
INVESTORJATIM.COM — Perwakilan komunitas peduli sungai dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026 di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Forum yang digelar dalam rangka memperingati Hari Sungai itu menjadi wadah memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Konferensi tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap Program Pertobatan Ekologis Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Beragam isu strategis dibahas, mulai dari kualitas air sungai, pendanaan sektor lingkungan hidup, pengelolaan sampah, pemanfaatan sungai, wisata konservasi, hingga pengawasan sungai berbasis komunitas.
Direktur Utama Perum Jasa Tirta I (PJT I), Fahmi Hidayat, yang hadir sebagai pembicara utama, menilai sungai memiliki peran vital dalam menopang kehidupan sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, sungai layaknya jaringan pembuluh darah yang mengalirkan kehidupan, mulai dari penyediaan air bersih hingga mendukung sektor pertanian, industri, energi, dan pariwisata.
“Pemanfaatan air tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak air yang dapat digunakan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas, ketersediaan, dan keberlanjutannya agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” ujar Fahmi dikutip dari Kominfo Jatim pekan lalu.
Ia menjelaskan, pengelolaan sumber daya air saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan tata guna lahan di kawasan hulu menyebabkan meningkatnya sedimentasi yang mengurangi kapasitas tampungan waduk. Di sisi lain, perubahan iklim memicu ketidakseimbangan ketersediaan air, dengan surplus pada musim hujan dan potensi defisit saat musim kemarau.
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, kebutuhan air juga terus meningkat. Kondisi tersebut menuntut pengelolaan yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik, pertanian, industri, pembangkitan energi, serta pelestarian lingkungan.
Menurut Fahmi, pengelolaan air yang berkelanjutan harus berlandaskan lima prinsip utama, yakni adil, efisien, terukur, lestari, dan adaptif. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan pemanfaatan air tetap memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.
Selain tantangan teknis, Fahmi menilai masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kualitas sungai menjadi pekerjaan rumah bersama. Oleh karena itu, perencanaan, pendanaan, implementasi regulasi, serta koordinasi antarlembaga perlu terus diperkuat agar pengelolaan sumber daya air berjalan lebih efektif.
Ia menekankan bahwa keberhasilan menjaga sungai tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah maupun pengelola sumber daya air. Komunitas peduli sungai memiliki peran strategis dalam meningkatkan edukasi lingkungan, memantau kondisi sungai, mendorong konservasi, serta mencegah pencemaran sejak di tingkat masyarakat.
Sebagai BUMN yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya air, PJT I terus menjalankan pengelolaan daerah aliran sungai, pengendalian kuantitas dan kualitas air, pengoperasian infrastruktur sumber daya air, serta mitigasi banjir di wilayah kerjanya. Melalui partisipasi dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026, perusahaan menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi dengan komunitas dan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang terpadu, berkelanjutan, dan mampu mendukung ketahanan lingkungan maupun pertumbuhan ekonomi.(Onny)











Komentar