
INVESTORJATIM.COM – Di balik misi pertahanan, kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut juga menjadi ujung tombak misi kemanusiaan. Keandalan armada inilah yang ditopang industri pertahanan nasional, PT PAL Indonesia.
Dalam beberapa waktu terakhir, KRI kembali dikerahkan dalam berbagai operasi SAR. Mulai dari pencarian KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa oleh KRI I Gusti Ngurah Rai-332, evakuasi korban KM Mutiara Sentosa 2, hingga pencarian korban hilang di Selat Sunda.
Yang paling menyita perhatian, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 berhasil menyelamatkan 11 warga negara Papua Nugini yang hanyut di Samudera Pasifik saat dalam misi kemanusiaan menuju Vanuatu.
Berbagai penugasan itu membuktikan KRI bukan hanya alat tempur penjaga kedaulatan, tetapi juga penyelamat di situasi darurat.
“Kondisi andal itu tidak dibangun dalam waktu singkat. Sebuah kapal butuh pemeliharaan berkala, pembaruan sistem, dan integrasi teknologi agar tetap relevan sepanjang masa operasinya,” tulis manajemen PT PAL, Minggu (5/10/2026).
Kemitraan strategis TNI AL dan PT PAL menjadi kunci. Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali menyebut, lebih dari 50 persen kapal TNI AL merupakan hasil pembangunan dan kerja sama dengan PT PAL.
“TNI Angkatan Laut dengan PT PAL merupakan kemitraan strategis, yang sama-sama ingin membangun industri maritim yang mandiri. Sinergi ini sangat penting menciptakan kekuatan maritim yang tangguh,” ujar Muhammad Ali saat kunjungan ke PT PAL Mei lalu.
Direktur Utama PT PAL, Kaharuddin Djenod, menegaskan membangun kekuatan armada bukan sekadar menghadirkan kapal.
“Yang terpenting memastikan kapal memiliki kesiapan dan keandalan di setiap penugasan. Karena itu kemampuan pembangunan, integrasi teknologi, hingga pemeliharaan harus terus diperkuat di dalam negeri,” katanya. (onny)








Komentar