Categories: Indeks

Jangan Terkecoh Tubuh Langsing! PERKI Ungkap Risiko Kolesterol Tinggi Bisa Mengintai Siapa Saja

dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, memaparkan Daewoong akan terus memperluas edukasi mengenai pencegahan dan penanganan penyakit kardiovaskular.

INVESTORJATIM.COM – Tubuh langsing kerap dianggap identik dengan kondisi kesehatan yang prima. Namun, anggapan tersebut dinilai menyesatkan. Faktanya, seseorang dengan berat badan normal tetap berisiko mengalami kolesterol tinggi hingga penyakit kardiovaskular yang dapat berujung pada serangan jantung maupun stroke.

Melihat masih kuatnya persepsi tersebut di masyarakat, PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar edukasi media di Jakarta. Kegiatan ini bertujuan meluruskan pemahaman bahwa risiko kolesterol tinggi tidak ditentukan semata oleh bentuk tubuh, melainkan juga dipengaruhi faktor metabolik, genetik, dan gaya hidup.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah PERKI, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan seseorang dengan indeks massa tubuh (BMI) normal tetap dapat mengalami penumpukan lemak visceral di sekitar organ tubuh atau kondisi yang dikenal sebagai normal weight obesity.

“Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat. Penumpukan lemak visceral dapat memicu resistensi insulin serta meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat, sehingga pemeriksaan berkala sangat penting,” ujarnya.

Menurutnya, dislipidemia atau gangguan kadar lemak darah sering berkembang tanpa gejala. Karena itu, masyarakat tidak disarankan menilai kondisi kesehatannya hanya dari penampilan fisik, melainkan perlu melakukan pemeriksaan profil lipid secara rutin.

Sejumlah penelitian kohort berskala besar di Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara lain menunjukkan bahwa orang dengan berat badan normal tetapi memiliki gangguan metabolik menghadapi risiko penyakit kardiovaskular sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan individu dengan berat badan serupa yang metaboliknya sehat.

Risiko tersebut bahkan dinilai lebih tinggi pada populasi Asia. Berbagai penelitian menunjukkan masyarakat Asia cenderung menyimpan lemak visceral lebih banyak meski memiliki berat badan relatif rendah. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Metabolism juga menemukan penderita diabetes di Asia memiliki peluang lebih besar bertubuh langsing dibandingkan mengalami obesitas.

Dr. Susetyo menambahkan, pedoman terapi terkini merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL-C) hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan minimal 50% dari kadar awal.

“Pada pasien berisiko sangat tinggi berlaku prinsip semakin rendah kadar LDL-C, semakin baik. Bukti klinis menunjukkan penurunan LDL-C berbanding lurus dengan penurunan risiko serangan jantung, stroke, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa individu yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, diabetes, maupun hipertensi sebaiknya menjalani pemeriksaan profil lipid secara berkala meski tidak mengalami keluhan.

Dalam penanganan pasien, terapi kombinasi statin dan ezetimibe menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif untuk menurunkan kadar LDL-C. Kombinasi tersebut bekerja melalui dua mekanisme berbeda, yakni menghambat produksi kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapannya di usus. Selain memberikan efek penurunan kolesterol yang lebih optimal, kombinasi dosis tetap dalam satu tablet juga dinilai dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi jangka panjang.

Sementara itu, Head of Brand and Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk menghapus anggapan keliru bahwa tubuh langsing identik dengan terbebas dari penyakit jantung.

“Melalui edukasi ini, kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa siapa pun dapat memiliki risiko penyakit kardiovaskular. Pemeriksaan kesehatan secara rutin dan penanganan yang tepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih serius,” ujarnya. (Onny)

REDAKSI

Recent Posts

Hotel Tak Lagi Kejar Okupansi, Kini Berebut Tamu Tajir demi Dongkrak Laba

INIINVESTORJATIM.COM – Peta persaingan industri perhotelan Indonesia mulai bergeser. Jika sebelumnya tingkat okupansi menjadi tolok…

1 jam ago

PLN Nusantara Power Percepat Ekosistem Hidrogen, Siapkan Energi Masa Depan Indonesia

INVESTORJATIM.COM – PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen sebagai bagian dari…

12 jam ago

Profesor ITS Temukan Rekayasa Sambungan Bangunan yang Lebih Tahan Gempa, Keselamatan Jadi Prioritas

INVESTORJATIM.COM – Di tengah tingginya ancaman gempa bumi yang membayangi Indonesia sebagai negara di kawasan…

15 jam ago

Pelindo Marine Kawal Kedatangan Crane Modern, Kapasitas Pelabuhan Nasional Makin Tangguh

INVESTORJATIM.COM – Upaya memperkuat daya saing logistik nasional terus dipercepat. PT Pelindo Marine Service (Pelindo…

20 jam ago

Tarif Impor AS Tak Beri Keunggulan, Industri Sepatu RI Desak Pemerintah Kejar Tarif 0%

INVESTORJATIM.COM – Harapan industri alas kaki nasional untuk memperoleh angin segar dari kebijakan tarif impor…

24 jam ago

OMG Angkat Kisah Perempuan Inspiratif di JFC 2026, Makeup Jadi Simbol Transformasi Diri

INVESTORJATIM.COM – Industri kecantikan semakin mengedepankan makna di balik riasan, bukan sekadar estetika. Memanfaatkan panggung…

1 hari ago