Categories: Lifestyle

Lakon “Hajatan” Tombo Ati Jombang Kritik Gengsi dan Hilangnya Semangat Gotong Royong

Adegan dalam pementasan teater Tombo Ati dengan lakon “Hajatan”.

INVESTORJATIM.COM – Hajatan yang semestinya menjadi ruang untuk berbagi kebahagiaan, mengungkapkan rasa syukur, sekaligus mempererat tali silaturahmi, kini tak jarang bergeser menjadi ajang gengsi dan menunjukkan eksistensi.

Fenomena tersebut diangkat Teater Tombo Ati Jombang melalui lakon “Hajatan” dalam pementasan keenam ajang Manajemen Talenta di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Sabtu (12/9/2026).

Pementasan yang mendapat respons positif dari masyarakat itu bahkan membuat Gedung Kesenian Cak Durasim dipenuhi penonton. Dengan balutan komedi, kritik sosial, koreografi tubuh, ritual, gerak, hingga parikan, Tombo Ati mencoba mengajak penonton melihat kembali makna hajatan di tengah perubahan kehidupan sosial masyarakat.

Sutradara sekaligus aktor dalam pementasan, M. Qowiyyudin Shofi, mengatakan lakon tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap semakin lunturnya semangat guyub dan gotong royong dalam tradisi hajatan.

“Di cerita lakon Hajatan ini kami ingin memberikan sebuah satir terhadap fenomena masyarakat saat ini. Ketika ada hajatan, keguyuban dan gotong royong itu sudah mulai sirna,” kata Qowiyyudin.

Ketika Hajatan Berubah Menjadi Hujatan

Cerita dalam lakon tersebut berpusat pada seorang tokoh yang menggelar hajatan untuk menyunatkan anaknya. Namun, acara yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan itu justru berubah menjadi arena persaingan.

Tokoh antagonis yang pernah kalah dalam pemilihan lurah merasa tidak terima. Ia kemudian menggelar hajatan tandingan yang dibuat lebih besar dan meriah.

Teater Tombo Ati Jombang kritik gengsi dan hilangnya semangat gotong royong.

Akibatnya, warga yang sebelumnya diundang ke hajatan tokoh utama justru beralih menghadiri hajatan tandingan tersebut.

“Jadi hajatan ini tak ubahnya seperti hujatan,” ujar Qowiyyudin.

Permainan kata hajatan dan hujatan menjadi salah satu simbol kritik yang dibangun dalam pertunjukan tersebut. Hajatan yang semula identik dengan syukur, sedekah, dan kebersamaan justru dapat berubah menjadi ruang untuk mempertontonkan gengsi dan eksistensi.

“Sekarang hajatan bukan lagi bagian dari ajang untuk mengucapkan rasa syukur, malah menjadi ajang untuk menyampaikan eksistensi, kegengsian, kepameran, dan seterusnya,” katanya.

Membawa Spirit Besutan Jombang

Meski mengangkat persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini, Hajatan tetap memiliki akar kuat pada kesenian tradisional Besutan Jombang.

Namun, Tombo Ati tidak menghadirkan tokoh Besut dan Rusmini secara langsung. Komunitas tersebut memilih mengambil spirit Besutan dan menerjemahkannya ke dalam bentuk pertunjukan yang lebih modern.

“Kami berangkat dari Jombang, mengangkat Besut, tetapi saat ini kami tidak menampilkan Besutnya, melainkan spirit Besutnya,” jelas Qowiyyudin.

M. Qowiyyudin Shofi sutradara “Hajatan” (dua kiri) bersama tim kurator manajemen talenta.

Inspirasi cerita juga bersumber dari naskah “Ngenteni Pinggir Terop” karya Hirul Anam, salah satu senior di lingkungan Komunitas Tombo Ati.

Dalam naskah tersebut, Besut dan istrinya, Rusmini, menunggu warga yang mereka undang ke sebuah hajatan. Namun, warga tidak kunjung datang karena memilih menghadiri pesta yang digelar pihak yang menjadi lawan mereka.

“Spirit itu yang kami ambil. Di sini sudah tidak ada lagi tokoh-tokoh Besut, tetapi cucu-cucu Besut yang hidup di zaman modern,” kata Qowiyyudin.

Konsep pertunjukan kemudian dikembangkan dengan berbagai pendekatan. Selain permainan teater, Tombo Ati memasukkan koreografi tubuh, komedi teatrikal, ritual, gerak, serta parikan yang menjadi bagian dari spirit Besutan.

“Kami tidak full pure realis. Kami juga memberikan pertunjukan koreo tubuh dan sebagainya. Yang pasti pertunjukan kami lebih fresh secara pewarnaan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kredo Komunitas Tombo Ati yang berupaya menghadirkan pertunjukan yang fashionable sekaligus dialogis, tanpa meninggalkan akar tradisi.

Revitalisasi Besutan Sejak 1980-an

Ketua Komunitas Tombo Ati, Imam Ghozali, mengatakan karya-karya yang mereka tampilkan tidak terlepas dari upaya panjang komunitas dalam merawat dan menghidupkan kembali kesenian tradisional Jombang.

“Saya adalah pegiat yang memotret berbagai fenomena yang terjadi di daerah, terutama yang berkaitan dengan budaya dan tradisi masyarakat,” ujar Imam.

Menurut dia, upaya merekonstruksi Besutan telah dilakukan sejak pertengahan 1980-an. Ketika itu, keberadaan Besutan disebut sudah mengalami kepunahan sehingga diperlukan riset dan rekonstruksi untuk menemukan kembali bentuk kesenian tersebut.

“Jadi, kami melakukan riset dan merekonstruksi kembali Besutan karena keberadaannya sudah punah,” katanya.

Setelah proses rekonstruksi selesai, hasil kajian tersebut kemudian diterbitkan. Upaya pelestarian tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi dilanjutkan melalui program revitalisasi dan pengenalan Besutan kepada berbagai kelompok masyarakat.

Mulai dari anak-anak sekolah dasar, SMP, SMA, mahasiswa hingga masyarakat umum diajak mengenal kesenian tersebut.

Khusus bagi pelajar, Besutan juga dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter.

“Untuk kalangan pelajar, terutama SD hingga SMA, Besutan kami gunakan sebagai salah satu media untuk membangun dan menanamkan karakter,” ujar Imam.

Dengan demikian, Besutan tidak semata diposisikan sebagai tontonan tradisional, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran nilai-nilai kehidupan.

Libatkan Lebih dari 25 Aktor

Pementasan Hajatan melibatkan lebih dari 25 aktor dengan empat tokoh yang menjadi pusat cerita.

Proses kreatif pertunjukan berlangsung sekitar tiga bulan setelah Komunitas Tombo Ati mendapatkan kurasi dari program Project Talenta.

Dari sisi durasi, pertunjukan dirancang sekitar satu jam. Pilihan tersebut dilakukan agar pesan pertunjukan tetap dapat diterima penonton tanpa kehilangan konsentrasi.

“Kami selalu di angka satu jam. Minimal satu jam dan paling lama kalau bisa tidak sampai dua jam, karena perlu banyak perhatian juga dari penonton,” tutur Qowiyyudin.

Melalui Hajatan, Tombo Ati pada akhirnya tidak sekadar menghadirkan hiburan. Mereka membawa penonton pada pertanyaan yang lebih mendasar: ketika tradisi berbagi berubah menjadi perlombaan mendapatkan pengakuan, apakah sebuah hajatan masih memiliki makna yang sama?

Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi kekuatan utama pertunjukan. Di balik tawa dan komedi yang disajikan, Tombo Ati menyelipkan kritik bahwa tradisi yang lahir dari semangat syukur dan kebersamaan dapat kehilangan maknanya ketika berubah menjadi arena gengsi, persaingan, dan pamer eksistensi. (onny)

REDAKSI

Recent Posts

Bikin Kapal Perang Berenergi Bersih, PT PAL Gandeng BRIN Riset Penggerak KRI Sriwijaya-100

INVESTORJATIM.COM – Ambisi kemandirian teknologi maritim nasional naik level. PT PAL Indonesia (Persero) menggandeng Badan…

11 jam ago

Gandeng Naval Group Prancis, PT PAL Siapkan Bengkel Raksasa untuk Kapal Selam

INVESTORJATIM.COM – Ketergantungan perbaikan kapal selam ke luar negeri perlahan coba diputus. PT PAL Indonesia…

20 jam ago

Tak Cuma Bisa Bayar Pakai QRIS, Mahasiswa UNAIR Kini Diajari Cara Adukan Jebakan Digital Bareng BRI

INVESTORJATIM.COM – Generasi muda jago transaksi digital, tapi banyak yang belum paham cara jaga data…

21 jam ago

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,84%, Investasi Semester I/2026 Capai Rp72,7 Triliun

INVESTORJATIM.COM — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,84%…

1 hari ago

Ekonomi Jatim Tumbuh, Kadin Soroti Kualitas Lapangan Kerja dan Daya Saing Industri

INVESTORJATIM.COM — Forum Jurnalis Ekonomi-Bisnis Surabaya (FORJEBS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Refleksi Jawa…

2 hari ago

Jaga Reputasi di Tengah Gempuran AI, BRI Gembleng Humas Daerah di Surabaya

INVESTORJATIM.COM – Satu isu lokal di daerah bisa meledak menjadi perbincangan nasional hanya dalam hitungan…

2 hari ago