mengikuti,” ujarnya dalam salah satu sesi diskusi.

Sementara itu, CEO Good News From Indonesia (GNFI) Wahyu Aji menyoroti ketimpangan narasi di ruang digital yang masih didominasi konten negatif dan praktik clickbait. Melalui inisiatif Indonesia Bicara Baik, GNFI mendorong lahirnya budaya komunikasi yang lebih seimbang dan konstruktif.

Aji menilai, pesimisme publik kerap terbentuk bukan karena minimnya capaian positif, melainkan karena narasi negatif lebih sering mendapat panggung. “Praktik bad news is good news membuat informasi biasa dikemas secara berlebihan demi memicu emosi audiens, seiring pergeseran fokus media dari demografi ke psikografi,” katanya.

Baca Juga:  Perhumas Tegaskan Peran Strategis Humas Muda di Era Global

KHI 2025 juga menghadirkan sejumlah pembicara lintas sektor, antara lain Director of Strategic Partnership, Communication, and Marketing IPB University Dr. Alfian Helmi, S.KPm., M.Sc.; Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital RI sekaligus creative advisor Anton Motulz; serta Zelda Maharani dan Mohammad Hilbram, mahasiswa tunanetra Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kehadiran mereka memperkuat pesan pentingnya komunikasi yang inklusif dan partisipatif.

Pada hari terakhir konvensi, Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) juga menyelenggarakan PEMUDA Awards 2025 sebagai bagian dari strategi penguatan kapasitas generasi muda humas. Program ini dirancang untuk mendorong praktik komunikasi yang adaptif, progresif, dan bertanggung jawab dalam merespons isu publik.

Perhumas juga melakukan penguatan peran generasi muda sebagai motor inovasi dan kolaborasi lintas sektor seperti praktisi humas muda, akademisi, mahasiswa, serta pemangku kepentingan dari berbagai industri.

Ketua Umum Perhumas Boy Kelana menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam membentuk masa depan komunikasi nasional.

“Mereka bukan sekadar penerus, tetapi aktor utama yang menjadi arsitek komunikasi Indonesia ke depan, terutama di ruang digital,” ujarnya.

Baca Juga:  Buka KHI 2025 di Surabaya, Khofifah Tekankan Peran Strategis Humas Bangun Optimisme Bangsa

Melalui KHI 2025 Surabaya, Perhumas menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem kehumasan nasional dengan menempatkan generasi muda sebagai game changer, sekaligus meningkatkan daya saing komunikasi Indonesia di tingkat global. (Onny)

Komentar