
SURABAYA, INVESTORJATIM – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur memastikan tekanan harga sepanjang 2025 masih berada dalam koridor aman. Sepanjang tahun lalu, inflasi Jawa Timur tercatat sebesar 2,93 persen, baik secara tahunan maupun year to date, hanya terpaut tipis dari inflasi nasional yang berada di level 2,92 persen.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menyatakan capaian tersebut menegaskan stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga meski berbagai komoditas strategis mengalami fluktuasi harga.
“Angka inflasi Jawa Timur masih terkendali dan berada dalam sasaran yang ditetapkan. Ini menunjukkan upaya pengendalian harga berjalan efektif sepanjang 2025,” ujarnya dalam paparan resmi di Surabaya, Senin (5/1/2026).
BPS mencatat, tekanan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga sejumlah kebutuhan utama dan barang konsumsi. Emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang terbesar, diikuti beras, cabai rawit, daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, hingga tarif angkutan udara. Komoditas lain seperti mobil, Sigaret Kretek Mesin (SKM), bawang merah, dan minyak goreng juga turut mendorong kenaikan indeks harga.
Selain itu, kenaikan harga cabai merah, telur ayam ras, santan kemasan, kopi bubuk, bensin, wortel, biaya pendidikan tinggi, sewa rumah, hingga sepeda motor ikut mempertebal tekanan inflasi tahunan.
Namun demikian, laju inflasi berhasil diredam oleh sejumlah komoditas yang justru mengalami penurunan harga. Bawang putih, ponsel, laptop, tomat, pisang, ikan mujair, udang basah, serta produk sabun dan deterjen tercatat memberikan kontribusi deflasi secara tahunan.
Dari sisi kelompok pengeluaran, lonjakan paling signifikan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi mencapai 4,19 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak tajam hingga 15,26 persen.
Kelompok transportasi, kesehatan, pendidikan, serta perumahan dan utilitas juga mencatat kenaikan indeks, meski relatif moderat. Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan harga adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, dengan deflasi 0,53 persen.
Secara geografis, tekanan inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Sumenep sebesar 3,75 persen, sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Gresik yang berada di level 2,44 persen.
BPS menilai, capaian ini mencerminkan daya beli masyarakat Jawa Timur yang masih terjaga, sekaligus menunjukkan ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika harga komoditas sepanjang 2025. (Onny)








Komentar