
SURABAYA, INVESTORJATIM — Di sebuah ruang pencitraan RSUP Kemenkes Surabaya, suara mesin SPECT-CT terdengar lembut, nyaris tenggelam oleh dinginnya hembusan udara ruangan. Dari balik kaca pengawas, rangkaian perangkat medis berteknologi tinggi itu bekerja memetakan aktivitas sel dan fungsi organ, menghadirkan harapan baru bagi pasien dari Jawa Timur hingga bagian timur Indonesia.
Istilah kedokteran nuklir mungkin masih menimbulkan bayangan menakutkan bagi sebagian masyarakat. Namun di rumah sakit milik Kementerian Kesehatan ini, teknologi berbasis radiofarmaka tersebut telah menjadi pilar penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan rujukan.
Akses terhadap kedokteran nuklir di Indonesia selama ini memang terbatas. Tidak semua rumah sakit mampu menyediakan fasilitas maupun tenaga ahli yang diperlukan. Karena itu, hadirnya layanan ini di Surabaya menjadi titik balik penting: pasien yang sebelumnya harus bepergian jauh, bahkan ke luar negeri, kini dapat memperoleh pemeriksaan komprehensif tanpa meninggalkan wilayahnya.
Direktur RSUP Kemenkes Surabaya, dr. Martha M.L. Siahaan, menjelaskan bahwa kedokteran nuklir memanfaatkan zat radioaktif dalam dosis sangat kecil untuk menilai fungsi organ, mendeteksi penyakit secara dini, hingga memantau efektivitas terapi. “Meski kata ‘nuklir’ terdengar menegangkan, teknologi ini sudah lama digunakan dan sangat aman jika mengikuti standar,” ujarnya.

Hal ini diamini oleh dr. Tri Pera Sucianti, Sp.KN.TM (K) Sub-Sp Onk. FANMB, dokter radiologi RSUP Surabaya. Ia memberi gambaran sederhana bahwa radiasi sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “Menonton TV, menatap ponsel, bahkan menggunakan headset, semuanya memberikan paparan radiasi dalam intensitas kecil,” jelasnya. Termasuk prosedur medis seperti mamografi dan rontgen, yang telah teruji aman.
Ketakutan pasien biasanya muncul ketika pertama kali mendengar istilah pemeriksaan nuklir. “Tapi setelah mendapat edukasi mengenai rendahnya dosis radiasi, mereka mulai memahami dan bersedia menjalani pemeriksaan. Banyak yang justru merasa lebih tenang setelah mengetahui manfaatnya,” ujar dr. Tri.
Salah satu teknologi andalan di RSUP Surabaya adalah SPECT-CT (Single Photon Emission Computed Tomography–Computed Tomography). Alat ini menggabungkan kemampuan SPECT yang menangkap fungsi organ dengan ketajaman visual CT Scan. Kombinasi keduanya menghadirkan gambaran komprehensif yang sangat membantu dalam mendeteksi gangguan jantung, kelainan tulang, infeksi, tumor, hingga memantau terapi pada pasien kanker.
Bagi tenaga medis, SPECT-CT bukan hanya alat diagnosis, melainkan penentu arah pengobatan. “Seberapa jauh penyakit berkembang, bagaimana respons tubuh terhadap terapi, semuanya bisa terlihat dengan jauh lebih jelas,” ujar dr. Tri.
Tak berhenti pada SPECT-CT, RSUP Kemenkes Surabaya juga menghadirkan PET Scan (Positron Emission Tomography), menjadikannya rumah sakit pertama dan satu-satunya di Jawa Timur yang memiliki fasilitas ini. Teknologi PET Scan dikenal memiliki tingkat akurasi tinggi, khususnya untuk deteksi dini kanker, gangguan saraf, dan penyakit kardiovaskular. Alat ini berperan penting dalam proses staging, restaging, hingga pemantauan respons terapi, sehingga pengobatan dapat dirancang lebih cepat, tepat, dan personal.
Dengan modernisasi layanan kedokteran nuklir, RSUP Kemenkes Surabaya terus memperkuat posisinya sebagai pusat rujukan strategis. Manajemen rumah sakit kini tengah menyiapkan integrasi layanan dengan BPJS Kesehatan melalui proses kredensialisasi agar teknologi berbiaya tinggi ini dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Memiliki kapasitas 250 tempat tidur serta dukungan perangkat medis yang diperbarui, RSUP Surabaya diproyeksikan menjadi pusat penanganan kanker, jantung, stroke, dan uro-nefrologi. Di bidang kedokteran nuklir, posisinya pun istimewa: satu dari hanya tiga rumah sakit di Indonesia yang memiliki layanan terapi kanker berbasis nuklir, sekaligus satu-satunya di Jawa Timur.
Di balik kecanggihan teknologi tersebut, tersimpan optimisme baru. Bagi banyak pasien dan keluarga, kedokteran nuklir bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Ia menjadi pintu menuju diagnosis yang lebih akurat, pengobatan yang lebih terarah, dan harapan yang terasa semakin dekat. (ONNY)









Komentar