Guru Besar ITS Rancang Sistem Kendaraan Otonom Terintegrasi untuk Jaga Kedaulatan Laut Indonesia

Sistem kendaraan otonom unmanned aerial vehicle (UAV) berjenis hexacopter karya Guru Besar ke-156 ITS Prof Dr Ir Ari Santoso DEA.

INVESTORJATIM.COM – Luasnya wilayah kepulauan Indonesia tak hanya menghadirkan peluang ekonomi, tetapi juga tantangan besar dalam menjaga konektivitas, keamanan, hingga pengelolaan sumber daya laut. Menjawab kebutuhan tersebut, Guru Besar ke-256 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. Ir. Ari Santoso, DEA mengembangkan konsep sistem kendaraan otonom terintegrasi yang menggabungkan wahana bawah laut, permukaan laut, dan udara untuk mendukung operasi maritim nasional.

Menurut Ari, karakter geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau menuntut hadirnya teknologi yang mampu bekerja secara terpadu. Tantangan tersebut meliputi keselamatan pelayaran, komunikasi antarpulau, inspeksi infrastruktur bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan, hingga penanganan bencana.

Sebagai jawabannya, dosen Departemen Teknik Elektro ITS itu merancang tiga pilar kendaraan otonom, yakni autonomous underwater vehicle (AUV) untuk operasi bawah laut, unmanned surface vehicle (USV) di permukaan laut, serta unmanned aerial vehicle (UAV) di udara. Ketiga platform tersebut dirancang saling terhubung sehingga mampu menjalankan misi secara lebih efektif.

Baca Juga:  Mahasiswa ITS Belajar Sistem Mutu di TPS, Intip Standar ISO dalam Operasional Pelabuhan

“Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, hingga kecerdasan buatan,” ujar Ari.

Ia menjelaskan, sistem tersebut bekerja menggunakan konsep closed-loop system yang terdiri atas enam komponen utama, yakni measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment. Keenam komponen tersebut saling bertukar informasi secara berkelanjutan agar kendaraan mampu mengambil keputusan dan bergerak secara adaptif, aman, serta optimal.

Dalam implementasinya, setiap komponen memiliki fungsi berbeda. Measurement bertugas membaca data sensor, perception menerjemahkan kondisi lingkungan, sedangkan guidance menentukan arah dan lintasan. Selanjutnya, control menjaga kestabilan sistem, actuator mengeksekusi perintah fisik, sementara environment menjadi faktor eksternal yang harus diantisipasi selama operasi berlangsung.

Ari menuturkan, AUV diproyeksikan untuk melakukan inspeksi kabel bawah laut, jaringan pipa, hingga pemantauan terumbu karang. Sementara itu, USV berfungsi sebagai wahana komunikasi dan observasi di permukaan laut, sedangkan UAV memperluas cakupan pengawasan dari udara.

Menurutnya, integrasi ketiga kendaraan otonom tersebut berpotensi menjadi teknologi strategis dalam memperkuat pengawasan wilayah maritim sekaligus mendukung kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan.

Baca Juga:  HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Resmi Hadir di Indonesia, Smartwatch Golf Premium Berjiwa Jepang

“Laut Indonesia bukan hanya batas wilayah, melainkan ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan,” tegas Ari.

Pengembangan teknologi ini juga sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-14 mengenai Ekosistem Laut. (Onny)

Komentar