
INVESTORJATIM.COM — Universitas Airlangga melalui Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) menggelar SAGAVET 2026 bertema Dampak Penyakit Newcastle dan Kualitas Pakan terhadap Ketersediaan Pangan, serta Peningkatan Kesehatan bagi Pemilik Hewan Kesayangan di Hotel Wyndham Surabaya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran buku 55 Tahun FKH UNAIR dan menghadirkan Prof. Dr. Suwarno sebagai narasumber utama dalam sesi bertajuk One Hundred Years Newcastle Disease in Indonesia, What Happened?
Dalam paparannya, Prof. Suwarno menegaskan bahwa Newcastle Disease (ND) masih menjadi ancaman global bagi industri peternakan unggas. Penyakit yang telah bersifat endemis di berbagai negara itu dinilai sulit dikendalikan dan terus menimbulkan kerugian ekonomi besar akibat tingginya angka kematian unggas serta penurunan produktivitas peternakan.
“ND hingga saat ini masih menjadi ancaman global bagi sektor peternakan unggas. Selain bersifat endemis dan sulit dikendalikan, penyakit tersebut juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar akibat tingginya angka kematian unggas dan penurunan produktivitas peternakan,” ujarnya, Sabtu, 23/5/2026.
Prof. Suwarno menjelaskan, perjalanan Newcastle Disease selama satu abad sejak 1926 hingga 2026 memperlihatkan perkembangan virus yang terus mengalami mutasi. Evolusi tersebut membuat virus semakin adaptif terhadap lingkungan dan inang baru sehingga memperumit proses pengendalian penyakit.
Menurutnya, tantangan lain muncul dari semakin beragamnya reservoir atau organisme penyimpan virus. Jika sebelumnya ND lebih dominan menyerang ayam, kini penyebarannya mulai ditemukan pada berbagai jenis burung lain, mulai dari burung pemakan biji, burung pemakan daging, hingga burung penghasil madu.
Perubahan pola penyebaran itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa virus ND terus berkembang dan perlu diantisipasi secara serius oleh sektor peternakan dan kesehatan hewan global. Mobilitas hewan serta interaksi antarspesies burung dinilai menjadi faktor yang mempercepat penyebaran virus di berbagai wilayah.
Dalam sesi lanjutan, Prof. Suwarno juga menyoroti dampak ND terhadap ketahanan pangan nasional. Menurutnya, wabah ND tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga berpotensi mengganggu produksi unggas nasional yang menjadi salah satu sumber protein hewani masyarakat.
“Pandemi ND menjadi tantangan serius karena berdampak terhadap kesehatan hewan, ketahanan pangan, hingga kondisi ekonomi peternak,” katanya.
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa penelitian terkait virus Newcastle Disease juga membuka peluang baru dalam pengembangan ilmu kesehatan. Potensi pemanfaatan virus ND di bidang medis dan veteriner masih terus diteliti untuk mendukung inovasi kesehatan di masa depan.
Melalui penyelenggaraan SAGAVET 2026, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ancaman Newcastle Disease terhadap sektor peternakan sekaligus mendorong penguatan riset kesehatan hewan di Indonesia.
Selain itu, forum tersebut diharapkan mampu mempererat kolaborasi antara akademisi dan praktisi dalam menghadapi tantangan penyakit hewan yang terus berkembang di tingkat global. (Onny)














Komentar