Categories: HeadlineIndeks

Pariwisata Indonesia Tumbuh Positif di Semester I-2026, Belanja Wisman Capai US$1.313 per Kunjungan

INVESTORJATIM.COM – Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan kinerja positif sepanjang Semester I-2026. Pertumbuhan tidak hanya terlihat dari peningkatan jumlah wisatawan mancanegara (wisman), tetapi juga dari kenaikan nilai belanja wisatawan yang semakin memperkuat kontribusi pariwisata terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman selama enam bulan pertama 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan. Angka tersebut tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, aktivitas wisata domestik juga tetap menunjukkan tren positif. Perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tercatat mencapai 630,41 juta perjalanan atau meningkat 2,71 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal bahwa mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sektor pariwisata terus bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Staf Khusus Kementerian Pariwisata, Apni Jaya Putra, mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi modal penting untuk menjaga optimisme terhadap perekonomian nasional.

“Data yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pariwisata Indonesia tetap tumbuh solid di tengah berbagai tantangan global. Ini menjadi bukti bahwa pariwisata mampu menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional,” kata Apni dalam keterangannya, dikutip Rabu (12/8/2026).

Menariknya, pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya tercermin dari jumlah kunjungan. Rata-rata pengeluaran wisman juga mengalami peningkatan signifikan.

Pada Semester I-2026, rata-rata pengeluaran wisman tercatat mencapai US$1.313 per kunjungan. Angka tersebut meningkat 6,36 persen dibandingkan Semester I-2025.

Kenaikan belanja wisman menjadi indikator penting bagi perekonomian karena pengeluaran wisatawan memberikan dampak ke berbagai sektor. Belanja tersebut mengalir ke hotel, restoran, transportasi, pusat oleh-oleh, destinasi wisata, hingga berbagai subsektor ekonomi kreatif.

Menurut Apni, semakin besar pengeluaran wisatawan, semakin besar pula efek berganda atau multiplier effect yang dapat dirasakan masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah.

“Semakin besar pengeluaran wisatawan, semakin besar pula multiplier effect yang dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah,” ujarnya.

Dengan demikian, peningkatan nilai belanja wisman berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dibandingkan sekadar pertumbuhan jumlah kunjungan. Aktivitas wisata menciptakan permintaan terhadap berbagai barang dan jasa sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan.

Indikator lain yang menunjukkan menguatnya aktivitas pariwisata adalah tingkat hunian kamar hotel. Pada Semester I-2026, tingkat okupansi hotel mencapai 48,2 persen, meningkat dari 45,72 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan okupansi tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas perjalanan yang berdampak langsung terhadap industri akomodasi.

“Peningkatan okupansi hotel menunjukkan aktivitas pariwisata terus bergerak. Ini menjadi indikator bahwa kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan semakin membaik,” kata Apni.

Dampak pertumbuhan pariwisata juga tidak hanya dirasakan industri perhotelan. Ketika wisatawan melakukan perjalanan, permintaan terhadap restoran, transportasi lokal, pusat kuliner, usaha oleh-oleh, jasa perjalanan, hingga berbagai layanan pendukung turut meningkat.

Rantai ekonomi tersebut membuat sektor pariwisata memiliki daya ungkit terhadap perekonomian daerah, terutama wilayah yang menjadikan perjalanan wisata, akomodasi, kuliner, dan ekonomi kreatif sebagai sumber aktivitas ekonomi utama.

Kinerja pariwisata juga tercermin dari pertumbuhan ekonomi sejumlah wilayah yang memiliki ketergantungan kuat terhadap sektor tersebut.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester I-2026 tercatat sebesar 5,29 persen. Sementara berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pertumbuhan ekonomi wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencapai 6,1 persen, dengan pariwisata menjadi salah satu sektor yang menopangnya.

Capaian tersebut memperlihatkan posisi strategis pariwisata dalam menggerakkan ekonomi regional. Aktivitas wisata mampu menciptakan perputaran ekonomi melalui berbagai sektor yang terhubung langsung maupun tidak langsung dengan wisatawan.

“Capaian ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya menjadi sektor pendukung, tetapi telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kami optimistis tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun,” tutur Apni.

Meski menunjukkan tren positif, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan pariwisata menghasilkan nilai ekonomi yang semakin besar.

Pertumbuhan jumlah kunjungan perlu diikuti dengan peningkatan lama tinggal, kualitas belanja wisatawan, pemerataan destinasi, serta semakin besarnya keterlibatan pelaku usaha lokal.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan sektor pariwisata ke depan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga seberapa besar nilai ekonomi yang ditinggalkan di destinasi.

Untuk menjaga momentum tersebut, penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan UMKM menjadi penting. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk meningkatkan kualitas destinasi sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Indonesia.

Apni mengatakan momentum positif tersebut harus terus dijaga agar pariwisata mampu memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus penciptaan lapangan kerja.

“Momentum positif ini harus terus dijaga. Dengan kolaborasi yang kuat, pariwisata Indonesia akan semakin berdaya saing dan menjadi salah satu pilar utama menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (MSX)

REDAKSI

Recent Posts

FKH UNAIR Dorong Produktivitas Peternak Ayam Petelur Bojonegoro Lewat Inovasi Pakan

INVESTORJATIM.COM – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong peningkatan produktivitas dan kemandirian peternak…

4 jam ago

Khofifah Soroti 4 Pedoman Presiden Prabowo untuk Perkuat Kemandirian Jawa Timur

INVESTORJATIM.COM – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai empat pedoman utama Presiden RI Prabowo…

5 jam ago

TPS Salurkan 10.000 Bibit Mangrove, Fokus Pulihkan Pesisir Surabaya dan Gresik

INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) memperluas program penghijauan pesisir dengan menyalurkan 3.000 bibit…

6 jam ago

MotoGP Mandalika 2026 Targetkan 145.000 Penonton, NTB Pacu Persiapan Sejak Dini

INVESTORJATIM.COM - MotoGP Mandalika 2026 ditargetkan mampu menarik hingga 145.000 penonton dari dalam maupun luar…

11 jam ago

Target Investasi Nasional 2027 Capai Rp2.322 Triliun, Pemerintah Dorong Penciptaan Lapangan Kerja

INVESTORJATIM.COM - Pemerintah menargetkan realisasi investasi nasional pada 2027 mencapai Rp2.322 triliun. Target tersebut meningkat…

13 jam ago

Bank Jatim Dorong BPD Resilien dan Kompetitif Lewat Transformasi Digital

INVESTORJATIM.COM — Bank Pembangunan Daerah (BPD) dinilai memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi dan…

1 hari ago