Optimistis Kinerja Kuartal II/2026 Membaik, Ini Aksi Korporat AGAR

INVESTORJATIM.COM — PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) optimistis kinerja pada kuartal II/2026 akan menunjukkan perbaikan dibandingkan kuartal pertama tahun ini seiring meningkatnya permintaan pasar dan berbagai langkah efisiensi yang dijalankan perseroan.

Direktur Utama PT Asia Sejahtera Mina Tbk, Indra Widyadharma, mengatakan penjualan pada kuartal I/2026 memang mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada biaya logistik dan distribusi.

“Pada awal kuartal I/2026 memang terjadi penurunan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah situasi ekonomi dunia dan gejolak di Timur Tengah yang menyebabkan biaya pengiriman meningkat serta jadwal pelayaran menjadi tidak menentu,” ujar Indra dalam Public Expose 2026, Jumat, 26/6/2026.

Meski demikian, Indra menegaskan bahwa dari sisi permintaan pasar sebenarnya menunjukkan tren peningkatan. Menurutnya, kendala utama yang dihadapi perseroan lebih banyak berasal dari aspek logistik dan perubahan jadwal pengiriman yang memengaruhi realisasi penjualan.

Untuk menjaga kinerja di tengah tantangan tersebut, perseroan menerapkan sejumlah strategi efisiensi, mulai dari penggunaan kas yang lebih selektif, pengelolaan pinjaman bank secara hati-hati, hingga negosiasi dengan pelanggan agar pembayaran dapat dilakukan lebih cepat.

“Permintaan mulai meningkat dibandingkan kuartal pertama. Karena itu kami optimistis laporan kuartal selanjutnya akan lebih baik dibandingkan kinerja kuartal I/2026,” katanya.

Indra menjelaskan peningkatan permintaan terjadi karena sejumlah industri pengguna rumput laut mulai kembali melakukan pengadaan bahan baku. Sebelumnya, banyak perusahaan menahan pembelian akibat kondisi pasar yang lesu dan memilih mengurangi persediaan.

Kini, tantangan logistik global justru mendorong pelanggan meningkatkan stok untuk menjaga kelangsungan operasional pabrik mereka.

Di sisi hilirisasi, perseroan terus memperkuat peran anak usahanya, PT Giwang Citra Laut (GCL), yang bergerak dalam pengolahan rumput laut. Saat ini perusahaan memproduksi tepung karagenan semi-refined dan berencana mengoptimalkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar ekspor.

Indra menyebut produk karagenan perusahaan telah diterima di berbagai negara, termasuk Inggris, Spanyol, dan China.

“Kami sudah memiliki pelanggan yang kontinyu di Inggris, Spanyol, dan China. Artinya kualitas produk kami sudah memenuhi standar internasional, termasuk standar food grade yang diterima pasar Eropa maupun China,” ujarnya.

Selain menjual tepung karagenan, perseroan juga tengah mengembangkan berbagai produk turunan bernilai tambah lebih tinggi. Produk yang sedang dalam tahap pengembangan antara lain jelly, permen berbasis rumput laut, dodol rumput laut, hingga bahan baku untuk makanan hewan peliharaan (Petfood).

Menurut Indra, produk-produk tersebut berpotensi memberikan margin yang lebih baik dibandingkan penjualan karagenan dalam bentuk bahan baku.

“Anak usaha kami memegang peran strategis untuk menciptakan nilai tambah. Kami tidak ingin hanya menjual tepung karagenan, tetapi juga menghasilkan produk turunan yang memberikan margin lebih baik,” katanya.

Perseroan menargetkan beberapa produk hilirisasi tersebut dapat mulai diluncurkan pada kuartal IV/2026 setelah menyelesaikan proses formulasi dan perizinan.

Selain itu, AGAR juga melakukan diversifikasi sumber pasokan bahan baku melalui pengembangan budidaya rumput laut di Afrika Timur. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi risiko apabila terjadi gangguan produksi akibat cuaca ekstrem atau gagal panen di Indonesia.

“Kami sedang merintis budidaya rumput laut di Afrika Timur dan harapannya dalam satu hingga dua bulan ke depan sudah bisa melakukan ekspor perdana,” ujar Indra.

Program tersebut telah berjalan sejak tahun lalu melalui kerja sama dengan koperasi masyarakat pesisir setempat. Perseroan berperan sebagai pembeli atau off-taker sekaligus memberikan pendampingan terkait teknik budidaya rumput laut.

Menurut Indra, pengembangan di Afrika Timur juga menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku di tengah tantangan produksi domestik, termasuk tingginya biaya transportasi antarpulau dan keterbatasan sumber daya manusia di sejumlah sentra budidaya rumput laut Indonesia.

“Kalau suatu saat terjadi cuaca ekstrem atau produksi dalam negeri menurun, kami tetap memiliki alternatif sumber bahan baku. Ini bagian dari strategi keberlanjutan usaha kami,” tuturnya.(Red)

Komentar