Categories: Lifestyle

Cahaya Dari Langit Baturangin: Ketika Satu Video Call Mengalahkan Gelap Puluhan Tahun

Barmen Siagian saat video Call dengan anaknya. (Foto/onny).

INVESTORJATIM.COM – Di atas bukit Toba, 830 meter dari permukaan laut, ada sebuah dusun yang selama puluhan tahun ‘dilupakan’ cahaya. Namanya Baturangin.

Di sanalah, pada Kamis malam (29/10/2026), Barmen Siagian (52) duduk bersila. Di tangannya, sebuah ponsel yang layarnya sudah retak menyala. Di layar itu, wajah anaknya yang harus dititipkan di kos sejak kelas 1 SD tersenyum. Mereka bertatapan lewat video call.

Barmen menatap lebih lama. Matanya berkaca. Seolah tak percaya, anak yang dulu untuk melihatnya saja dia harus berjalan kaki berjam-jam menembus hutan dan jalan lumpur, kini ada di genggamannya.

Generasi penerus Dusun Baturangin. (foto/onny)

“Biasanya tiga bulan sekali kami datang ke kosnya hanya untuk tanya kabar. Sekarang, sejak ada internet, kami sudah bisa video call. Anak kami juga senang,” ucapnya dengan suara bergetar.

Bagi Barmen, itu bukan sekadar teknologi. Itu adalah obat rindu yang selama ini dia telan pahit-pahit.

Kisah Barmen adalah kisah 15 keluarga di Dusun Baturangin, Desa Meranti Tengah, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Sebuah dusun yang indah, dikeliling lahan kopi, karet, dan durian, tapi hidup dalam ‘kutukan’ gelap.

DI BAWAH CAHAYA MINYAK TANAH

Tanyakan pada Buka Siagian (65), kepala adat setempat, seperti apa Baturangin dulu.

Buka Siagian, Ketua Adat Dusun Baturangin. (foto/onny)

“Dulu, kalau malam, kampung kami benar-benar gelap. Hanya lampu teplok dengan minyak tanah. Mau mengerjakan sesuatu juga susah,” kenangnya.

Saat matahari tenggelam, Baturangin mati. Tidak ada aktivitas. Para ibu yang ingin menganyam tikar untuk tambahan penghasilan harus berhenti. Anak-anak tidak bisa belajar. Gelap adalah penjara.

Untuk sekadar dapat sinyal HP, warga harus melakukan ritual yang kini terdengar konyol: berjalan jauh ke bukit, bahkan memanjat pohon. Belum tentu dapat.

Sampai kemudian, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) datang. Mereka ‘membawa’ matahari dan langit.

Malam haripun kini sudah terang, berkat terpasangnya panel Surya. (foto/onny)

Panel surya dipasang. Lampu jalan menyala. Dan yang paling ajaib, sebuah piringan putih Starlink mengangkasa, membawa internet dari langit langsung ke rumah-rumah kayu mereka.

Malam itu juga, Baturangin untuk kali pertama melihat dirinya sendiri. Terang.

DARI CANGKUL KE GOOGLE

Perubahan itu merembet lebih dalam dari sekadar cahaya.

Dulu, sawah mereka dicangkul dengan tangan. Padi ditanam setahun sekali, karena tenaganya habis hanya untuk mengolah tanah. Hasil panen gabah ditumbuk pakai lesung dan alu, atau losung aek, penumbuk tradisional bertenaga air sungai. Kalau air kering, gabah disimpan. Sampai setahun. Membusuk pelan-pelan.

“Kami melihat ada masyarakat yang menyimpan gabah sampai satu tahun. Bukan karena tidak bisa menghasilkan padi, tapi karena kesulitan mengolah gabah menjadi beras,” ungkap VP CSR INALUM, Iqbal, saat ditemui di kantor Inalum Paritohan, Selasa (27/10/2026).

Masuknya panel listrik PLTS dari PT Inalum, membuat para Ibu – ibu bisa melakukan aktifitas menganyam tikar setelah pulang berladang. (foto/onny)
Warga Dusun Baturangin memanen kopi. (foto/onny)

INALUM membawa hand tractor. Membawa mesin penggilingan padi (rice milling). Tiba-tiba, petani Baturangin bisa panen dua kali setahun. Tiba-tiba, gabah yang dulu disimpan setahun, kini jadi beras dalam hitungan menit.

Air bersih yang dulu harus ditimba dari sungai, kini mengalir lewat pipanisasi ke depan rumah. Pengobatan gratis datang, sehingga warga tak perlu lagi menandu orang sakit 14 kilometer melewati jalan berkelok.

Berkat jaringan internet. Ikan jurung, kopi, dan karet mereka kini mulai difoto. Siapa tahu, besok ada yang beli dari Facebook.

LUKA YANG BELUM SEMBUH: JALAN DAN SEKOLAH

Namun, di balik cahaya surya yang baru menyala itu, Baturangin masih menyimpan dua luka lama yang menganga: jalan dan sekolah.

Jalan menuju dusun itu masih seperti kubangan kerbau. Hanya motor yang berani lewat. Hasil bumi berton-ton harus dipikul, tidak bisa diangkut mobil. Jembatan rusak. 14 kilometer rasa 140 kilometer.

Akses menuju Dusun Baturangin yang mengharuskan pakai kendaraan roda dua. Saat hujan, akses jalan menuju Baturangin menjadi licin dan berlumpur. (foto/onny)

“Penghasilan kami dari kopi, karet, dan sawah. Kami mengerjakannya semampu kami. Tetapi, kalau jalan sulit, hasil panen juga susah dibawa keluar,” keluh Barmen.

Camat Pintu Pohan Meranti, Herwin Simangunsong, mengamini. “Yang paling vital saat ini sebenarnya jalan. Kalau akses sudah terbuka, masyarakat bisa membawa hasil pertanian lebih banyak untuk dijual ke luar,” ujarnya.

Luka kedua lebih perih. Sekolah Dasar di Baturangin sudah mati. Tak beroperasi. Anak-anak usia 6 tahun harus merantau, nge-kos jauh dari orang tua sejak kelas 1 SD. Bayangkan.

Dusun Baturangin di pagi hari yang terasa sejuk dan damai. (foto/onny)
Suasana pagi hari, ngumpul sambil minum kopi bersama warga Baturangin (foto/onny)

Barmen bisa video call sekarang. Tapi video call tak pernah bisa menggantikan pelukan setiap malam. Tak bisa menggantikan mengawasi anak belajar di meja makan.

“Kami berharap jalan ke kampung ini diperbaiki dan sekolah bisa dibuka kembali. Kalau sekolah ada di sini, anak-anak tidak perlu pergi jauh dan tinggal di tempat kos sejak kelas satu SD,” harapnya lirih.

Kini, malam di Baturangin memang sudah tidak gelap lagi. Lampu surya menyala seperti kunang-kunang raksasa. Starlink berkedip di atap-atap seng.

Barmen tersenyum lagi di depan ponselnya. Panggilan video itu masih tersambung.

Tapi dia tahu, terang dan internet baru saja membuka jendela. Untuk benar-benar keluar dan terbang, Baturangin butuh jalan yang mulus, dan sekolah yang kembali berdetak. (onny)

REDAKSI

Recent Posts

PWI Jatim Kenang Kepemimpinan Rudy Saladin, Dinilai Hangat dan Terbuka kepada Pers

INVESTORJATIM.COM – Perjalanan Mayjen TNI Rudy Saladin sebagai Panglima Kodam (Pangdam) V/Brawijaya meninggalkan kesan tersendiri…

10 menit ago

Antisipasi Cuaca Ekstrem, TPS Gelar Safety Drill Angin Kencang di Dermaga Internasional

INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar Safety Drill Angin Kencang di area Dermaga…

39 menit ago

18 Perenang Seberangi Selat Madura, Galang Dana Rp1 Miliar untuk Perempuan Nelayan Demak

INVESTORJATIM.COM – Sebanyak 18 perenang dan satu pelatih berhasil menuntaskan misi renang ekstrem melintasi Selat…

10 jam ago

Yogalates Pinktober Java Paragon Surabaya Ajak Perempuan Peduli Kesehatan dan Kanker Payudara

INVESTORJATIM.COM – Java Paragon Hotel & Residences Surabaya mengajak perempuan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan…

23 jam ago

SIG Bukukan Laba Rp532 Miliar hingga September 2026, Melonjak 363,1%

INVESTORJATIM.COM – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada…

1 hari ago

Dari Tambak Sederhana, Reno Kini Mampu Produksi Dua Ton Udang Vaname dan Tembus Pasar Ekspor

INVESTORJATIM.COM – Suara kincir air yang terus berputar di permukaan tambak menjadi bagian penting dari…

2 hari ago