Categories: Indeks

Dari Tambak Sederhana, Reno Kini Mampu Produksi Dua Ton Udang Vaname dan Tembus Pasar Ekspor

Reno saat memberi makan udang vaname. (foto/onny).

INVESTORJATIM.COM – Suara kincir air yang terus berputar di permukaan tambak menjadi bagian penting dari keseharian Reno. Bagi petambak udang vaname di Desa Lalang, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, kincir bukan sekadar peralatan tambak. Keberadaannya ikut menentukan keberhasilan panen yang telah ia perjuangkan selama lebih dari dua dekade.

Sejak 2001, Reno menekuni usaha budidaya udang vaname. Berawal dari kolam sederhana, ia perlahan membangun usaha tambak yang kini semakin berkembang. Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu mudah. Keterbatasan peralatan produksi kerap menjadi kendala yang membuatnya harus mengambil keputusan sulit.

Sebelum mendapat dukungan dari PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), Reno hanya mengandalkan peralatan seadanya. Kincir air, pompa, dan perlengkapan pendukung lainnya belum sepenuhnya tersedia untuk menunjang kebutuhan tambak.

Akibatnya, ia beberapa kali terpaksa memanen udang lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Bukan karena udang sudah mencapai ukuran ideal, melainkan karena kondisi tambak tidak memungkinkan untuk melanjutkan proses budidaya.

“Ibaratnya panen paksa. Sebelum ada bantuan INALUM, kalau ada kendala di tambak, terkadang kami harus melakukan panen lebih awal,” kenang Reno.

Panen terlalu cepat tentu membawa konsekuensi. Udang belum mencapai ukuran dan bobot maksimal sehingga hasil yang diperoleh pun tidak sesuai harapan.

Kondisi itu mulai berubah setelah Reno menerima bantuan peralatan tambak dari INALUM. Bantuan berupa kincir air, pompa air, dan sejumlah perlengkapan lainnya membuat proses budidaya menjadi lebih terjaga. Ia tidak lagi terlalu khawatir ketika salah satu peralatan mengalami gangguan.

Hasil melimpah. (foto/onny)

Salah satu pengalaman yang paling diingatnya terjadi ketika kincir air di tambak mengalami kerusakan. Sebelumnya, kerusakan seperti itu bisa membuatnya terpaksa mempercepat masa panen. Namun, kali ini ia memiliki peralatan pendukung sehingga budidaya tetap bisa dilanjutkan.

“Kalau tidak ada bantuan kincir, target panen kami yang seharusnya bisa mencapai dua ton mungkin hanya sekitar satu ton. Alhamdulillah, bantuan sudah datang sebelum masalah itu terjadi sehingga kami tidak sampai harus panen lebih awal,” ujarnya.

Perubahan tersebut perlahan terlihat dari hasil produksi. Jika sebelumnya Reno hanya mampu menghasilkan sekitar 300–500 kilogram udang dalam satu siklus, kini hasil panennya bisa mencapai dua ton bahkan lebih.

Dengan luas tambak sekitar 440 meter persegi, Reno mulai mengembangkan usaha budidaya secara lebih produktif. Dalam satu siklus, ia membutuhkan waktu sekitar empat hingga empat setengah bulan hingga udang siap dipanen.

Udan vaname yang dibudidayakannya menggunakan bibit yang berasal dari Ekuador. Selama masa pemeliharaan, kondisi air dan kebutuhan oksigen menjadi perhatian penting agar udang dapat tumbuh dengan baik hingga mencapai ukuran konsumsi.

Berkembangnya usaha tambak juga membawa dampak bagi warga sekitar. Sebelum mendapat bantuan, Reno hanya dibantu tiga orang pekerja untuk menjalankan aktivitas tambak. Namun, seiring meningkatnya kapasitas produksi, kebutuhan tenaga kerja pun bertambah.

Reno bersama temannya memanen udang. vaname. (foto/onny)

Kini, ia mempekerjakan 10 orang untuk membantu mengelola tambak. Artinya, usaha yang awalnya dijalankan dengan dukungan tiga pekerja kini mampu membuka kesempatan kerja bagi lebih banyak warga.

Bagi Reno, peningkatan produksi bukan hanya soal bertambahnya jumlah udang yang dipanen. Ada lebih banyak orang yang kini ikut menggantungkan penghidupan dari aktivitas tambak tersebut.

Hasil panen udang vaname itu juga tidak hanya dipasarkan di sekitar Batu Bara. Sebagian hasil produksi telah menjangkau pasar ekspor, antara lain Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura. Capaian tersebut menjadi salah satu penanda bahwa usaha tambak yang dirintis dari skala sederhana mulai mampu menembus pasar yang lebih luas.

Dari sisi harga, udang hasil panen Reno juga memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan. Pada panen terakhir, udang dengan ukuran 27 ekor per kilogram dihargai sekitar Rp95.000–Rp97.000 per kilogram.

Jika digabungkan dengan hasil panen sebelumnya, total nilai penjualan yang berhasil diperolehnya mencapai sekitar Rp104 juta.

Meski demikian, perjalanan usaha Reno belum sepenuhnya bebas dari tantangan. Perubahan cuaca masih menjadi salah satu faktor yang harus diantisipasi. Selain itu, harga jual udang di tingkat petambak juga kerap berfluktuasi, sementara biaya produksi cenderung meningkat.

Hasil panen udang vaname. (foto/onny)

Karena itu, ia berharap dukungan terhadap pelaku usaha kecil di Desa Lalang dapat terus berlanjut. Tidak hanya untuk petambak udang, tetapi juga masyarakat yang mengembangkan usaha di sektor peternakan, perikanan, dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.

“Harapan kami, semoga INALUM tidak bosan memperhatikan UMKM, khususnya di Desa Lalang dan sekitarnya. Dengan begitu, usaha masyarakat bisa semakin berkembang dan lebih maju,” tuturnya.

Bagi Reno, bantuan peralatan dari INALUM telah memberikan ruang bagi usahanya untuk tumbuh. Dari yang sebelumnya kerap menghadapi keterbatasan hingga harus melakukan panen paksa, kini ia mampu meningkatkan produksi, menambah jumlah pekerja, dan memasarkan hasil tambaknya hingga ke luar negeri.

Dua dekade lebih merintis usaha membuat Reno memahami bahwa membesarkan tambak tidak cukup hanya dengan kerja keras.

Bibit udang vaname dari Equador. (foto/onny)

Ketersediaan sarana produksi dan dukungan yang tepat juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Kini, di tengah suara kincir air yang terus berputar, Reno memiliki harapan lebih besar. Bukan hanya menghasilkan panen yang melimpah, tetapi juga menjadikan tambaknya sebagai sumber penghidupan yang semakin kuat bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya. (onny)

REDAKSI

Recent Posts

Modernisasi Teknologi Smelter, INALUM Bidik Produksi Aluminium 280.000 Ton

INVESTORJATIM.COM – Meningkatnya kebutuhan aluminium, baik di dalam negeri maupun pasar global, mendorong PT Indonesia…

13 jam ago

BRI BO Waru Perluas Kemitraan dengan Yayasan Yohanes Gabriel, Bidik Potensi Dana dan Transaksi Digital

INVESTORJATIM.COM – Kolaborasi dengan lembaga pendidikan, sosial, dan keagamaan menjadi salah satu peluang bagi PT…

1 hari ago

PT PAL Tawarkan Proyek Kapal Haji hingga Kapal Energi di Forum Danantara, Bidik Investor Baru

INVESTORJATIM.COM – PT PAL Indonesia (Persero) membuka peluang investasi untuk memperkuat industri perkapalan nasional. Hal…

1 hari ago

Bikin Kapal Perang Berenergi Bersih, PT PAL Gandeng BRIN Riset Penggerak KRI Sriwijaya-100

INVESTORJATIM.COM – Ambisi kemandirian teknologi maritim nasional naik level. PT PAL Indonesia (Persero) menggandeng Badan…

2 hari ago

Gandeng Naval Group Prancis, PT PAL Siapkan Bengkel Raksasa untuk Kapal Selam

INVESTORJATIM.COM – Ketergantungan perbaikan kapal selam ke luar negeri perlahan coba diputus. PT PAL Indonesia…

3 hari ago

Tak Cuma Bisa Bayar Pakai QRIS, Mahasiswa UNAIR Kini Diajari Cara Adukan Jebakan Digital Bareng BRI

INVESTORJATIM.COM – Generasi muda jago transaksi digital, tapi banyak yang belum paham cara jaga data…

3 hari ago