Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan
SURABAYA, INVESTOR JATIM — PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) terus menjaga stabilitas kinerjanya di tengah penurunan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) yang menekan industri perbankan dalam dua tahun terakhir. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah memperbesar kontribusi pendapatan non-bunga atau fee-based income (Non-Interest Income/NII).
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan bahwa penyusutan NIM menjadi tantangan serius bagi seluruh perbankan, termasuk CIMB Niaga. Karena itu, pihaknya berfokus memperluas sumber pendapatan di luar bunga pinjaman agar kinerja tetap solid dan berkelanjutan.
“Dalam dua tahun terakhir, tekanan terhadap NIM cukup terasa. Untuk itu, kami memperkuat pendapatan non-bunga dari berbagai lini bisnis guna menjaga profitabilitas bank tetap sehat,” ujar Lani Darmawan di Surabaya.
Saat ini, porsi fee-based income terhadap total pendapatan CIMB Niaga berada di kisaran 30–31 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata industri.
“Target kami hingga akhir tahun porsi pendapatan non-bunga masih akan berada di sekitar 31 persen. Ke depan, kami menargetkan bisa naik hingga menyentuh 35 persen,” tambahnya.
Likuiditas Menguat, Biaya Dana Mulai Terkendali
Lebih lanjut, Lani menjelaskan bahwa tekanan terhadap NIM sempat menurun lebih dari 70 basis poin dalam 18 bulan terakhir. Namun kini, situasi mulai membaik seiring meningkatnya likuiditas di pasar perbankan.
Langkah pemerintah dan otoritas keuangan, seperti Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, dalam menyalurkan tambahan likuiditas sekitar Rp200 triliun ke perbankan nasional terutama bank-bank Himbara dinilai turut membantu menurunkan kompetisi bunga dana pihak ketiga (DPK).
“Saat ini bank tidak perlu lagi menaikkan bunga deposito terlalu tinggi. Loan to Deposit Ratio (LDR) juga menurun, yang menandakan likuiditas membaik. Dengan kondisi ini, biaya dana kami berpotensi turun dan memberi ruang bagi peningkatan margin,” jelas Lani.
Dari data internal CIMB Niaga, LDR kuartal III 2025 berada di level 81,5 persen, lebih rendah dari kuartal I yang masih sekitar 89–91 persen. Hal ini mencerminkan kondisi likuiditas yang semakin sehat dan longgar.
Kredit UMKM Tetap Tumbuh Positif
Meski daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, sektor usaha kecil dan menengah (UKM/UMKM) masih menunjukkan tren pertumbuhan positif di CIMB Niaga.
“Kredit UKM kami tumbuh sekitar 7–8 persen secara tahunan, sementara industri perbankan hanya naik sekitar 1 persen. Ini bukti bahwa sektor riil masih punya potensi besar, dan kami akan terus mendukung pelaku usaha kecil dan menengah,” tutur Lani.
Dengan strategi diversifikasi pendapatan dan penguatan segmen UMKM, CIMB Niaga optimistis dapat menjaga kinerja yang sehat di tengah tantangan industri yang dinamis. (Onny Asmara)
INVESTORJATIM.COM - Dukungan terhadap Ade Jona Prasetyo untuk maju sebagai calon Ketua Umum Himpunan Pengusaha…
INVESTORJATIM.COM - Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Timur menggelar Rapat Kerja dan Konsultasi Provinsi (Rakerkonprov) 2026…
INVESTORJATIM.COM - Pertamina Patra Niaga berkomitmen memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi, khususnya ketersediaan LPG…
INVESTORJATIM.COM – Di tengah denting baja dan hiruk-pikuk galangan, wajah industri maritim perlahan berubah. Jika…
INVESTORJATIM.COM - PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi meluncurkan layanan kereta api jarak jauh terbaru,…
INVESTORJATIM.COM - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) memanfaatkan panggung internasional INTERCEM Asia 2026 untuk…